Notice bibliographique

العَتَبُ وَالزَّجْر لِمَنْ وَاجَهَ أَهْلَ البَيْتِ بِالسَّبِّ وَالهَجْر

Sidi al-Arabi al-Alami al-Lahyani
Authentificateur :Muḥammad Errāḍī Guennūn

Description

Kitab ini termasuk karya-karya nasihat (wa‘ẓ) dan ilmiah yang membahas sebuah persoalan halus dari adab syar‘i dalam bergaul dengan kaum Muslimin secara umum, dan secara khusus dengan tuan-tuan kita Ahlulbait Nabawi yang mulia serta para wali Allah yang saleh. Ia disusun oleh al-‘allāmah al-‘ārif billāh Sayyidī al-‘Arabī al-‘Alamī al-Liḥyānī sebagai pengingat dan peringatan dari tergesa-gesa dalam melontarkan penilaian, dan terjatuh ke dalam mencaci, mencela, atau memutus (hubungan) tanpa ilmu dan tanpa pertimbangan.

Dalam karya ini, pengarang menjelaskan bahaya menyinggung Ahlulbait Nabawi atau mencela para wali Allah yang saleh, seraya menegaskan keharusan berhias dengan ilmu, bashīrah, dan sikap memastikan kebenaran sebelum melakukan kritik atau pengingkaran.XXXXX

Demikian pula, ia menyoroti apa yang mungkin terjerumus ke dalamnya sebagian orang terpelajar berupa penyakit-penyakit riya, cinta tampil menonjol, dan kesombongan karena ilmu; semuanya adalah perkara-perkara yang merusak ilmu dan menyeret pelakunya kepada fitnah serta buruknya kesudahan.

Kitab ini, dalam menetapkan makna-makna tersebut, bersandar pada hadis-hadis Nabi yang memperingatkan dari tergesa-gesa menuduh kaum Muslimin, khususnya apabila perkara itu berkaitan dengan para sayyid dari Ahlulbait atau dengan orang-orang yang dikenal dengan kesalehan dan kewalian. Penulis menegaskan bahwa berburuk sangka kepada kaum Muslimin adalah pintu yang berbahaya, dan bahwa memutuskan hukum atas manusia tidak semestinya dibangun di atas lahiriah yang semata tanpa pengetahuan atau verifikasi.

Ia juga menjelaskan bahwa para wali Allah bisa jadi keluar dari mereka perbuatan-perbuatan yang lahiriahnya tampak tercela, sementara batinnya terpuji, atau berdiri di atas hikmah-hikmah Ilahi yang tidak dipahami oleh banyak orang. Dari sini penulis mendorong untuk bersikap tenang dan berserah diri kepada Allah Ta‘ala pada tempat-tempat semacam ini, serta berhati-hati agar tidak terjatuh ke dalam sikap mengingkari atau menuduh.

Kitab ini juga membahas hakikat ilmu yang bermanfaat, dengan menjelaskan bahwa ia adalah ilmu yang memperkenalkan manusia kepada Tuhannya dan kepada dirinya sendiri, serta menambahnya rasa takut (khasy-yah) dan tawaduk; bukan ilmu yang dicari demi dunia, demi kedudukan, atau demi bermegah-megahan. Maka ilmu yang tidak melahirkan khasy-yah boleh jadi menjadi malapetaka bagi pemiliknya dan sebab bertambahnya fitnah.

Penulis menutup kitabnya dengan menegaskan pentingnya menjaga lisan dan memeliharanya dari ucapan keji dan kata-kata kotor, serta dari setiap perkataan yang tidak tampak di dalamnya kemaslahatan syar‘i. Sebab diam, pada banyak tempat, adalah keselamatan; dan mengekang lisan termasuk kewajiban yang paling agung atas penuntut ilmu dan atas setiap Muslim.

Kitab ini dipandang sebagai sebuah risalah akhlak dan ilmiah tentang adab kritik syar‘i, serta tentang pengagungan Ahlulbait dan para wali Allah. Ia adalah salah satu teks dari khazanah tasawuf dan keilmuan di Maghrib, yang memantulkan sisi dari adab para ulama dalam menyikapi persoalan-persoalan khilaf dan pengingkaran.

#أهل البيت النبوي#Ahl al Bayt in Islam#أولياء الله الصالحون#Sufism and Islamic spirituality#Moroccan Sufism#آداب النقد في الإسلام#classical Islamic spirituality