Notice bibliographique
النَّفَحَاتُ الرَّبَّانِيَّة، فِي الأَمْدَاحِ التِّجَانِيَة
Description
Kitab “Nafahāt Rabbāniyyah, tentang Pujian-pujian Tijāniyyah” dipandang sebagai salah satu diwan pokok dalam syair sang ‘allāmah, sang ‘ārif billāh, Abū al-‘Abbās Sayyidī Aḥmad bin al-ḥājj al-‘Ayyāshī Sukayrij al-Khazrajī al-Anṣārī. Ia adalah diwan yang berada di inti khazanah puitik ṭarīqah Tijāniyyah, baik dari segi temanya, maupun dari segi lingkungan spiritual dan ilmiah yang melahirkannya, maupun dari segi fungsi ekspresif yang diembannya dalam adab sufistik Maroko.
Diwan ini menyingkap keterpautan pengarang yang dini dan mendalam kepada Syekh Abū al-‘Abbās al-Tijānī raḍiyallāhu ‘anhu, serta hubungan eratnya dengan zāwiyah Tijāniyyah besar di Fes, dan dengan para a‘lām ṭarīqah serta masyāyikhnya yang darinya ia menerima ilmu, tarbiyah, dan dhawq. Karena itu, pujian-pujian ini tidak dipahami sebagai ciptaan sastra yang semata-mata, melainkan sebagai buah dari sebuah pertumbuhan yang utuh dalam lingkungan Tijāni, dan sebagai salah satu wujud kesetiaan ruhani dan ilmiah kepada manhaj syekh dan jejak-jejaknya.
Diwan ini berhubungan dengan tujuan madḥ—tujuan yang paling menonjol dalam syair Sukayrij secara umum—namun kitab ini khas karena memperluas lingkup “pujian-pujian Tijāniyyah” dan tidak membatasinya pada memuji Syekh Abū al-‘Abbās al-Tijānī semata; bahkan memasukkannya ke dalam cakrawala yang lebih luas bagi segala sesuatu yang terkait dengan ranah Tijāni: makna-makna, sosok-sosok, dan konteks-konteksnya. Dari sisi ini, ia berbeda dari sebagian diwan lainnya yang lebih khusus, dengan tetap mempertahankan sentralitas yang jelas bagi pujian kepada Syekh al-Tijānī, manāqibnya, maqāmnya, dan jejak-jejak rohaninya.
Dalam qasidah-qasidah diwan ini tampak beragam kekhasan artistik dan wijdānī, di antaranya: banyak teks dibuka dengan muqaddimah wijdānī yang didominasi cinta, kerinduan yang menggelora, rindu, dan wajd, sebelum beralih kepada tujuan madḥ dan sanjungan, lalu ditutup dengan tawassul serta permohonan maaf dan penerimaan. Qasidah-qasidah itu juga memuat pemaparan manāqib syekh, karāmah-karāmahnya, dan kekhususan-kekhususannya, disertai penggambaran yang hidup tentang hubungan murid dengan syekhnya, dalam sebuah wacana yang menghimpun cinta, pengagungan, kefakiran, dan pengharapan.
Teks kajian itu juga menyingkap keragaman cara membangun qasidah pada Sukayrij: kadang ia masuk ke tujuan madḥ secara langsung; kadang ia memulainya dengan muqaddimah wijdānī yang panjang; kadang ia berbicara dengan lisan sebuah maqām atau zāwiyah dari zāwiyah-zāwiyah ṭarīqah, sebagaimana dalam qasidah-qasidahnya yang ia susun dengan lisan zāwiyah Tijāniyyah di Salā atau di Tilimsān. Ini memberi diwan tersebut kekayaan dalam pembentukan puitik, dan menjadikannya bahan penting untuk mengkaji syair sufistik dari sisi bangunan, penerimaan, dan fungsi.
Diwan ini juga menampilkan gradasi adabi sang penyair; karena ia memuat qasidah-qasidah dari tahapan-tahapan berbeda dalam hidupnya, dari awal-awal gubahannya hingga syairnya yang matang pada masa-masa selanjutnya, sehingga memungkinkan pembaca dan peneliti menelusuri perkembangan uslubnya serta kian menguatnya daya ungkap, ‘arūḍ, dan penggambarannya. Karena itu, buku ini bermanfaat bagi para peminat Tijaniyya, Moroccan Sufism, dan classical Arabic devotional poetry; sebagaimana bermanfaat bagi para pengkaji diwan-diwan sufi dan pujian-pujian yang terkait dengan zāwiyah-zāwiyah serta ikatan-ikatan ruhani di Barat Islam.