Notice bibliographique
مِفْتَاحُ المَوَاهِبِ الزَّمَانِيَةِفِي الجَوَابِ عَنِ الأَسْئِلَةِ الثَّمَانِيَةِ
Description
Kitab *Miftāḥ al-Mawāhib az-Zamāniyyah fī al-Jawāb ‘an al-As’ilah ath-Thamāniyyah* termasuk karya-karya yang mencerminkan sisi penting dari korespondensi ilmiah dan penelitian fikih dalam lingkungan Maghrib yang terkait dengan ṭarīqah Tijāniyyah. Kitab ini disusun oleh al-‘allāmah al-‘ārif billāh Sayyidī Ahmad ibn al-Hāj al-‘Ayyāshī Skayrij al-Khazrajī al-Anshārī sebagai jawaban atas delapan pertanyaan yang dikirim oleh mantan sultan Maroko Mawlāy ‘Abd al-Ḥafīẓ ibn al-Ḥasan al-‘Alawī kepada penulis dari pengasingannya di Paris pada tahun 1353 H / 1934 M.
Pertanyaan-pertanyaan ini membahas masalah-masalah rinci yang terkait dengan urusan ṭarīqah Tijāniyyah dan ketentuan-ketentuan praktisnya, seperti syarat-syarat zikir *Jawharat al-Kamāl*, hukum-hukum zikir yang terkait dengan zikir Jumat, masalah-masalah yang berhubungan dengan wadhīfah dan awrād, serta kedudukan sebagian tokoh-tokoh jalan; di samping masalah-masalah finansial dan organisatoris yang menyangkut hubungan para muqaddam dengan para murid, dan berbagai transaksi yang terjadi di dalam zawiyah-zawiyah.
Teks ini menyingkap sifat dialog ilmiah antara sultan dan para ulama, sekaligus mencerminkan kedudukan al-‘allāmah Sayyidī Ahmad Skayrij sebagai rujukan dalam persoalan-persoalan jalan dan ketentuan-ketentuannya. Melalui jawaban-jawaban ini tampak metodologi penulis dalam ber-istidlāl dan menjelaskan, dengan bersandar pada nash-nash ṭarīqah dan ucapan para tokoh besarnya, dalam kerangka yang menghimpun fikih dan tasawuf.
Kitab ini juga menyajikan bahan yang berguna untuk mengkaji hubungan antara otoritas politik dan para ulama di Maroko; sebab Sultan Mawlāy ‘Abd al-Ḥafīẓ sendiri termasuk ulama dan sastrawan, memiliki karya-karya dalam fikih, bahasa, dan tasawuf, dan termasuk orang yang berafiliasi kepada ṭarīqah Tijāniyyah setelah beliau kembali berpegang teguh padanya dan menulis beberapa karya tentangnya.
Karya ini dipandang sebagai dokumen ilmiah penting untuk memahami fikih praktis ṭarīqah Tijāniyyah, sekaligus menjadi contoh dari adab tanya-jawab dalam warisan Islam, di mana tampak tradisi korespondensi ilmiah yang berkontribusi dalam pemindahan pengetahuan dan penjelasan masalah-masalah rinci di antara para ulama.