Skiredj Library of Tijani Studies
Nasihat, syukur, sabar, cinta kepada Nabi, dan disiplin batin jalan Tijani
Tradisi keilmuan Tijani tidak hanya memelihara doktrin-doktrin dan wirid-wirid yang diriwayatkan. Ia juga memelihara nasihat: petunjuk praktis bagi para murid, wawasan rohani tentang syukur dan doa, bimbingan tentang sabar, etika keluarga, pengagungan kepada Nabi, dan tata krama batin jalan ini.
Dalam seri ketiga Mutiara Hikmah Para Ulama Tijani ini, ajaran-ajaran di bawah diambil dari perkataan para otoritas besar Tijani, terutama Sidi Ahmad Skiredj. Tujuannya di sini ialah tetap setia sedapat mungkin kepada makna-makna asli sambil menyajikannya dalam bahasa Inggris yang jelas dan mudah dibaca. Setiap mutiara ditampilkan di bawah subjudulnya sendiri agar lebih mudah direnungkan dan dipelajari.
Nasihat yang Ditujukan kepada Kaum Tijani
Sidi Ahmad ibn al-‘Ayyashi Skiredj mengatakan bahwa hal yang paling ia tekankan kepada murid ialah menjaga awrad-nya dan sering membaca Salat al-Fatih setiap kali ia mendapatkan waktu luang, baik dalam perjalanan maupun di rumah. Ia mengatakan bahwa itu tidak boleh diganti dengan apa pun yang lain, kecuali membaca al-Qur’an dengan tartil dan perenungan. Ini, katanya, sudah mencukupi untuk kebaikan dua negeri.
Ia juga menasihati murid agar tidak menyibukkan diri dengan bentuk-bentuk zikir lain yang dikenal memiliki rahasia-rahasia luar biasa dan khasiat-khasiat khusus yang tinggi. Demi Allah, katanya, wirid-wirid rutin dari jalan ini lebih bermanfaat bagi murid daripada bahkan pembacaan Nama Yang Mahatinggi, karena pembacaannya bebas dari motif-motif terselubung.
Juga diriwayatkan dari Syaikh Sīdī Aḥmad al-Tijānī bahwa batas minimum bagi orang yang telah menghafal al-Qur’an al-Karim adalah dua hizb sehari. Inilah sebabnya kaum Tijani digambarkan termasuk orang-orang yang paling menaruh perhatian pada pembacaan dua hizb al-Qur’an setiap hari. Dikatakan bahwa pintu zawiya Tijani di Fez terbuka bagi siapa pun yang ingin menyaksikan kenyataan ini setelah salat Zuhur, dan lebih-lebih lagi setelah salat Subuh, ketika para pembaca hizb dapat ditemui di dekat mihrabnya, membaca dengan suara lantang dengan sikap yang mulia dan ketenangan yang indah.
Dalam ijaza Sidi Muhammad al-Bashir kepada putranya Sidi Mahmud, ada pula satu poin praktis tentang adab: siapa pun yang diberi otorisasi tidak boleh meletakkan tangannya secara langsung di tangan seorang perempuan yang bukan mahram pada saat transmisi.XXXXX
Melainkan, hendaknya ia menyampaikannya kepadanya melalui salah seorang mahramnya, sekalipun mahram itu bukan dari jalan Tijani.
Para ulama juga menasihati seluruh Tijani, bahkan seluruh kaum Muslimin, agar menuntut ilmu dan mengamalkannya. Ganjaran dibentuk oleh niat, dan niat itu sendiri lahir dari ilmu. Sebagai contoh, jika seseorang membaca tahlil dengan niat bahwa itu juga termasuk dari al-Qur’an, ia memperoleh dua ganjaran: ganjaran zikir dan ganjaran yang terkait dengan dimensi Qur’aninya. Tanpa niat yang berlandaskan ilmu semacam itu, ia hanya memperoleh keutamaan umum zikir tersebut. Banyak amal, kata mereka, terangkat jauh melampaui keutamaan dasarnya melalui niat.
Akhirnya, Skiredj mengatakan bahwa salah satu tanda orang yang secara batin telah memutuskan diri dari Sang Syekh ialah bahwa ia berbicara tentang ilmu-ilmu Syekh, atau menyebut Syekh, di hadapan seseorang yang tidak mengenalnya atau seseorang yang tidak mencintainya.
Keagungan Allah, Yang Suka Dimintai
Sebuah ungkapan masyhur yang dikutip para ulama berbunyi: Allah murka jika engkau meninggalkan permohonan kepada-Nya, sedangkan anak-anak Adam murka ketika mereka dimintai.
Lalu mereka mengemukakan hadis tentang seorang hamba yang berbuat dosa lalu berkata, “Wahai Tuhanku, ampunilah aku,” dan Allah berfirman bahwa hamba-Nya itu mengetahui ia memiliki Tuhan yang mengampuni dosa dan menghisab dosa. Sang hamba berbuat dosa lagi, memohon ampun lagi, dan jawaban Ilahi yang sama diulang, hingga Allah berfirman: “Aku telah mengampuni hamba-Ku, maka biarlah ia berbuat sebagaimana yang ia kehendaki,” maksudnya selama ia terus kembali dalam tobat.
Mereka juga menyebutkan bahwa ketika seorang hamba yang saleh berdoa, Jibril boleh jadi berkata: “Wahai Tuhanku, hamba-Mu si fulan, penuhilah kebutuhannya,” lalu Allah menjawab: “Biarkan hamba-Ku, karena Aku mencintai mendengar suaranya.”
Riwayat lain menyebutkan bahwa tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah daripada dimintai kesejahteraan. Para ulama menjelaskan bahwa doa itu sendiri merupakan salah satu sebab yang dengannya bala’ yang telah ditakdirkan ditolak. Sebagaimana perisai adalah sebab perlindungan dari senjata, dan air adalah sebab tumbuhnya vegetasi dari bumi, demikian pula doa adalah sebab tertolaknya musibah dan datangnya rahmat.
Namun mereka menambahkan sebuah koreksi yang halus: berpaling kepada Allah melalui zikir pada akhirnya semestinya demi keridaan-Nya, bukan demi tujuan duniawi, bahkan bukan pula demi tujuan ukhrawi.
Tanda Orang yang Kokoh Berakar dalam Ilmu
Sidi ‘Ali al-Khawwas mengatakan bahwa salah satu tanda orang yang kokoh berakar dalam ilmu ialah bahwa ia justru kian teguh ketika kemanisan ruhani dicabut darinya.
Sebabnya ialah bahwa orang semacam itu bersama Allah menurut apa yang Allah cintai, bukan bersama egonya sendiri menurut apa yang diri mencintai. Barangsiapa merasakan kelezatan dalam kehadiran ruhani namun kehilangan dirinya ketika kelezatan itu ditarik, ia masih bersama jiwanya sendiri baik dalam ketiadaan maupun dalam kehadiran.
Ini adalah tolok ukur yang ringkas namun menembus: sang ‘arif sejati tidak diukur oleh kemanisan semata, melainkan oleh keteguhan ketika kemanisan sirna.
Mempersiapkan Diri bagi Kehadiran-Kehadiran Kedekatan
Para ulama mengatakan bahwa hamba mempersiapkan dirinya bagi kehadiran-kehadiran Ilahi dengan cara-cara yang berbeda sesuai dengan corak tajalli Ilahi. Dalam keagungan, ia bersiap dengan sabar. Dalam keindahan, ia bersiap dengan syukur. Dalam kesempurnaan, ia bersiap dengan ketenangan.
Sidi al-‘Arabi ibn al-Sa’ih menjelaskan bahwa orang yang mengenal Allah tidak mengkhawatirkan dirinya saat penyempitan, karena penyempitan termasuk keagungan, dan keagungan itu aman. Sebaliknya, ia mengkhawatirkan dirinya saat kelapangan, karena kelapangan termasuk keindahan, dan keindahan tidak selalu aman. Hal yang sama berlaku bagi murid bersama syekhnya: ia tidak mengkhawatirkan dirinya pada saat-saat penyempitan, tetapi ia mengkhawatirkan dirinya pada saat-saat kelapangan, karena jika ia menjadi terlalu akrab dengan cara yang tidak pantas bagi maqam, kelapangan itu dapat membahayakannya sesuai kadar ketidakpatutan. Martabat sang Syekh itu sendiri boleh jadi tidak mengizinkannya, sekalipun sang Syekh secara pribadi memakluminya, karena martabat itu sangat cemburu.
Skiredj kemudian menyampaikan peringatan yang menggetarkan: waspadalah, wahai sahabat tercinta, terhadap mempraktikkan metode apa pun yang dimaksudkan untuk menghadirkan perjumpaan sadar dengan Nabi, shalawat dan salam atas beliau. Wadah-wadah manusia pada zaman ini, katanya, retak hanya dari sentuhan yang paling ringan sekalipun dengan apa yang dicari dalam pertemuan semacam itu di alam inderawi. Jika engkau menginginkan keselamatan bagi dirimu, cukuplah bagimu memperbanyak Salat al-Fatih. Segala puji bagi Allah atas hijab, katanya, karena pembukaan itu sukar, meskipun di dalamnya terdapat istirahat yang amat besar. Ia mengutip makna sang guru agung: pembukaan-pembukaan itu seluruhnya adalah bentuk-bentuk istirahat, namun ia juga merupakan bentuk ujian; maka jangan terlalu cepat bergembira ketika ia datang.
Ia menambahkan bahwa salah satu kelembutan Ilahi yang diperlihatkan kepada kita justru ialah bahwa kita tidak menyaksikan wajah kenabian yang mulia dalam keadaan terjaga saat pembacaan Jawharat al-Kamal.
Makna Pujian dan Salawat atas Nabi
Dikutip sebuah pertukaran yang masyhur antara al-Sari al-Saqati dan keponakannya, al-Junayd. Ketika al-Junayd ditanya apa itu syukur, ia menjawab: syukur adalah tidak bermaksiat kepada Allah dengan perantaraan nikmat-nikmat-Nya. Al-Sari menanggapi: aku khawatir satu-satunya bagianmu dari Allah hanyalah lidahmu. Para ulama kemudian menambahkan, dengan kerendahan hati, bahwa mereka berharap Allah tidak akan menghisab mereka karena kurangnya ketulusan yang sempurna.
Kemudian mereka menghamparkan renungan yang lebih luas tentang syukur. Allah telah menganugerahi manusia dengan menjaganya dan dengan mengkhususkannya dengan karunia dan kebajikan yang mendahului. Dengan amal apakah
hamba berhak atas nikmat ini ketika ketetapan-ketetapan dibagikan, pada saat ia belum ada, belum melakukan suatu perbuatan pun, dan tidak memiliki klaim apa pun? Itu adalah kemurahan murni, karunia, anugerah, dan kasih sayang.
Seandainya seorang manusia sungguh menyadari nikmat yang amat besar ini, ia akan diliputi kegembiraan dalam Allah, dicengkeram oleh cinta kepada Sang Pemberi yang Mahamulia, dan ditaklukkan oleh kelezatan dalam Dia yang mencipta dan memberi petunjuk, menganugerahkan dan menghadiahkan, memilih sejak pra-azali dan terus melakukan demikian.
Para ulama kemudian mengatakan bahwa semua manusia tenggelam dalam samudra nikmat, tetapi kebanyakan tidak bersyukur. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba dan ingin menjadikannya termasuk orang-orang pilihan-Nya, Dia membuatnya sadar akan nikmat-nikmat yang menaunginya dan mengilhamkannya untuk bersyukur. Kesadaran itu sendiri adalah pembedanya. Semua orang diberi nikmat, tetapi orang-orang pilihan ialah mereka yang menyaksikan nikmat.
Karena itu, mereka menyebut syukur sebagai salah satu pintu terbesar menuju Allah dan jalan-Nya yang paling lurus. Setan duduk di atas jalan ini untuk memalingkan orang-orang beriman darinya. Terutama pada zaman ini, kata mereka, pintu syukur termasuk di antara pintu yang paling dekat menuju Allah, karena jiwa-jiwa telah menjadi kasar. Banyak orang tidak lagi tergerak oleh riyadhah ruhani, ketaatan, muhasabah, atau nasihat. Tetapi ketika mereka tenggelam dalam kegembiraan kepada Sang Penganugerah nikmat, mereka dipindahkan melintasinya dengan cara yang lain.
Mereka menunjukkan bahwa dalam al-Qur’an, janji-janji Ilahi biasanya dikaitkan dengan kehendak Ilahi, kecuali syukur. Allah berfirman: “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu,” dengan ungkapan yang menegaskan. Mereka juga mencatat bahwa Allah mendahulukan syukur atas iman dalam ayat: “Apa gunanya Allah menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman?” Dari sini mereka menyimpulkan bahwa iman itu sendiri terikat pada kegembiraan kepada Sang Pemberi, dan bahwa syukur hati tidak terpisahkan dari iman yang nyata.
Mereka melanjutkan: ketika seseorang sungguh menyadari bahwa semua nikmat berasal dari Allah, cinta kepada Allah niscaya mengikutinya, karena hati secara alami tergerak untuk mencintai siapa pun yang berbuat baik kepadanya. Dan ketika cinta menjadi tegak, perbuatan-perbuatan Sang Kekasih dipandang dalam cahaya yang sama sekali berbeda.
Nabi, shalawat dan salam atas beliau, berdiri dalam salat hingga kedua telapak kaki beliau yang mulia bengkak. Ketika beliau diberi tahu bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang, beliau menjawab: “Tidakkah aku menjadi hamba yang bersyukur?”
Mereka juga mencatat bahwa bahkan cobaan menyembunyikan nikmat di dalamnya. ‘Umar, semoga Allah meridai beliau, berkata bahwa setiap kali suatu musibah menimpanya, ia melihat tiga nikmat di dalamnya: pertama, bahwa itu tidak mengenai agamanya; kedua, bahwa itu tidak lebih besar daripada yang terjadi; dan ketiga, bahwa Allah telah menjanjikan pahala untuknya.
Mereka mengutip beberapa ungkapan hikmah mengenai tema ini, termasuk gagasan bahwa bahkan syukur kita itu sendiri adalah nikmat dari Allah; maka mensyukuri-Nya atas syukur memerlukan syukur yang lain, dan seterusnya tanpa akhir.
Dari sini mereka beralih kepada pujian atas Nabi. Sebagaimana Allah mengetahui bahwa makhluk tidak akan pernah dapat menunaikan sepenuhnya hak pujian kepada-Nya, maka Dia memuji diri-Nya sendiri dalam pra-azali dengan mengucapkan “al-hamdu lillah.” Demikian pula, Allah sendiri bersalawat atas Nabi-Nya dalam pra-azali. Karena itu, ketika seseorang membaca Salat al-Fatih, ia memohon kepada Allah agar bersalawat atas Nabi-Nya dengan salawat yang primordial itu.
Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan sekadar lafaz, melainkan makna: hamba mengakui ketidakmampuannya untuk menunaikan hak Nabi yang mulia ini kecuali melalui apa yang Allah sendiri karuniakan.Namun mereka menambahkan bahwa Salat al-Fatih memiliki kekhususan tertentu yang terkait dengan makna ini. Jika orang yang diberi izin di dalamnya menghadirkan makna ini dalam hatinya dan meyakini bahwa ia muncul dari hadirat ghaib, maka ia memperoleh—insya Allah—pahala yang terhubung dengannya.
Kemudian mereka mengutip Abu al-Layth al-Samarqandi, yang mengatakan bahwa jika engkau ingin mengetahui bahwa selawat atas Nabi lebih utama daripada amal-amal ibadah lainnya, maka perhatikan ayat di mana Allah terlebih dahulu menyatakan bahwa Dia dan para malaikat-Nya berselawat atas Nabi, dan barulah kemudian Dia memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan hal yang sama.
Sebuah hadis dalam Sahih Muslim juga dikutip: “Barang siapa berselawat kepadaku sekali, Allah berselawat kepadanya sepuluh kali.” Para ulama menjelaskan bahwa sekalipun seseorang menghabiskan seluruh hidupnya dalam ibadah, satu selawat dari Allah atas hamba itu akan mengungguli semuanya, karena selawat hamba itu sesuai dengan kadar kehambaan, sedangkan selawat Allah sesuai dengan kadar ketuhanan. Dan ini baru satu selawat Ilahi, sedangkan hadis itu menjanjikan sepuluh.
Kedudukan Surat al-Fatiha
Para ulama mengemukakan suatu doktrin yang amat besar mengenai kedudukan al-Fatiha. Mereka mengatakan bahwa pada derajat lahiriahnya, satu kali bacaan al-Fatiha mengandung pahala setiap tasbih dan zikir yang dengannya Allah telah diingat sejak permulaan hakikat Muhammadiyah hingga saat sang pembaca melafalkan al-Fatiha. Setiap zikir di seluruh alam sepanjang rentang itu dianugerahkan sebagai pahala kepada orang yang membaca al-Fatiha sekali.
Mereka membuat satu pengecualian: pahala Nama Yang Mahatinggi tidak termasuk di bawah al-Fatiha kecuali jika sang pembaca dengan sengaja membaca al-Fatiha dengan niat Nama Yang Mahatinggi. Dalam hal itu, pahala Nama Yang Mahatinggi, sebagaimana ia dibaca di seluruh wujud, masuk pula di bawahnya.
Mereka juga mengatakan bahwa pada derajat lahiriahnya, al-Fatiha memuat pahala satu ختمة al-Qur’an yang sempurna, dan bahwa jumlah hurufnya beserta huruf-huruf al-Qur’an menghasilkan bagi pembacanya, untuk setiap huruf, tujuh bidadari surga dan tujuh istana, dan seterusnya terus-menerus pada setiap kali bacaan.
Di luar salat, pahala ini sudah sangat besar. Di dalam salat, ia dilipatgandakan lagi: dua kali jika seseorang salat sambil duduk, empat kali jika berdiri, dan bagi orang yang salat sendirian. Dalam berjamaah ia dilipatgandakan lebih lagi. Lalu mereka menguraikan perluasan angka-angka yang sangat besar untuk menggambarkan pahala ini sepanjang siklus harian salat-salat wajib.
Mereka juga meriwayatkan pernyataan bahwa orang yang membaca al-Fatiha sekali dalam setahun tidak dicatat termasuk orang-orang yang dibebani dosa selama tahun itu. Lalu mereka mengulangi bahwa semua ini berkaitan dengan bacaan tanpa niat khusus Nama Yang Mahatinggi. Adapun membaca al-Fatiha dengan niat Nama Yang Mahatinggi, maka keutamaannya hanya diketahui oleh Allah, dan seseorang tidak sepatutnya merasa itu aneh terkait dengan kedermawanan Yang Mahamulia.
Riwayat lain menyebutkan bahwa Jibril berkata kepada Nabi, semoga salawat dan salam tercurah kepadanya, bahwa ia dahulu takut akan azab bagi umat Nabi, tetapi ketika al-Fatiha diturunkan ia merasa aman bahwa Allah tidak akan mengazab mereka, karena Neraka mempunyai tujuh pintu dan al-Fatiha mempunyai tujuh ayat, dan setiap ayat menjadi seperti penutup atas salah satu pintu itu.
Kemudian para ulama menambahkan satu perincian penting: beramal demi pahala itu baik dan terpuji apabila dilakukan sebagai tanggapan terhadap cara Allah sendiri mengundang hamba-Nya dari tanzih yang mutlak menuju pahala yang dijanjikan. Dalam hal itu, memperhatikan pahala yang dijanjikan bukanlah motif egoistis dalam pengertian yang tercela; bahkan hal itu menjadi satu bentuk ibadah lagi. Yang tetap tercela adalah keterikatan yang berpusat pada diri kepada tujuan-tujuan rendah miliknya sendiri.
Seruan untuk Menghiasi Diri dengan Kesabaran
Sebuah ungkapan bijak menyatakan bahwa delapan keadaan senantiasa datang silih berganti atas diri manusia, dan setiap orang mesti menjumpainya: suka dan duka, perjumpaan dan perpisahan, kesulitan dan kelapangan, sakit dan sehat.
Skiredj kemudian menyampaikan nasihat yang menggetarkan tentang kefakiran. Ia berkata bahwa getirnya kefakiran lebih getir daripada segala kegetiran lainnya. Jika engkau ditimpa olehnya walau sekali, maka telanlah apa yang menjadikan getir itu lebih ringan dengan kesabaran. Jangan terguncang oleh ketidakstabilan keadaanmu ketika ia menimpa. Hadapilah kekerasan, dingin, dan perubahan perilaku orang-orang yang dahulu engkau kenal kasih sayangnya pada masa kelapangan dengan akhlak yang indah. Jangan menyalahkan mereka atas apa yang engkau lihat, karena orang miskin dipandang dengan mata yang bukan mata yang dengannya orang kaya dipandang, sekalipun si miskin adalah ulama terbesar pada zamannya dan si kaya adalah manusia paling bodoh. Ini, katanya, semata-mata begitulah banyak jiwa diciptakan.
Karena itu, ia menasihati seseorang agar menyelubungi dirinya dengan keindahan, merawat pakaiannya dengan kebersihan yang sempurna, mengangkat himmahnya di atas ketergantungan pada manusia—yang dekat maupun yang jauh—dan menampakkan kemandirian dari mereka sekalipun ia tidur dalam keadaan lapar dan tetap tidak makan sepanjang hari. Dengan cara ini, orang-orang akan menghormatinya dan merasa segan kepadanya.
Ia mengatakan bahwa seseorang tidak sepatutnya mengeluhkan keadaannya kepada siapa pun selain kepada Allah, yang melihat semua keadaan, dan seseorang tidak boleh sekali-kali berputus asa bahwa Allah akan mengangkat apa yang telah membebaninya dan menyedihkannya.
Ia juga menasihati kelembutan terhadap keluarga sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Berilah mereka janji-janji yang memberi harap mengenai hal-hal yang mereka nantikan dan yang menggembirakan mereka. Sering kali mereka merasa cukup dengan sebuah janji untuk sementara waktu. Gembirakan mereka dengan sarana kecil apa pun yang mampu engkau usahakan, karena dengan melakukan itu engkau membuat kesal orang-orang munafik. Dan jika rumah tanggamu tetap berada dalam kebaikan, engkau tidak akan gelisah oleh keadaan harta, entah sedikit atau banyak.
Ia memperingatkan agar tidak menampakkan kegelisahan dalam keadaan seperti itu. Jika engkau menampakkan kegundahan, engkau tidak akan memperoleh harta yang mengobati kerinduan, dan tidak pula martabat yang merendahkan musuh-musuhmu dan orang-orang yang dengki kepadamu.
Ia menutup dengan doa agar Allah menyelamatkan pembaca dari kegetiran ini dan menjadikannya kaya dengan-Nya.
Orang Tua Berbuat Baik kepada Anak-Anaknya, dan Anak-Anak Berbuat Baik kepada Orang Tuanya
Skiredj mengatakan bahwa ayahnya dahulu menjelaskan hadis, “Di antara hamba-hamba Allah ada orang-orang yang, jika mereka bersumpah atas nama Allah, Allah memenuhinya bagi mereka,” dengan mengatakan bahwa hamba-hamba semacam itu termasuk para orang tua: jika mereka bersumpah kepada Allah terkait anak-anak mereka, Allah mengabulkan mereka.
Ia menambahkan bahwa sunnatullah di tengah makhluk-Nya ialah bahwa siapa yang berbakti kepada orang tuanya, ia sendiri akan diperlakukan dengan kebaktian, dan bahwa doanya dalam kesulitan akan dikabulkan apa pun keadaannya.
Namun sebagaimana anak-anak wajib berbakti kepada orang tua, orang tua pun harus menampakkan kebaikan kepada anak-anak mereka, terlebih pada zaman ini. Orang tua hendaknya memaafkan anak-anaknya dan memohon kepada Allah agar memberi mereka petunjuk semampunya, karena anak-anak adalah bunga-bunga di kebun kehidupan orang tua mereka. Jika kebun itu diabaikan, bunga-bunga itu layu dan kelopaknya berguguran.
Ayahnya dahulu menyamakan anak-anak dengan tanaman yang dipelihara penuh kasih di sebuah kebun yang dicintai. Bagaimana mungkin seseorang merawat tanaman semacam itu dengan kerinduan untuk melihatnya berbunga indah, lalu setelah itu mencabutnya dan membuangnya? Dan jika kemudian ia menyesal dan ingin mengembalikannya kepada keindahannya semula, dapatkah ia kembali persis seperti sebelumnya setelah bunganya layu dan daun-daunnya yang halus telah binasa?
Demikian pula halnya dengan anak-anak: mereka adalah bunga-bunga kebun seseorang. Seorang orang tua tidak sepatutnya membiarkan hatinya berpaling dari mereka. Sekalipun hati itu tanpa sengaja terusik oleh perilaku mereka, ia harus menahan dirinya dengan kekang kesabaran, mendoakan petunjuk bagi mereka, dan menahan diri untuk tidak menjawab mereka dengan sesuatu yang mereka benci.
Ayahnya juga dahulu mengatakan bahwa anak-anak yang dijaga di bawah رضى akan menjadi orang-orang yang memiliki keadaan yang menyenangkan, dan bahwa dari anak-anak رضى hanya kebaikanlah yang keluar. Ia akan berkata kepada orang-orang bahwa mendoakan petunjuk bagi anak-anak lebih baik daripada melaknat mereka pada saat-saat frustrasi, karena masa kanak-kanak adalah sejenis kegilaan. Ia juga akan berkata: anak-anak seseorang adalah tanamannya; ia tidak sepatutnya menelantarkan tanamannya dan tidak pula mencabutnya dari akarnya. Dan ia akan berkata: apa yang dilakukan anak-anak kepada orang tua mereka pada akhirnya akan dilakukan kepada mereka oleh anak-anak mereka sendiri.
Skiredj juga mencatat sebuah mimpi pada akhir Safar tahun 1343 H, di mana ia melihat dirinya dalam ihram untuk haji di Mekah, bertemu ayah dan ibunya, tersungkur pada kaki mereka, menciumnya, menangis, dan memohon agar mereka berdoa supaya Allah menyelamatkannya dari Neraka, karena ia tidak sanggup menahan panasnya. Lalu ia terbangun.
Pentingnya Cinta kepada Nabi
Seorang lelaki saleh berkata bahwa ia memiliki seorang tetangga yang bekerja sebagai penyalin naskah. Ketika lelaki itu wafat, ia terlihat dalam mimpi dan ditanya apa yang Allah perbuat terhadapnya. Ia menjawab: Allah mengampuniku. Ketika ditanya mengapa, ia berkata: setiap kali aku menulis nama Muhammad, semoga salawat dan salam tercurah kepadanya, dalam sebuah kitab, aku berselawat atasnya. Maka Tuhanku memberiku sesuatu yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas di hati seorang manusia pun.
Riwayat lain yang dinukil oleh para ulama menyatakan: barang siapa wafat dalam keadaan mencintai keluarga Muhammad, ia wafat sebagai syahid.XXXXX
Laporan-laporan ini menegaskan kebenaran yang sama yang ditemukan di seluruh tradisi Tijani: cinta kepada Nabi bukanlah sesuatu yang sekunder. Ia adalah pusat, transformatif, dan menyelamatkan.
Renungan Penutup
Mutiara-mutiara ini menghadirkan sebuah spiritualitas yang sangat praktis. Ia mengajarkan murid Tijani untuk menjaga awrad, memuliakan Al-Qur’an, menuntut ilmu, menjaga adab, senantiasa memohon kepada Allah, tetap teguh dalam kesempitan dan kelapangan, memperdalam rasa syukur, mencintai Nabi dengan melimpah, menanggung kesulitan dengan martabat, serta memelihara ikatan keluarga dengan kesabaran dan kasih sayang.
Ia juga memperlihatkan sesuatu yang esensial tentang watak keilmuan Tijani: pengabdian tidak pernah dipisahkan dari keseimbangan, dan cinta tidak pernah dipisahkan dari disiplin. Jalan ini menjadi indah bukan hanya karena wirid-wiridnya, melainkan karena akhlak yang hendak dibentuknya.
++++