Notice bibliographique
نَسَمَاتُ الأَسْحَارِ فِي نَظْمِ الأَشْعَارِ
Description
Karya ini dipandang sebagai salah satu risalah polemis yang ditulis oleh sang ‘allamah, ‘arif billah, Sidi al-‘Arabi al-‘Alami al-Lihyani, dalam konteks membela kedudukan para ulama dan orang-orang saleh, serta memperingatkan bahaya mencela mereka tanpa ilmu atau bukti yang jelas. Kitab ini hadir sebagai jawaban terhadap salah seorang faqih yang tampil memimpin pengajaran dan fatwa di kota Fes, setelah ia berlaku buruk kepada salah seorang sayyid dari kalangan asyraf, yang termasuk ahli ilmu dan kesalehan; dan syarif tersebut dikenal dengan keutamaan serta menempuh jalan Malāmatiyyah.
Faqih itu mengklaim bahwa harta halal telah lenyap pada zaman ini, dan bahwa harta yang berada di tangan manusia tidak lepas dari yang haram; ia menggunakan ucapan ini sebagai dalih untuk menyerang sebagian orang saleh yang sangat berhati-hati dalam makanan, minuman, pakaian, dan seluruh urusan mereka. Maka penulis menanggapinya dengan bantahan ilmiah yang ia susun dalam sebuah qasidah berisi tujuh belas bait; di dalamnya ia menjelaskan apa yang telah ditegaskan para fuqaha dalam masalah harta halal, serta menyebutkan cara-cara syar‘i yang dikenal untuk memperolehnya.
Namun bantahan ini tidak membuat faqih itu surut dari pendiriannya; sebab ia kembali mengajukan sanggahan atas qasidah itu seraya menegaskan klaimnya tentang punahnya harta halal, dan bahwa apa yang beredar di antara manusia pada hari ini adalah harta yang bercampur dengan yang haram, yang menurutnya menjadi mubah karena pertimbangan zaman dan kondisi. Maka menjadi keharusan bagi penulis untuk menjelaskan rusaknya ucapan ini, serta membela agama, kehormatan para ulama dan orang-orang saleh, dan syarif tersebut yang telah menjadi sasaran peremehan dan penghinaan.
Melalui karya ini, penulis menampakkan bahwa menolong agama dan kecemburuan terhadap pokok-pokok keteguhannya adalah perkara yang dituntut oleh syariat, bahkan bisa mencapai derajat wajib ketika kebatilan tampak atau syubhat menyebar. Ia juga memperingatkan dari sikap diam terhadap ucapan-ucapan yang menyentuh pokok-pokok agama atau merusak citranya, dan menerangkan bahwa pembelaan terhadap para ulama dan orang-orang saleh pada hakikatnya adalah pembelaan terhadap kehormatan ilmu dan agama.
Naskah ini merupakan contoh dari teks-teks adab polemis dalam khazanah keilmuan Maghrib, di mana berpadu gaya puitis dengan penetapan fikih dan akhlak, sehingga menjadi bantahan yang ilmiah sekaligus adabiah pada waktu yang sama. Ia juga menyingkap sisi dari tradisi para ulama dalam menjaga kedudukan ahlulilmi, serta memperingatkan bahaya mencela mereka—terlebih apabila perkara itu berkaitan dengan para sayyid dari Ahlulbait Nabi atau orang-orang yang dikenal dengan kesalehan dan istiqamah.
Diwan ini dipandang sebagai salah satu teks puitik yang bernilai sastra dan rohani dalam khazanah Maroko. Ia disusun oleh sang ‘allamah ‘arif billah, al-Qadhi Abu al-‘Abbas Sidi Ahmad Sukairij al-Khazraji al-Anshari, pada masa mudanya; maka ia menjadi cermin ruh masa itu, dengan segala vitalitas sastra, ambisi keilmuan, dan perenungan intelektual di dalamnya. Qasidah-qasidahnya—menurut kajian yang disertakan—membentang pada kurun antara 1320 H dan 1330 H, yang bertepatan kira-kira dengan 1902 M dan 1912 M; hal ini menjadikan diwan ini dokumen sastra yang memantulkan sisi dari kehidupan kultural dan ilmiah di Maroko menjelang kolonialisme.
Diwan ini menyingkap perhatian yang nyata pada madih Nabawi yang mulia; penulis membukanya dengan lima belas qasidah dalam pujian kepada junjungan kita Muhammad صلى الله عليه وسلم, beragam dalam rima, tujuan, dan bangunannya, yang menunjukkan kemantapan pijakannya dalam menggubah syair serta hubungan emosional yang mendalam yang mengikatnya dengan hadrah Muhammadiyyah. Pujian ini dalam diwan tidak datang sebagai semata-mata kerajinan sastra yang kosong; melainkan tampak di dalamnya makna tabarruk serta memohon aliran nur dan fath, sehingga syair di sini menjadi adab rohani dan ungkapan cinta serta pengagungan.
Diwan ini juga memuat qasidah-qasidah dalam pujian kepada para sayyid Ahlulbait Nabi صلى الله عليه وسلم, dan di antara yang terdepan: sayyidah kita Fathimah az-Zahra رضي الله عنها, dan sayyid kita al-‘Abbas رضي الله عنه; hal itu menampakkan hadirnya mahabbah Nabawiyyah dan pengaruh-pengaruh tarbawinya dalam membangun karya ini. Madih ini mengusung makna yang melampaui sanjungan personal menuju penyebaran nilai-nilai Muhammadi serta menghadirkan maqam-maqam kemuliaan, keberkahan, dan keteladanan.
Dan di antara hal yang paling mencolok dalam diwan ini ialah perhatiannya yang jelas pada madih Tijāni; sang penyair mengkhususkan sepuluh qasidah untuk memuji syekhnya, sang Quthb yang tersembunyi, maulana Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad at-Tijani رضي الله عنه. Di antaranya terdapat qasidah-qasidah panjang dengan napas puitik yang kuat, yang menunjukkan kedalaman nisbah rohani dan kekuatan keterikatan rasa (wijdan).XXXXX
Dengan demikian, dīwān ini termasuk ke dalam teks-teks sastra Tijāni yang menghimpun antara syair, pembinaan (tarbiyah), mahabbah, dan loyalitas ruhani.
Dan kandungan dīwān ini tidak terbatas pada itu; bahkan ia juga mencakup puji-pujian bagi putra-putra Syekh Ahmad al-Tijāni dan cucu-cucunya, serta qashīdah-qashīdah mengenai sebagian tokoh terkemuka dan para sezaman, di samping perhatian pengarang terhadap sebagian seni puitika seperti al-maqṣūrah, sehingga dīwān ini menjadi lebih luas daripada sekadar kumpulan qashīdah yang terpisah-pisah; melainkan sebuah bangunan kesusastraan yang memantulkan jejaring hubungan ilmiah, ruhani, dan adab dalam lingkungan Maroko dan Tijāni.
Karya ini memperoleh arti penting yang khas dari segi bahwa ia memadukan sastra dan sejarah ruhani, serta menyajikan bahan yang bermanfaat bagi para peneliti dalam puisi Maroko, madīḥ nabawī, khazanah Tijāni, dan sastra sufi; sekaligus membuka jendela ke pembentukan (formasi) Sīdī Ahmad Sukayrij pada masa mudanya, serta pada ciri-ciri selera adab dan ilmu dalam lingkungannya. Maka ia adalah dīwān yang sekaligus sastrawi dan ruhani: menghimpun keindahan perumusan, ketulusan nurani, dan keterhubungan teks dengan tradisi classical Islamic literature dan Tijani spiritual heritage.