Skiredj Library of Tijani Studies
Memahami Teks-Teks Utama yang Ditulis Pada Masa Hidup Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, dan semoga salawat serta salam tercurah kepada junjungan kita Muhammad, Sang Pembuka, Sang Penutup, Sang Pemenang, Sang Pemberi Petunjuk, juga kepada keluarga dan para sahabat beliau.
Di antara pertanyaan yang paling penting berkenaan dengan tradisi keruhanian Tijani ialah ihwal teks-teks dasar tarekat Tijani (Tariqa Tijaniyya) dan konteks sejarah ketika teks-teks itu ditulis. Menurut ulama Sidi Mohammed Erradi Guennūn Al-Idrissi Al-Hassani, memahami karya-karya ini menuntut penelaahan cermat atas dua fase besar kehidupan Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya.
Tiga kitab pokok yang ditulis pada masa hidup Sang Syekh adalah:
Jawahir al-Ma‘ani (Mutiara-Mutiara Makna)
Al-Jami‘ (Kompilasi)
Rawd al-Muhib al-Fani (Taman Sang Pecinta yang Lenyap)
Teks-teks ini tetap menjadi di antara sumber-sumber paling otoritatif dalam tradisi Tijani hingga hari ini.
Kelahiran Tarekat Tijani di Sahara
Cahaya ruhani tarekat Tijani pertama kali tampak pada 1196 H di kota Abi Samghoun, yang terletak di Sahara. Pada waktu itu, Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī berusia 46 tahun.
Sejak saat itu, beliau membimbing jalan tersebut selama kurang lebih 34 tahun hingga wafatnya.
Masa ini dapat dibagi menjadi dua fase besar:
Periode Gurun (17 tahun)
Periode Fez (17 tahun)
Pada fase pertama, Syekh al-Tijani terutama tinggal di kawasan-kawasan Sahara antara:
Abi Samghoun
Chellala
Aïn Madhi
Pada masa inilah mayoritas tulisan dasar tarekat Tijani dicatat.
Periode Gurun: Ketika Teks-Teks Inti Ditulis
Tiga karya utama tradisi Tijani pada umumnya ditulis pada fase awal di gurun ini, sebelum Syekh al-Tijani menetap secara permanen di Fez pada 1213 H.
Hanya sejumlah sangat kecil bagian dari karya-karya ini yang ditulis kemudian di Fez. Mayoritas besar prinsip, ajaran, dan fondasi tarekat Tijani dicatat pada tahun-tahun di gurun.
Bahkan pada masa itu pun, tidak semuanya didokumentasikan.
Khalifah agung Sidi al-Hajj Ali Harazim Barada, penulis Jawahir al-Ma‘ani, secara terbuka menyatakan bahwa apa yang ia catat hanyalah sebagian kecil dari ajaran yang ia dengar dari Sang Syekh.
Dengan kata lain, banyak pengetahuan ruhani yang ditransmisikan pada masa itu tetap tidak tertulis.
Fase Kedua: Syekh al-Tijani di Fez
Ketika Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī berpindah ke Fez, yang pada masa itu merupakan ibu kota keilmuan dan administrasi Maroko, sifat misi beliau memasuki fase baru.
Walaupun kitab-kitab pokok telah ditulis, periode ini menandai peningkatan yang luar biasa dalam aktivitas ruhani dan intelektual beliau.
Menurut sumber-sumber Tijani tradisional, pada masa ini Syekh al-Tijani meraih maqam-maqam ruhani tertinggi yang terkait dengan misi beliau, termasuk:
Kutub Tertinggi (al-Qutbaniyya al-‘Uzma)
Khatam kewalian Muhammadi (al-Khatmiyya)
Kedudukan ruhani tersembunyi yang terkait dengan peran beliau dalam tradisi
Karena alasan ini, banyak ulama menggambarkan periode Fez sebagai “masa keemasan” kehidupan Syekh al-Tijani.
Namun secara paradoks, fase paling bercahaya dari kehidupan beliau ini justru yang paling sedikit didokumentasikan dalam bentuk tulisan.
Mengapa Masa Keemasan Tidak Tercatat
Sejumlah sejarawan menjelaskan bahwa ketiadaan dokumentasi ini terjadi karena sebagian sahabat terdekat Sang Syekh—mereka yang paling mampu mencatat ajaran beliau—tidak lagi hadir.
Di antara mereka adalah:
Sidi al-Hajj Ali Harazim Barada al-FassiBeliau meninggalkan Fez pada 1215 H dan kemudian wafat di dekat Badr, dekat Madinah, pada 1218 H.
Sidi Muhammad ibn al-Mashri al-SibaiSeorang ulama masyhur dari tarekat yang dalam hidupnya berpindah-pindah antara Sahara dan Fez. Ia wafat di Aïn Madhi pada 1224 H, enam tahun sebelum wafatnya Sang Syekh.
Ketidakhadiran mereka berarti banyak ajaran yang disampaikan selama periode Fez tidak pernah dicatat secara sistematis.
Sebuah Penyesalan yang Diungkapkan oleh Ulama Sidi Ahmad Sukayrij
Ulama Tijani yang terkenal, Sidi Ahmad Sukayrij, kemudian merenungkan keadaan ini.
Ia menulis bahwa seandainya umur Sidi al-Hajj Ali Harazim dipanjangkan sepuluh tahun lagi, dan seandainya ia tetap bersama Syekh al-Tijani di Fez, niscaya ia akan menghimpun suatu khazanah ilmu yang amat besar.XXXXX
Menurut Sukayrij, ajaran-ajaran, wawasan-wawasan, pembukaan-pembukaan ruhani, dan makna-makna halus yang diungkapkan oleh Sang Syekh pada masa itu demikian luas, sehingga akal-akal manusia akan kesulitan memahami seluruh cakupannya secara utuh.
Ia juga mencatat bahwa sebagian ulama gagal merekam ajaran Sang Syekh karena dua alasan:
kesantunan yang amat dalam dan rasa takzim di hadirat beliau
ketidakpekaan terhadap pentingnya mendokumentasikan kata-kata beliau
Yang lain semata-mata bersandar pada materi yang telah dicatat pada masa gurun sebelumnya.
Intensitas Pengajaran Syekh al-Tijani di Fez
Walaupun tidak ada karya-karya tertulis, periode Fez merupakan salah satu masa dengan aktivitas intelektual yang luar biasa.
Ulama Sidi Muhammad al-Hajouji al-Hasani menukil sebuah kesaksian dari ulama Sidi Ahmad Bennani, yang mengatakan bahwa Sang Syekh akan mendiktekan ilmu yang sedemikian mendalam sehingga ia terkadang merasa tak kuasa menanggung kedalaman kebenaran-kebenaran yang sedang dijelaskan.
Gambaran ini mencerminkan gagasan bahwa Syekh al-Tijani telah menjadi sebuah samudra pengetahuan yang luas, yang terus-menerus memancarkan isyarat-isyarat ruhani dan intelektual kepada para muridnya.
Satu-satunya Karya dari Periode Terakhir
Walaupun karya-karya besar telah selesai disusun pada masa sebelumnya, satu teks penting dari periode akhir tetap ada:
Al-Ifada al-Ahmadiyya li-Muridi al-Sa‘ada al-Abadiyya
Kitab ini ditulis oleh ulama mulia Sidi al-Tayyib al-Sufyani.
Sekalipun tidak mencapai keluasan komprehensif dari tiga karya pokok, kitab ini tetap sangat bernilai karena ia melestarikan pernyataan-pernyataan singkat, riwayat-riwayat, dan ajaran-ajaran dari Sang Syekh pada tahun-tahun terakhir beliau.
Naskah yang Hilang karya Sidi Muhammad al-Hajouji
Pernah ada karya lain yang juga amat menonjol.
Ulama Sidi Muhammad al-Hajouji menghimpun sebuah kitab yang mengumpulkan fatwa-fatwa, ajaran-ajaran, dan ucapan-ucapan Syekh al-Tijani yang disampaikan di Fez.
Naskah ini pernah dilihat dan dibaca oleh para ulama generasi kemudian. Namun, setelah dipamerkan di antara naskah-naskah pada konferensi Tijani internasional pertama yang diselenggarakan di Fez pada tahun 1983, naskah itu lenyap.
Walaupun telah bertahun-tahun dicari, keberadaannya masih tidak diketahui.
Kesimpulan
Warisan intelektual Tarekat Tijani berakar kuat pada tiga karya pokok yang ditulis pada periode gurun:
Jawahir al-Ma‘ani
Al-Jami‘
Rawd al-Muhib al-Fani
Teks-teks ini merekam ajaran-ajaran esensial tarekat itu pada tahun-tahun awal kemunculannya.
Kemudian, ketika Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī menetap di Fez, pengaruh ruhani beliau mencapai puncak perwujudannya. Namun ajaran-ajaran dari periode terakhir yang bercahaya ini hanya tercatat sebagian, terutama karena ketiadaan para sahabat yang sebelumnya mendokumentasikan kata-kata beliau.
Meski demikian, melalui karya-karya yang masih bertahan seperti Al-Ifada al-Ahmadiyya dan tulisan-tulisan para ulama Tijani generasi kemudian, sekelumit dari masa yang luar biasa ini terus menerangi sejarah dan spiritualitas Tarekat Tijani.
++++