Notice bibliographique
فَتْحُ البَارِي،بِشَرْحِ الحِكَمِ بِالمُذَاكَرَةِ مَعَ البَرَكَةِ عَمِّ الحَاجِّ الزْكَّارِي
Description
Kitab Fath al-Bārī, dengan syarah al-Ḥikam melalui mudhākara bersama al-Barakah ‘Amm al-Ḥājj az-Zakkārī termasuk teks yang menunjukkan wajah hidup dari pembacaan sufi yang interaktif; sebab ia tidak menyajikan syarah tradisional yang berdiri sendiri atas al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah, melainkan menyingkap sebuah proyek mudhākara dan dialog tentang makna-maknanya antara al-‘allāmah Sayyidi Ahmad Skayrij dan al-Amīn al-Ḥājj Muḥammad az-Zakkārī, salah satu tokoh terpandang Tetouan dan Tangier, yang dikenal karena keterikatannya dengan jalan kaum sufi serta perhatian pada samā‘ dan ungkapan-ungkapan أهل الإشارة.
Pentingnya kitab ini tampak pada sifatnya yang khas; ia adalah buah pertemuan ilmiah dan ruhani antara dua orang yang dipersatukan oleh cinta karena Allah, meskipun keduanya berbeda afiliasi ṭarīqah: az-Zakkārī memiliki keterhubungan dengan ṭarīqah Syādzilī-Darqāwī, sedangkan pengarang termasuk tokoh besar ṭarīqah Tijaniyyah. Dari sini, kitab ini memperoleh nilai khusus dalam sejarah tasawuf Maroko, karena ia merepresentasikan ruang mudhākara yang melampaui sensitivitas-sensitivitas ṭarīqah, di mana porosnya adalah pemahaman, isyarat, dan pencicipan makna—bukan debat yang semata-mata abstrak.
Teks ini mengungkap sebuah proyek untuk mensyarahi al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah melalui pengkajian setiap ḥikmah secara terpisah, menuliskan apa yang terlintas seputarnya berupa lintasan hati, gagasan, dan wāridāt, lalu mendiskusikannya dan memolesnya. Namun proyek ini tidak tuntas; ia tidak melampaui sebelas ḥikmah, karena keadaan yang mengitari masa tinggal pengarang di Tangier dan gejolak yang dikenal pada fase itu, disertai perpindahannya setelah itu ke Fez. Meski demikian, apa yang sampai kepada kita dari karya ini sudah cukup untuk menampakkan metode pengarang dalam membaca al-Ḥikam dan caranya mendekatkan maknanya melalui pengkajian yang hidup, bukan sekadar pemindahan dari syarah-syarah komprehensif yang mapan.
Kitab ini memuat sejumlah ḥikmah masyhur karya Ibn ‘Aṭā’illāh as-Sakandarī, seperti pembahasan tentang bersandar pada amal, tajrīd dan sebab-sebab, “sawābiq al-himam”, tadbīr, ketekunan mendesak dalam doa, janji, ta‘arruf, keberagaman amal, ikhlas, dan khumūl. Karena itu ia bermanfaat bagi peneliti al-Ḥikam al-‘Aṭā’iyyah, jalur-jalur syarah sufi Maghribi, serta relasi-relasi ilmiah dan ruhani antara para tokoh Maghrib pada awal abad keempat belas Hijriah.
Karya ini—dengan kandungan mudhākara dan penyuntingan parsial yang tidak tuntas—juga memiliki nilai dokumenter; sebab ia memperkenalkan pembaca pada pribadi al-Ḥājj Muḥammad az-Zakkārī, pada ikatan ilmiah dan rasa-wijdānī yang menghubungkannya dengan pengarang, serta pada satu jenis adab sufi yang memadukan ṣuḥbah, surat-menyurat, bahth, dan pelayanan kepada makna. Oleh karena itu, ia merupakan kitab penting dalam bidang Islamic spirituality وclassical Islamic literature وMoroccan Sufism.