Notice bibliographique
الذَّخِيرَةُ لِلْآخِرَةِ
Description
Kitab Az-Dzakhīrah li-al-Ākhirah dipandang sebagai sebuah diwan dari diwan-diwan karya sang ‘allāmah, qāḍī, dan sastrawan, Sīdī Aḥmad bin al-‘Ayāshī Sukayrij. Ia merupakan satu halaman menonjol dari perhatian beliau yang mendalam terhadap madīḥ nabawī yang mulia, beserta segala yang terkait dengannya: menghadirkan sirah, mengilhami mukjizat-mukjizat, serta mengungkapkan cinta Muḥammadi dalam bingkai syair yang kokoh. Materi kitab ini menyingkap sosok penyair yang melebur dalam seni ini, terpengaruh oleh para tokoh besarnya seperti al-Būṣīrī dan Ibn al-Fāriḍ, seraya tetap menjaga suara khasnya sendiri dalam cakrawala sastra dan ruhani tersebut.
Dan diwan ini tersusun dari tujuh puluh qasidah, dengan jumlah keseluruhan baitnya 1016 bait; suatu bangunan angka yang memang disengaja dalam pandangan sang penyair, sebagaimana tampak dari perhatiannya pada bilangan-bilangan yang memiliki makna simbolik. Diwan ini juga ditandai oleh keragaman ‘arūḍ (metrum)-nya, karena sang pengarang memakai tujuh baḥr (wazan) syair; dengan porsi terdepan pada ṭawīl, basīṭ, dan kāmil, kemudian khafīf, wāfir, ramal, dan mutaqārib—yang menganugerahkan kekayaan ritmis yang nyata bagi diwan ini. Sejalan dengan keragaman itu terdapat pula variasi dalam qāfiyah (rima), karena digunakan lima belas qāfiyah, dengan dominasi yang jelas pada qāfiyah nūn, lalu bā’ dan lām; hal ini menampakkan kepekaan artistik yang cermat dalam membangun qasidah dan membentuk aksen bunyinya.
Diwan ini tidak berhenti pada batas-batas ketekunan teknis bersyair semata, melainkan membuka diri pada alam sirah nabawiyah beserta peristiwa, makna, dan petunjuk yang dikandungnya. Maka madīḥ nabawī dijadikannya sebagai sarana untuk bertafakkur, mengagungkan, mendidik diri atas kecintaan kepada Nabi صلى الله عليه وسلم, dan meneladaninya. Karena itu, ia bukan sekadar kumpulan qasidah yang tercerai-berai, melainkan sebuah diwan dengan kesatuan tema yang jelas, yang termasuk ke dalam adab Islam klasik, serta memantulkan satu sisi penting dari spiritual heritage yang terkait dengan madīḥ nabawī dalam lingkungan Maroko dan Tijaniyyah.
Nilai penting diwan ini semakin bertambah melalui keterangan yang termuat dalam kajian pendamping tentang penentuan masa penyusunannya: sang pengarang memulai penulisan qasidah-qasidahnya pada tahun 1339 H/1920 M, dan menyelesaikannya dalam dua tahap ketika beliau menjabat sebagai qāḍī di kota Wujdah. Data ini juga menganugerahkan nilai dokumenter bagi kitab tersebut, dari segi keterkaitannya secara langsung dengan perjalanan ilmiah dan fungsional sang pengarang, serta dengan keadaan-keadaan yang melingkupi produksi sastranya pada tahap itu.
Dengan demikian, Az-Dzakhīrah li-al-Ākhirah adalah kitab yang sesuai bagi para pembaca dan peneliti yang menaruh perhatian pada madīḥ nabawī, syair Arab klasik, serta karya-karya Sīdī Aḥmad Sukayrij. Ia juga bermanfaat dalam mengkaji kehadiran cinta Muḥammadi di dalam warisan Tijani, dan dalam menelusuri hubungan antara syair, ibadah, dan rasa-batin dalam Moroccan Sufism dan classical Islamic literature.