21/3/20266 min readFR

Mengapa Shalat al-Fatih Tidak Memiliki Salam: Penjelasan Tijani KlasikTemukan mengapa Shalat al-Fatih lima Ughliqa tidak mencantumkan salam, menurut Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī dan sumber-sumber Tijani klasik Jawahir al-Ma‘ani dan al-Jami‘.

Skiredj Library of Tijani Studies

Mengapa Shalat al-Fatih Tidak Diakhiri dengan Salam: Memahami Pertanyaan Tijani Klasik

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.Segala puji bagi Allah. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam atas junjungan kita Sayyidina Muhammad, atas keluarganya, dan atas para sahabatnya.

Di antara pertanyaan yang berulang diajukan oleh para penempuh jalan dalam thariqah Tijani ialah ini: mengapa Shalat al-Fatih lima Ughliqa tidak memuat salam penutup, sedangkan formula Jawharat al-Kamal justru menyertakannya di awal? Pertanyaan ini telah diajukan sebelumnya, dan telah dijawab oleh Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya.

Artikel ini menjelaskan jawaban itu dengan cara yang jelas dan setia, sambil menjaga penghormatan yang semestinya bagi formula-formula suci ini.

Pertanyaan sebagaimana diajukan

Sebagian murid memperhatikan bahwa Shalat al-Fatih lima Ughliqa tidak berakhir dengan ungkapan salam, sedangkan Jawharat al-Kamal memulainya dengan salam. Mereka secara wajar bertanya: apa sebab perbedaan ini? Mengapa salam tidak ada pada satu formula dan ada pada formula yang lain?

Ini bukan pertanyaan modern. Ia telah diangkat dalam sumber-sumber Tijani klasik, khususnya dalam Jawahir al-Ma‘ani dan al-Jami‘.

Jawaban Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī

Ketika pertanyaan ini diajukan kepada Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya, ia menjawab secara substansi:

Shalat al-Fatih datang dari alam gaib dalam bentuk yang persis ini. Apa pun yang datang dari alam gaib memiliki kesempurnaannya sebagaimana adanya, dan ia berada melampaui kaidah-kaidah biasa yang dikenal manusia. Ia bukan susunan seorang pengarang manusia.

Ia juga mengisyaratkan bahwa ada formula shalawat Nabi yang diriwayatkan tanpa salam, dan bahwa bentuk-bentuk semacam itu adalah wirid-wirid yang harus diterima sebagaimana adanya. Karena itu, seseorang tidak semestinya mempersoalkannya dengan dasar قواعد lahiriah yang biasa.

Jawaban ini bersifat menentukan. Ia mengalihkan persoalan dari analisis gaya manusiawi dan menempatkannya pada tempatnya: dalam ranah formula-formula anugerah Ilahi yang diterima dari sumber yang lebih tinggi.

Shalat al-Fatih bukan komposisi manusia

Pokok yang esensial adalah ini: Shalat al-Fatih lima Ughliqa bukanlah teks yang disusun oleh seorang manusia biasa. Ia bukan komposisi sastra yang terbuka untuk koreksi, revisi, atau preferensi gaya. Ia muncul dari alam gaib dalam bentuk sebagaimana ia dibaca.

Itulah sebabnya pemahaman Tijani tidak mendekati shalawat ini sebagaimana seseorang mungkin menganalisis sebuah formula tertulis biasa.XXXXX

Ungkapannya merupakan bagian dari kesempurnaannya. Strukturnya merupakan bagian dari rahasianya. Bentuknya yang persis merupakan bagian dari anugerah ilahinya.

Dari sudut pandang ini, menanyakan mengapa ia tidak memiliki salam dapat berubah menjadi pertanyaan tentang adab apabila ia mengandaikan bahwa formula itu seharusnya menyesuaikan diri dengan harapan manusia yang normal. Jawaban klasik mengingatkan kita bahwa apa yang datang dari alam gaib adalah sempurna pada dirinya sendiri.

Sebuah jawaban masyhur dari seorang moqaddam Tijani

Diriwayatkan bahwa seorang ahli fikih pernah mengajukan pertanyaan yang sama kepada faqih dan moqaddam Sidi al-Hajj Lahcen al-Fatwaki al-Demnati. Ia segera menjawab dengan ungkapan yang indah:

Bagaimana engkau dapat bertanya mengapa ia kosong dari salam, padahal ia muncul dari Hadirat Salam?

Jawaban yang ringkas ini mengungkapkan sebuah adab rohani yang mendalam. Maknanya, formula itu datang dari sumber yang lebih tinggi daripada analogi formal manusia. Zat Yang menganugerahkan kedamaian dan kesempurnaan tidak tunduk kepada harapan lahiriah kita.

Apa arti “for a reason that necessitated it”?

Dalam Jawahir al-Ma‘ani, redaksi pertanyaan asli memuat sebuah ungkapan tambahan: bahwa Salat al-Fatih adalah “tanpa salam karena suatu alasan yang meniscayakannya.”

Ungkapan ini menarik perhatian para pembaca belakangan. Ia dipandang sebagai ungkapan yang halus dan luhur, yang menunjuk kepada makna-makna melampaui bahasa biasa.

Menurut sebagian ahli pemahaman, ungkapan ini mengisyaratkan dua realitas penting:

Pertama, bahwa Hadirat alam gaib tidak untuk diukur dengan dunia tempat kita hidup. Tidak ada analogi langsung antara keduanya dalam bentuk, cara, citra, waktu, maupun ungkapan.

Kedua, bahwa perintah ilahi bekerja menurut realitas-realitas dan hikmah-hikmah yang berbeda sesuai dengan perkara yang sedang dibicarakan. Allah berfirman:

“Setiap hari Dia berada pada suatu شأن.”Ini menunjukkan bahwa tindakan ilahi terhampar menurut hikmah-hikmah di luar keterkungkungan manusia.

Maka ketika ungkapan itu mengatakan “karena suatu alasan yang meniscayakannya,” ia menunjuk kepada sebuah hikmah yang menjadi milik tatanan gaib, bukan kepada suatu penghilangan sastra manusiawi.

Mengapa Jawharat al-Kamal memuat salam

Jika Salat al-Fatih datang dari alam gaib dalam satu bentuk, Jawharat al-Kamal datang melalui corak penganugerahan yang lain.

Tradisi Tijani menjelaskan bahwa Jawharat al-Kamal didiktekan oleh Penguasa Wujud, Sayyidina Muhammad, semoga salawat dan salam tercurah kepadanya, kepada Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya. Karena itu, ia datang dengan redaksinya sendiri, iramanya, dan strukturnya.

Maka jawabannya bukan bahwa salah satu formula lebih lengkap daripada yang lain dalam pengertian manusiawi. Sebaliknya, setiap doa itu sempurna dalam bentuk persis sebagaimana ia dianugerahkan.

Jawharat al-Kamal datang dengan salam pada pembukaannya.

Salat al-Fatih datang tanpa salam dalam redaksinya.

Keduanya sempurna.

Keduanya diterima.

Keduanya melampaui kepengarangan biasa.

Prinsip kunci: apa yang datang dari alam gaib sudah sempurna

Salah satu pernyataan terpenting dalam pembahasan ini adalah prinsip sang Shaykh:

Apa pun yang datang dari alam gaib, kesempurnaannya telah teguh ditetapkan dan berada di luar kaidah-kaidah yang lazim.

Prinsip ini menyelesaikan pertanyaan tersebut. Maknanya, seorang mukmin tidak menilai formula-formula ini berdasarkan harapan retoris lahiriah. Ia menerimanya dengan penuh takzim, seraya mengetahui bahwa hikmah batinnya boleh jadi melampaui apa yang dapat ditangkap oleh analisis bahasa semata.

Ini terutama penting dalam thariqah Tijani, di mana doa-doa tertentu dipahami bukan hanya sebagai zikir, melainkan sebagai anugerah, amanah, dan rahasia.

Pelajaran tentang adab rohani

Pertanyaan ini juga mengajarkan pelajaran yang lebih luas: tidak setiap bentuk yang suci patut diinterogasi seakan-akan ia merupakan konstruksi manusia.

Ada perbedaan antara:

mempelajari formula-formula yang diwahyukan atau dianugerahkan dengan penuh takzim, dan

mengukurnya dengan standar biasa seolah-olah ia adalah teks yang dikarang.

Para masyayikh Tijani secara konsisten menyeru para murid kepada adab dalam perkara-perkara semacam ini. Semakin suci sumbernya, semakin besar kebutuhan akan kerendahan hati.

Kesimpulan

Ketiadaan salam dalam Salat al-Fatih lima Ughliqa bukanlah kekurangan, bukan pula suatu penghilangan, dan bukan sesuatu yang perlu diperbaiki. Menurut Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya, doa ini datang dari alam gaib dalam bentuk yang persis demikian, dan apa pun yang datang dari alam gaib sudah sempurna.

Sebaliknya, Jawharat al-Kamal juga dianugerahkan dalam bentuk yang sempurna, namun dengan salam dalam redaksinya. Karena itu, masing-masing doa tetap sempurna sesuai dengan cara kemunculannya.

Maka pertanyaan itu dijawab oleh satu kebenaran pusat:

Salat al-Fatih bukanlah susunan manusia. Ia adalah formula yang dianugerahkan secara ilahi, yang kesempurnaannya tak terpisahkan dari redaksinya yang persis.

Dan Allah lebih mengetahui.

++++