Skiredj Library of Tijani Studies
Memahami mengapa silsilah yang tersambung kepada Sidi Ali Harazem kini jarang dikutip
Pendahuluan
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, dan shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan kita Muhammad, sang pembuka dan penutup, pembimbing yang menang, serta kepada keluarga dan para sahabat beliau.
Di dalam tradisi tasawuf Tijani (Tariqa Tijaniyya), transmisi pengetahuan ruhani dan pemberian otorisasi—yang dikenal sebagai sanad (silsilah spiritual) atau ijaza (otorisasi)—memegang peranan yang esensial. Melalui silsilah-silsilah ini, para murid menerima izin untuk mengajar, membimbing, dan menransmisikan wirid-wirid serta ajaran-ajaran jalan tersebut.
Sebuah pertanyaan terkadang muncul di kalangan pengikut jalan Tijani:
Mengapa silsilah-silsilah transmisi yang terhubung kepada khalifah agung Sidi al-Hajj Ali Harazem kini jarang disebut di antara para murid Tijani?
Memahami pertanyaan ini menuntut penelaahan peran historis tokoh yang luar biasa ini dan keadaan-keadaan yang membentuk cara silsilah Tijani kemudian ditransmisikan.
Siapakah Sidi Ali Harazem?
Sidi al-Hajj Ali Harazem Barrada al-Fasi, semoga Allah meridai beliau, menempati kedudukan sentral dalam sejarah awal tarekat Tijani.
Beliau adalah salah seorang sahabat terdekat Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, pendiri jalan Tijani.
Sejumlah fakta historis menggambarkan pentingnya beliau:
Beliau mendampingi Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī selama 27 tahun.
Beliau menghabiskan 22 tahun berkhidmah secara aktif dalam jalan Tijani.
Beliau menjadi salah satu pengajar paling awal yang bertanggung jawab menyiarkan jalan Tijani secara terbuka, baik di Maroko maupun di luar negeri.
Karena itu, sumbangsih beliau bagi penyebaran awal jalan Tijani sangatlah besar.
Peran Beliau dalam Menyebarkan Jalan Tijani
Pada masa-masa awal perkembangan tarekat Tijani, banyak murid pertama di kota Fez menerima ajaran Tijani melalui Sidi Ali Harazem.
Hal ini terutama terjadi pada periode-periode ketika Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī sendiri sedang bepergian di Sahara.
Sidi Ali Harazem juga menyebarkan jalan tersebut dalam perjalanan beliau menuju Hijaz, antara tahun-tahun:
1215 H – 1218 H
Sepanjang perjalanan ini beliau menransmisikan ajaran Tijani di beberapa kawasan:
Aljazair
Tunisia
Libya
Mesir
dan tanah-tanah suci Mekah dan Madinah.
Dalam perjalanan-perjalanan ini, beliau bertemu banyak ulama dan para pencari ruhani serta menganugerahkan kepada mereka ijaza (otorisasi) dalam jalan Tijani.
Catatan-catan historis menegaskan bahwa buku-buku catatan pribadi beliau memuat banyak otorisasi yang diberikan kepada para ulama dan tokoh-tokoh terkemuka.
Para Ulama Ternama yang Diijazahi oleh Sidi Ali Harazem
Di antara mereka yang menerima otorisasi dari Sidi Ali Harazem terdapat beberapa figur penting dalam tradisi Tijani, di antaranya:
Sidi Abd al-Wahhab ibn al-Ahmar al-Fasi
Sidi Ibrahim al-Riyahi dari Tunisia
Sidi Hashim ibn Ma‘zuz
Sidi al-Kabir ibn Ma‘zuz
Sidi Abd al-Wahhab al-Ashhab
Sidi al-Hajj Ali Amillas
Para ulama ini kemudian menjadi tokoh-tokoh menonjol dalam perkembangan dan penyebaran jalan Tijani.
Namun, sebuah rincian historis yang penting menjelaskan mengapa silsilah-silsilah yang terhubung kepada Sidi Ali Harazem tidak lazim dikutip pada masa kini.
Mengapa Silsilah-silsilah Ini Menjadi Kurang Umum
Banyak ulama yang pada mulanya menerima otorisasi dari Sidi Ali Harazem kemudian menerima otorisasi langsung dari Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī sendiri.
Ketika hal itu terjadi, mereka secara wajar lebih memilih untuk menyebut silsilah yang lebih tinggi (sanad ‘ali)—yakni yang tersambung langsung kepada sang Syekh.
Akibatnya, silsilah mereka sering dicatat dalam bentuk:
Murid → Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī
alih-alih:
Murid → Sidi Ali Harazem → Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī
Hal ini tidak mengurangi peran Sidi Ali Harazem. Ini semata mencerminkan sebuah praktik yang lazim dalam keilmuan Islam: mengutamakan silsilah transmisi yang paling singkat bila tersedia.
Bukti dari Manuskrip-manuskrip Tijani Historis
Manuskrip-manuskrip historis menegaskan bahwa kedua silsilah itu memang ada.Salah satu contohnya terdapat dalam catatan-catatan (notebook) milik seorang ulama, Sidi Abd Allah al-Tadili al-Ribati.
Dalam salah satu ijazah yang direkam dan diberikan kepada seorang laki-laki dari kota Meknes, disebutkan dua sanad yang berbeda:
Sanad yang lebih tinggi langsung dari Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī
Sanad yang lebih rendah melalui Sidi Ali Harazem
Hal ini menunjukkan bahwa transmisi melalui Sidi Ali Harazem diakui sepenuhnya dalam tradisi Tijani.
Wafatnya Sidi Ali Harazem pada Usia Dini
Alasan penting lainnya bagi terbatasnya peredaran sanad-sanad beliau bersifat historis.
Sidi Ali Harazem wafat dua belas tahun sebelum Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī.
Karena wafat lebih awal ini, banyak generasi murid setelahnya memiliki kesempatan untuk menerima thariqah secara langsung dari sang Syekh atau melalui para penyampai (transmitter) lain yang hidup lebih lama.
Seandainya Sidi Ali Harazem hidup lebih panjang, besar kemungkinan sanad-sanad beliau akan tetap lebih luas tersebar.
Kedudukan Istimewa Ijazah Beliau
Meskipun terdapat keadaan historis tersebut, ijazah yang diberikan kepada Sidi Ali Harazem oleh Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī memiliki kedudukan yang unik dan luar biasa.
Menurut para ulama tradisi Tijani, redaksi ijazah yang diberikan kepadanya tidak menyerupai ijazah yang lain mana pun.
Dalam ijazah ini, Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī menyatakan:
“Kami telah mengangkatnya untuk berdiri di tempat kami sebagai pengganti bagi diri kami, bagi ruh kami, dan bagi maqam suci kami.
Ia mewakili kami dalam kehadiran kami dan dalam ketidakhadiran kami, di masa hidup kami dan setelah wafat kami.
Barangsiapa mengambil darinya, sungguh ia telah mengambil dari kami secara langsung, tanpa perbedaan apa pun.
Barangsiapa memuliakannya, sungguh ia telah memuliakan kami.Barangsiapa menghormatinya, sungguh ia telah menghormati kami.Barangsiapa menaati dia, sungguh ia telah menaati kami.
Dan barangsiapa menaati kami, sungguh ia telah menaati Allah dan Rasul-Nya.”
Pernyataan ini dengan jelas menggambarkan besarnya kepercayaan yang dititipkan kepada Sidi Ali Harazem.
Pernyataan ini juga menjelaskan mengapa beliau dipandang sebagai salah satu khalifah (wakil spiritual) terpenting dalam sejarah thariqah Tijani.
Warisan Sidi Ali Harazem dalam Thariqah Tijani
Walaupun sanad-sanad beliau tidak selalu disebutkan pada hari ini, pengaruh Sidi Ali Harazem tetap tertanam kuat dalam sejarah tarekat Tijani.
Kontribusi beliau mencakup:
menyebarkan ajaran-ajaran Tijani di Afrika Utara dan Timur Tengah
menyampaikan thariqah kepada banyak ulama
membantu menegakkan fondasi-fondasi awal tarekat
menjaga ajaran Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī pada fase paling awal dari Thariqah.
Banyak tokoh kemudian dalam tradisi Tijani secara tidak langsung mewarisi thariqah melalui jejaring yang beliau turut membangunnya.
Kesimpulan
Terbatasnya peredaran sanad-sanad yang terkait dengan Sidi Ali Harazem Barrada al-Fasi tidak mencerminkan kurangnya arti penting.
Sebaliknya, hal itu merupakan hasil dari dua faktor historis:
Banyak murid kemudian menerima ijazah secara langsung dari Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī.
Sidi Ali Harazem wafat lebih dahulu, dua belas tahun sebelum sang Syekh.
Meski demikian, peran beliau tetap mendasar dalam penyebaran awal dan pengokohan thariqah Sufi Tijani.
Kebersamaan beliau yang dekat dengan Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, pengabdian beliau yang panjang kepada tarekat, dan ijazah luar biasa yang dianugerahkan kepadanya memastikan bahwa nama beliau tetap menjadi salah satu yang paling dihormati dalam sejarah spiritual tradisi Tijani.
++++