S

Sidi Muḥammad ibn al-Mashri al-Sāʾiḥī al-Ḥasanī

Profile dossier

Sidi Muḥammad ibn al-Mashri al-Sāʾiḥī al-Ḥasanī

Author

Roles

1

Related corpus

6 books

Biographical notice

Related books

6 books

Biographical notice

Biografi

Sidi Mohamed Ibn Mashri, yang nama lengkapnya adalah Sidi Mohamed Ben Mohamed Ben al-Mashri al-Hassani as-Sa’ihi as-Seba‘i, adalah salah satu tokoh awal terkemuka dalam tradisi Tijani dan salah satu murid paling menonjol dari Sīdī Aḥmad al-Tijānī. Seorang ulama, guru rohani, faqih, dan penyalur ilmu, ia dikenal karena keluasan pengetahuannya, kedalaman pembinaan batinnya, serta kedudukan istimewa yang ia miliki di kalangan sahabat-sahabat terdekat pendiri tarekat.

Masa Awal dan Latar Belakang

Ia dilahirkan di Takrit, sebuah tempat di wilayah Constantine di Aljazair timur laut. Tahun kelahirannya yang tepat tidak diketahui, namun sumber-sumber menempatkannya sekitar pertengahan abad kedua belas H, karena ia termasuk generasi yang sama dengan Sīdī Aḥmad al-Tijānī dan hanya beberapa tahun lebih muda darinya.

Ia berasal dari keluarga bangsawan yang sangat dihormati, yang terhubung dengan nasab Awlad al-Sa’ih al-Seba‘iyyin, sebuah keluarga yang dikenal karena keturunan kenabian, keberkahan yang diwariskan, serta kedudukan keilmuan dan spiritual yang kuat dalam lingkungan kabilahnya yang lebih luas.

Watak dan Sifat-sifat

Sidi Mohamed Ibn Mashri dikenal karena keluhuran tabiat, penampilan yang berwibawa, ketenangan, dan kekuatan akhlaknya. Ia dermawan, bercahaya wajahnya, senantiasa ceria, dan sangat berpegang pada kebenaran. Ia menjaga jarak dari kalangan kaya dan berpengaruh, tidak menunjukkan ketertarikan pada kedudukan duniawi, dan dengan tegas menolak ghibah serta kebohongan.

Ia juga dikenang karena ketulusannya, adabnya yang halus, tutur katanya yang tenang, kasih sayangnya kepada murid-murid dan para sahabatnya, serta keberaniannya dalam amar ma‘ruf dan nahi munkar.

Pendidikan

Hanya sedikit rincian yang tersisa tentang studi-studi awalnya, namun sumber-sumber menekankan ketajaman inteleknya, daya hafalnya yang kuat, dan kecintaannya pada ilmu sejak dini. Ia menghafal al-Qur’an pada masa muda, lalu menempuh studi-studi lanjutan dengan kesungguhan dan disiplin.

Ia unggul dalam fiqh, hadits, perkara-perkara hukum, teologi, sirah Nabi, dan sejarah, sehingga menjadi salah satu ulama terkemuka di wilayahnya. Namun, bagian besar dari pembentukannya datang melalui Sīdī Aḥmad al-Tijānī, yang baginya adalah guru, pembimbing, pendidik, dan sahabat.

Pertemuan dengan Sīdī Aḥmad al-Tijānī

Ia bertemu Sīdī Aḥmad al-Tijānī di Tlemcen pada 1188 H, ketika sang syekh baru kembali dari perjalanan mulianya ke Hijaz. Dalam pertemuan itu, sang syekh mengajarinya wirid-wirid jalan Khalwati melalui sanadnya dari Sidi Mahmoud al-Kurdi, dan juga mempercayakan kepadanya zikir-zikir lain serta rahasia-rahasia spiritual.

Pertemuan ini merupakan titik balik yang menentukan dalam hidupnya.

Ibn Mashri sendiri memandangnya sebagai transformasi terbesar yang pernah ia alami, seraya menyatakan bahwa ia baru memahami hakikat-hakikat ilmu lahir dan batin setelah berjumpa dengan sang syekh.

Kedudukannya di Sisi Syekh

Sidi Mohamed Ibn Mashri termasuk di antara murid-murid utama Sīdī Aḥmad al-Tijānī. Sang syekh menaruh penghormatan yang sangat tinggi kepadanya, mengagumi ilmunya, kedisiplinannya, kelurusan sikapnya, dan kemuliaan akhlaknya, serta menunjukkan kepadanya perhatian dan kasih sayang yang khusus.

Yang paling menonjol, Sīdī Aḥmad al-Tijānī mengangkatnya untuk bertugas sebagai imam salat baginya dalam lima salat wajib harian dari 1197 H hingga 1208 H, sebuah keistimewaan yang mencerminkan kepercayaan dan kehormatan yang luar biasa.

Ia juga menyertai sang syekh dalam perjalanannya menuju Fez, dan kebersamaan mereka berlanjut selama bertahun-tahun dalam kedekatan yang menakjubkan.

Zuhud dan Kedermawanan

Ibn Mashri dikenal luas karena kezuhudannya, keterlepasannya dari kehidupan duniawi, dan tawakalnya kepada Allah. Ia tidak pernah menikah, tidak pernah membangun rumah, dan tidak pernah menimbun harta. Ia menjauhi orang-orang yang memiliki pengaruh politik dan tidak menaruh minat pada kedudukan duniawi.

Pada saat yang sama, ia sangat dermawan. Ia menolong kaum fakir, menopang mereka yang membutuhkan, dan membagikan apa pun yang ia miliki. Hidupnya menjadi teladan ketanpa-akuan, pengendalian diri, dan tawakal yang tulus kepada Allah.

Jalan Spiritual

Tasawuf telah menjadi bagian dari warisan keluarganya, namun pertemuannya dengan Sīdī Aḥmad al-Tijānī memberi dimensi itu kedalaman yang baru dan menentukan. Sejak saat itu, ia mencurahkan diri pada riyadah ruhani, khalwat, penyucian jiwa, dan tahqiq batin.

Dengan demikian, ia menjadi salah seorang arifin besar dalam thariqah Tijani, dikenal karena kesungguhannya, pemahaman yang halus, dan maqam ruhani yang tinggi.

Keberangkatan dari Fez ke Sahara Timur

Keberangkatannya dari Fez menuju Sahara bagian timur dipahami dalam sumber-sumber Tijani sebagai akibat sebab-sebab ruhani yang mendalam, bukan semata-mata keadaan lahiriah. Menurut riwayat, perpindahan ini terjadi atas arahan syekhnya dan terkait dengan keadaan spiritualnya serta futuhat yang dianugerahkan kepadanya.

Beberapa penulis besar Tijani memelihara penafsiran ini dan menegaskan makna batin serta aspek ketentuan Ilahi dari keberangkatannya.

Karya-karya

Sidi Mohamed Ibn Mashri menulis beberapa karya penting, di antaranya:

Al-Jami‘ lima Iftaraqa min Durar al-‘Ulum al-Fa’ida min Bihar al-Qutb al-Maktum

Rawd al-Muhibb al-Fani fima Talaqqaynahu min Abi al-‘Abbas at-Tijani

Nusrat ash-Shurafa’ fi ar-Radd ‘ala Ahl al-Jafa’

Taqyid fi Salat al-Fatih Lima Ughliqa

Sharh Yaqutat al-Muhtaj fi as-Salat ‘ala Sahib al-Liwa’ wat-Taj

Tulisan-tulisan ini mencerminkan baik kedalaman keterikatannya dengan Sīdī Aḥmad al-Tijānī maupun peran sentralnya dalam menjaga dan mentransmisikan warisan intelektual dan spiritual thariqah tersebut.

Wafat

Setelah meninggalkan Fez menuju Ain Madhi, ia tinggal di sana hanya sebentar, kira-kira setahun. Terkikis oleh sakit, perpisahan, dan kerinduan yang amat kuat kepada syekhnya, ia wafat pada hari Senin, 1 Dhu al-Qa‘da 1224 H.

Wafatnya menimbulkan duka yang mendalam di kalangan thariqah Tijani, terutama bagi Sīdī Aḥmad al-Tijānī sendiri, yang mengirimkan surat takziah kepada keluarganya, mencerminkan cinta dan penghargaan yang luar biasa besar yang ia berikan kepadanya.

Warisan

Sidi Mohamed Ibn Mashri meninggalkan warisan besar dalam sejarah awal Tijani. Ia dikenang karena kesetiaannya kepada syekh, keunggulannya dalam ilmu-ilmu agama, kezuhudan, kedermawanan, dan kedalaman dalam kehidupan spiritual. Ia tetap menjadi salah satu tokoh paling terkemuka dalam lingkaran Tijani generasi awal.