Skiredj Library of Tijani Studies
Wirid-wirid jalan Tijaniyyah menempati posisi sentral dalam kehidupan spiritual para pengikutnya. Di antara wirid-wirid itu, perhatian khusus diberikan kepada Salat al-Fatihi limā Ughliqa, yang dalam tradisi Tijani dikenal sebagai Permata Delima Tunggal (al-Yaqutat al-Farida).
Para ulama jalan Tijani telah menuturkan banyak penjelasan mengenai asal-usulnya, kedudukan spiritualnya, dan ganjaran amat besar yang terkait dengan pembacaannya.
Ajaran-ajaran ini tampak dalam karya-karya klasik seperti Jawahir al-Maʿani, Al-Jamiʿ, dan teks-teks otoritatif lainnya dari tradisi Tijani.
Asal-usul Salat al-Fatihi limā Ughliqa
Menurut riwayat-riwayat yang ditransmisikan dari para masyayikh jalan Tijani, shalawat ini memiliki asal-usul yang unik.
Diriwayatkan bahwa maha guru ruhani Sidi Muhammad al-Bakri al-Siddiqi, seorang quthub ruhani Mesir yang termasyhur, mencurahkan dirinya kepada Allah dalam waktu yang panjang. Pada masa itu ia berulang kali memohon kepada Allah agar menganugerahinya suatu shalawat atas Nabi Muhammad yang mencakup hakikat dan pahala seluruh shalawat atas Nabi.
Permohonannya akhirnya dikabulkan.
Seorang malaikat turun kepadanya dengan shalawat itu tertulis pada gulungan yang bercahaya, yang ia terima sebagai karunia ilahi.
Para ahli ma‘rifah memandang peristiwa semacam itu termasuk ke dalam ranah ilham ilahi (ilham) yang dianugerahkan kepada para wali.
Peristiwa serupa diriwayatkan dalam biografi para guru ruhani agung lainnya, seperti Abu Abdullah Qadib al-Ban dan yang lainnya di antara para ‘arif billah.
Pengenalan atas Tulisan Ilahi
Ulama Abd al-Wahhab al-Shaʿrani menyebutkan dalam karyanya Al-Yawaqit wa al-Jawahir sebuah kriteria yang disebutkan oleh Ibn Arabi dalam Al-Futuhat al-Makkiyya.
Menurut penjelasan ini, tulisan yang datang dari Hadrah Ilahiah memiliki sifat yang khas: ia dapat dibaca dari setiap arah tanpa perubahan. Ketika lembaran dibalik, tulisan itu tampak berorientasi dengan benar dari segala arah.
Ibn Arabi sendiri melaporkan bahwa ia menyaksikan sebuah lembaran semacam itu yang turun kepada seorang ahli ibadah di dekat Ka‘bah di Makkah, yang memberinya kebebasan dari Api. Ketika orang-orang melihat lembaran itu, mereka mengenali bahwa tulisannya bukan dari kerja makhluk.
Keutamaan yang Amat Besar dari Salat al-Fatihi
Para masyayikh jalan Tijani menggambarkan keutamaan shalawat ini sebagai sesuatu yang melampaui pemahaman manusia secara sempurna.
Syaikh Sīdī Aḥmad al-Tijānī menyatakan bahwa sekalipun seluruh penghuni langit dan bumi berkumpul untuk menguraikan pahalanya, mereka tidak akan mampu mengungkapkannya secara penuh.
Karena keutamaan yang demikian besar ini, para masyayikh thariqah menganjurkan orang-orang beriman yang mencari keberuntungan spiritual agar mencurahkan diri pada pembacaannya.
Kesaksian Syaikh Sīdī Aḥmad al-Tijānī
Dalam kitab Jawahir al-Maʿani, Syaikh Sīdī Aḥmad al-Tijānī menuturkan sebuah peristiwa penting dari pengalaman beliau sendiri.
Sepulang dari haji ke Makkah, beliau mencurahkan diri pada pembacaan Salat al-Fatihi, setelah mendengar bahwa satu kali pembacaan setara dengan pahala enam ratus ribu shalawat atas Nabi.
Kemudian beliau menjumpai shalawat lain yang dikatakan setara dengan tujuh puluh ribu kali khatam Dalā'il al-Khayrāt, lalu beliau pun mulai membaca shalawat itu sebagai gantinya.
Pada saat itu, Nabi Muhammad menampakkan diri kepada beliau dan memerintahkannya untuk kembali kepada Salat al-Fatihi.
Ketika Syaikh Sīdī Aḥmad al-Tijānī bertanya tentang keutamaannya, Nabi mengabarkan kepadanya bahwa:
satu kali pembacaan setara dengan pahala al-Qur’an yang dibaca enam kali
satu kali pembacaan setara dengan seluruh bentuk dzikir di alam semesta enam ribu kali
Kedudukan Spiritual yang Unik
Menurut Syaikh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, kedudukan shalawat ini dalam ganjaran spiritual hanya dilampaui oleh satu perkara:
doa dengan Nama Allah Yang Mahabesar (Al-Ism al-Aʿzam).
Selain doa yang tertinggi itu, tidak ada amal ibadah yang mencapai tingkat yang sama seperti Salat al-Fatihi limā Ughliqa.
Karena itu, para masyayikh jalan Tijani menekankan bahwa keutamaannya tidak dapat diukur melalui perbandingan biasa.
Allah menganugerahkan karunia-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, sebagaimana dinyatakan dalam al-Qur’an:
"And He creates what you do not know."(Qur’an 16:8)
Deskripsi Luar Biasa tentang Ganjarannya
Di antara deskripsi yang ditransmisikan dalam ajaran Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī terdapat beberapa ungkapan simbolik yang dimaksudkan untuk menggambarkan betapa besar ganjarannya.
Sebagai contoh, beliau menjelaskan bahwa seandainya seseorang membayangkan:
seratus ribu bangsa
setiap bangsa terdiri atas seratus ribu kabilah
setiap kabilah terdiri atas seratus ribu individu
setiap individu hidup selama seratus ribu tahun
setiap orang mengirimkan shalawat kepada Nabi setiap hari
maka total ganjaran dari seluruh doa itu tetap tidak akan menyamai ganjaran dari satu kali pembacaan Salat al-Fatihi limā Ughliqa.
Deskripsi semacam itu bertujuan menyampaikan sifat kemurahan Ilahi yang tak terukur.
Pelipatan Spiritual atas Ganjaran
Ulama Sidi Muhammad ibn al-Mashri menjelaskan dalam Al-Jamiʿ bahwa ganjaran shalat ini bertambah pada setiap pembacaan.
Pembacaan pertama membawa ganjaran yang setara dengan enam ratus ribu shalat.
Pembacaan kedua melipatgandakan ganjaran lebih jauh lagi.
Setiap pembacaan berikutnya melampaui yang sebelumnya dalam ganjaran, terus berlanjut tanpa batas.
Pelipatan yang berkesinambungan ini berlaku bagi shalat para malaikat, manusia, dan jin.
Tingkatan-Tingkatan Tersembunyi dari Doa Ini
Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī menjelaskan bahwa Salat al-Fatihi limā Ughliqa memiliki beberapa tingkatan spiritual.
Sebagian riwayat menyebutkan tujuh atau delapan tingkatan.
Penjelasan yang diberikan kepada para murid hanya menyangkut tingkatan pertama, yang dikenal sebagai tingkatan lahir.
Tingkatan-tingkatan yang lebih dalam tetap tersembunyi, karena hakikatnya termasuk dalam pengetahuan gaib yang disimpan oleh Allah.
Nabi sendiri mengabarkan kepada Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī bahwa rahasia penuh doa ini tersimpan dalam khazanah-khazanah gaib dan dianugerahkan secara khusus kepadanya.
Doa yang Terjaga dari Pembatalan
Satu ciri menonjol yang disebutkan oleh para masyayikh tarekat Tijani adalah bahwa ganjaran doa ini tidak terkena pembatalan (ihbat) sebagaimana amal-amal lain dapat mengalaminya.
Karena ia berasal dari alam Ilahi yang gaib, keutamaannya tetap terpelihara.
Karakteristik ini saja dipandang sebagai salah satu keistimewaan terbesarnya.
Syarat untuk Memperoleh Keutamaannya Secara Penuh
Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī menyebutkan bahwa keutamaan penuh doa ini diperoleh dengan dua syarat utama:
Menerima izin (idhn) dalam tarekat Tijani.
Meyakini bahwa doa ini berasal dari Allah, serupa dengan hadis qudsi, bukan merupakan karangan manusia.
Bahkan tanpa otorisasi ini, seseorang tetap dapat memperoleh ganjaran karena membacanya. Namun, faedah-faedah spiritual khusus yang terkait dengan transmisi Tijani terikat pada izin yang semestinya.
Ketekunan dalam Membaca Doa Ini
Para masyayikh tarekat Tijani menekankan pentingnya ketekunan dalam pembacaan.
Menurut Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, ketekunan terwujud dengan membaca Salat al-Fatihi setidaknya sekali setiap hari.
Beliau menjelaskan bahwa siapa yang menjaga amalan ini dengan ikhlas akan wafat dalam keadaan beriman.
Keutamaan Pernyataan “La ilaha illa Allah”
Bersama shalawat kepada Nabi, pernyataan tauhid:
La ilaha illa Allah(Tiada tuhan selain Allah)
menempati kedudukan tertinggi di antara zikir-zikir.
Para masyayikh ilmu lahir dan batin sepakat bahwa kalimat ini adalah kata yang paling bermanfaat yang dapat diucapkan seorang hamba pada saat menjelang wafat.
Nabi Muhammad bersabda:
“Orang yang paling bahagia di antara manusia melalui syafaatku pada Hari Kiamat ialah orang yang mengucapkan ‘La ilaha illa Allah’ dengan tulus dari hatinya.”
Banyak riwayat kenabian menggambarkan betapa besar bobot pernyataan ini.
Dalam satu riwayat yang masyhur, Musa memohon kepada Allah suatu zikir khusus.
Allah memerintahkannya untuk mengucapkan:
“La ilaha illa Allah.”
Musa menjawab bahwa semua orang beriman mengucapkan ini.
Allah menjawab bahwa seandainya tujuh langit dan tujuh bumi diletakkan pada salah satu sisi timbangan dan La ilaha illa Allah pada sisi yang lain, niscaya ia akan lebih berat daripada semuanya.
Peran Sentral Awrad Tarekat Tijani
Dalam tarekat Tijani, mengingat Allah melalui Wird, Wazifa, Haylala, dan Salat al-Fatihi membentuk suatu disiplin spiritual yang utuh.
Awrad ini memadukan:
memohon ampunan
shalawat kepada Nabi
penegasan tauhid
Bersama-sama, semuanya menuntun murid menuju penyucian hati dan kedekatan kepada Allah.
KesimpulanLitania-litania tarekat Tijāniyyah menempati kedudukan yang terhormat dalam spiritualitas Islam.
Di antara litania tersebut, Ṣalāt al-Fātiḥi limā Ughliqa memiliki status yang unik karena martabat ruhaniahnya yang luar biasa serta pahala besar yang terkait dengan pembacaannya.
Bagi para murid tarekat Tijāni, litania-litania ini bukan semata-mata formula devosi, melainkan sebuah metode ruhani yang terstruktur, ditransmisikan dari generasi ke generasi para masyayikh.
Melalui pengamalan yang tekun dan berkesinambungan, para mukmin menempuh jalan penyucian, zikir kepada Allah, dan keberuntungan puncak, baik di dunia ini maupun di akhirat.
+++++++++++++