Notice bibliographique
الرحلة لتدشين مسجد باريس
Description
Buku ini dipandang sebagai salah satu rihlah yang istimewa dalam khazanah sang ‘allāmah, qāḍī, dan adīb, Sīdī Aḥmad ibn al-Ḥājj al-‘Ayyāshī Skīrj; karena ia mendokumentasikan partisipasinya dalam sebuah peristiwa menonjol dari peristiwa-peristiwa sejarah Islam modern, yakni peresmian Masjid Paris pada tahun 1344 H/1926 M. Pentingnya rihlah ini bersumber dari bertemunya lebih dari satu unsur di dalamnya: dimensi historis yang terkait dengan pembukaan sebuah monumen Islam besar di Eropa; dimensi sastra yang termanifestasi dalam pengungkapan rihlah dan puitik; serta dimensi ruhani yang berhubungan dengan madih nabawi dan identitas tasawuf sang penulis.
Dan kajian yang menyertai buku ini menerangkan bahwa sang ‘allāmah Skīrj termasuk di antara tokoh-tokoh Maroko paling awal yang diundang untuk menghadiri upacara peresmian; bahkan kepadanya diserahkan sebuah tugas yang berdaya simbolik besar, yaitu menyampaikan khutbah Jumat pertama di masjid itu dan mengimami orang-orang di dalamnya, dengan kehadiran tokoh-tokoh terkemuka dari Maroko maupun dari luar. Ini menyingkap kedudukan ilmiah dan kesusastraan yang dinikmati sang penulis pada masanya, serta kepercayaan yang diletakkan padanya untuk mewakili kehadiran Maroko dan Islam dalam perhelatan ini.
Rihlah ini tidak berhenti pada penggambaran upacara peresmian semata; melainkan meluas hingga memperkenalkan sejumlah tokoh Maroko yang menghadiri peristiwa itu dari berbagai kota, seperti Fes, Salé, Rabat, dan Dukālah; di antaranya ada tokoh-tokoh yang terkait dengan tarekat Tijaniyah atau mewakili sebagian institusinya. Hal ini memberi teks tersebut dimensi dokumenter yang penting untuk memahami jejaring kehadiran Maroko dalam peristiwa ini. Buku ini juga menyingkap satu sisi dari kaitan-kaitan antara elite ilmiah, kesusastraan, dan administratif di Maroko pada fase itu.
Di antara karakteristik paling menonjol dari teks ini ialah hadirnya madih nabawi secara kuat di jantung pengalaman rihlah. Sang penulis tidak sekadar mengunjungi kota-kota Prancis yang dilaluinya setelah peresmian berakhir; melainkan menjadikan perhentian-perhentian itu sebagai kesempatan untuk melantunkan qasidah-qasidah pujian kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, sebagaimana tampak dalam syair-syairnya yang ia gubah di Vichy, Bordeaux, Lyon, dan Marseille. Dengan demikian, rihlah ini keluar dari sekadar pencatatan peristiwa-peristiwa perjalanan menuju sebuah teks sastra dan ruhani yang membawa jejak mahabbah nabawiyah di ruang Eropa modern.
Sisi puitik ini menambahkan pada buku ini nilai sastra yang jelas; karena di dalamnya rihlah berdampingan dengan qasidah, penyaksian berdampingan dengan pelantunan, dan deskripsi berdampingan dengan perenungan. Ia juga menyingkap satu sifat yang dikenal dalam produksi Sīdī Aḥmad Skīrj: kemampuan memadukan khithabah, penulisan, dan syair dalam satu waktu, seraya memfungsikan perangkat-perangkat itu untuk melayani makna keagamaan dan rasa batin.
Dan dari sisi lain, teks ini menyediakan bagi peneliti bahan yang bermanfaat untuk mengkaji representasi para ulama Maroko tentang Eropa pada paruh pertama abad kedua puluh, serta cara mereka berinteraksi dengan pemandangan pembangunan, kota-kota, dan perbedaan peradaban, tanpa kehilangan rujukan Islam dan rujukan ruhani mereka. Karena itu, buku ini berguna bagi mereka yang menaruh minat pada Moroccan Sufism, sastra rihlah, sejarah kehadiran Islam di Prancis, dan dimensi kultural yang terkait dengan Masjid Paris.
Dengan demikian, Rihlah untuk peresmian Masjid Paris bukan sekadar catatan sebuah kesempatan resmi; melainkan dokumen sastra, sejarah, dan ruhani sekaligus, yang menghimpun peristiwa Islam bertaraf internasional, representasi Maroko, ruh Tijaniyah, madih nabawi, dalam sebuah teks yang dengan jelas termasuk dalam classical Islamic travel literature dan Tijani heritage.