Notice bibliographique
حَضْرَةُ التَّدَانِي، مِنْ شَرْحِ أَبْيَاتِ الخَتْمِ التِّجَانِي
Description
Kitab ini termasuk karya-karya awal dalam khazanah al-‘allāmah Sīdī Aḥmad Skīrj raḍiyallāhu ‘anhu, dan berada dalam perhatian khusus beliau terhadap peninggalan gurunya, al-quṭb aṣ-Ṣamadānī Abū al-‘Abbās Aḥmad at-Tījānī raḍiyallāhu ‘anhu. Di dalamnya, beliau mengkhususkan penjelasan dan pemaparan atas sebagian bait Qashidah ath-Thālib yang dinisbatkan kepada sang Syekh, dengan menampilkan kandungan makna-makna ‘irfānī yang halus, maqām-maqām ruhani yang tinggi, serta isyarat-isyarat sulūk yang memerlukan penguraian dan penjelasan.
Penulisan naskah ini kembali kepada fase awal kehidupan sang pengarang, tepatnya pada tahun 1319 H/1901 M, yakni hanya empat tahun setelah beliau berpegang teguh pada wird Tarekat Tijaniyah. Hal ini memberi kitab tersebut arti penting tersendiri, karena ia menyingkap suatu tahap awal terbentuknya “dzauq” Tijani pada diri Sīdī Aḥmad Skīrj, serta kesungguhan beliau sejak dini dalam mengkaji naskah-naskah pendiri tarekat, terutama dua kitab Jawāhir al-Ma‘ānī dan al-Jāmi‘, serta segala yang berkaitan dengan kehidupan Syekh Aḥmad at-Tījānī, karya-karyanya, sulūk-nya, dan ‘aqīdah-nya.
Pokok bahasan kitab ini bertumpu pada syarah atas mufradat dan makna potongan-potongan dari sebuah qashidah yang dinisbatkan kepada Syekh Aḥmad at-Tījānī; sebuah qashidah doa yang bersifat ‘irfānī, memuat tuntutan-tuntutan luhur, di mana sang Syekh memohon kepada Rabb-nya maqām-maqām kedekatan, pembukaan (fatḥ), ilmu ladunī, penyaksian (syuhūd), tajallī, sampai (wuṣūl), quṭbāniyyah, serta segala yang berkaitan dengan keadaan-keadaan (aḥwāl) dan anugerah-anugerah ilahi. Karena itu, kitab ini tidak terbatas pada penjelasan lafaz-lafaz puitis, melainkan membuka bagi pembaca sebuah pintu menuju kamus ruhani Tarekat Tijaniyah, dan menuju bahasa maqām-maqām dan aḥwāl dalam sastra tasawuf.
Dari bahan pendahuluan dapat dipetik bahwa qashidah ini sendiri keluar dari Syekh Abū al-‘Abbās Aḥmad at-Tījānī raḍiyallāhu ‘anhu pada masa awal umur beliau, ketika beliau berharap mencapai maqām-maqām ‘irfānī yang agung yang telah dikabarkan sebagai kabar gembira oleh sebagian syekh besar beliau, seperti Sīdī Maḥmūd al-Kurdī, dan bahwa beliau sangat meyakini kabar-kabar gembira itu, menantikan terwujudnya, hingga Allah mengabulkan beliau, mewujudkan tuntutan-tuntutan beliau, dan menambahkan bagi beliau pembukaan-pembukaan, ma‘rifah-ma‘rifah, dan martabat-martabat. Dari sini, nilai syarah ini menjadi berlipat, karena ia menghubungkan teks puitis dengan cakrawala ruhani tempat ia dilahirkan.
Syarah ini menonjol dengan gaya yang mudah dan dekat, seraya tetap menjaga kesungguhan ilmiah dan cita rasa sufistik; ia menyoroti sisi-sisi yang samar dari lafaz dan makna, lalu mendekatkannya kepada pemahaman dengan cara yang jelas. Dengan demikian, kitab ini termasuk ke dalam naskah-naskah syarah sufistik yang melayani sekaligus pembaca murīd dan peneliti, karena ia memberikan kunci-kunci untuk memahami sebuah teks Tijani awal yang memiliki corak ‘irfānī yang khas.
Kitab ini juga bermanfaat bagi para peneliti dalam Moroccan Sufism, dalam penafsiran syair sufi, dan dalam naskah-naskah pensyarah warisan Tijani, karena ia memadukan syarah atas qashidah yang dinisbatkan kepada Syekh dengan penjelasan petunjuk-petunjuk maknanya dalam cahaya budaya ruhani tarekat. Dari sisi ini, ia adalah teks penting dalam Tijani heritage, dan dalam classical Islamic literature yang terkait dengan syarah, tarbiyah, dan permohonan ‘irfānī.