Skiredj Library of Tijani Studies
Ajaran-ajaran abadi tentang dhikr, adab, shalat, disiplin ruhani, dan pengabdian harian dalam tradisi Tijani
Warisan keulamaan Tijani tidak hanya menjaga kitab-kitab besar dan teks-teks doktrinal, tetapi juga tak terhitung banyaknya kilasan-kilasan ruhani yang ringkas: pengajaran singkat, doa-doa, nasihat-nasihat praktis, dan peringatan-peringatan bercahaya yang dinukil dari para masyayikh seperti Sidi Ahmad Skiredj, Sidi al-’Arabi ibn al-Sa’ih, Sidi Muhammad al-Hajjouji, dan yang lainnya.
Kumpulan pertama Mutiara Hikmah Para Ulama Tijani ini menghimpun serangkaian terjemahan Inggris yang setia berdasarkan petikan-petikan Arab tradisional. Tujuannya bukanlah memparafrasekannya secara longgar, melainkan mempertahankan nada ruhani, hikmah praktis, dan daya devosionalnya sedekat mungkin.
Mutiara-mutiara ini berputar pada tema-tema inti jalan Tijani: La ilaha illa Allah, kehambaan, manisnya ketaatan, shalawat atas Nabi, adab dalam dhikr, perlindungan dari tipu daya, doa-doa harian, dan mengingat Allah dalam setiap keadaan.
La ilaha illa Allah
Para ulama menyatakan bahwa formula yang diberkahi La ilaha illa Allah terdiri dari dua belas huruf, semuanya bercahaya. Barangsiapa mengingat Allah dengannya, ia akan mendapati hatinya dipenuhi cahaya, hikmah, dan petunjuk.
Ibn ‘Arabi menjelaskan bahwa formula mulia ini tersusun dari empat bagian: penafian, yang dinafikan, penetapan, dan yang ditetapkan. Lalu ia mengaitkan makna-makna yang empat ini dengan struktur penciptaan itu sendiri. Empat prinsip Ilahi adalah akar keberadaan alam; empat sifat alamiah adalah akar jasad-jasad; empat unsur adalah akar bagi segala yang terbentuk; empat humor adalah akar bagi kehidupan hewan; dan empat realitas adalah akar bagi keberadaan manusia.
Ia merincinya sebagai berikut:
empat prinsip Ilahi: hidup, ilmu, kehendak, dan kalam, yang juga berarti qudrah baik dalam akal maupun dalam syariat;
empat sifat alamiah: panas, dingin, kering, dan lembap;
empat unsur: api, udara, air, dan tanah;
empat humor: dua empedu, darah, dan dahak;
empat realitas manusia: tubuh, nutrisi, sensasi, dan kalam.
Maka, ketika seorang hamba mengucapkan La ilaha illa Allah dengan kesadaran akan tatanan empat serangkai ini, lisannya menjadi lisan kosmos, dan wakil al-Haqq dalam pengucapan. Lalu alam semesta mengingat Allah melalui ingatannya, dan al-Haqq mengingat melalui dhikr-nya.
Makna Kehambaan
Salah seorang shaykh pernah berkata kepada seorang murid yang telah memperlihatkan adab yang buruk kepadanya, “Celakalah engkau, tidakkah engkau takut bahwa aku akan menelanjangimu?” Murid itu menjawab, “Engkau tidak memiliki kuasa untuk menelanjangiku dari kehambaanku, karena kehambaan adalah sifat esensial makhluk.”
Mendengar itu, sang shaykh pun pingsan.
Sidi Ahmad Skiredj berkata bahwa hal itu menghadirkan dalam benaknya ayat Ilahi: “Tiada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan datang kepada Yang Maha Pengasih sebagai seorang hamba.” Dari situ dibukakan baginya suatu pemahaman tentang kehambaan: bahwa sumbernya adalah Nama Ilahi al-Rahman. Barangsiapa mencari kehambaan yang sejati, hendaklah ia mencarinya dari Nama yang mulia ini.
Ia menjelaskan bahwa Nama al-Rahman adalah sumber dari mana penciptaan menjadi ada, sejalan dengan makna Ilahi, “Rahmat-Ku telah mendahului murka-Ku.” Ia adalah mata air kehambaan. Itulah sebabnya makhluk diperintahkan untuk bersujud kepada Yang Maha Pengasih, namun
banyak yang gagal menangkap rahasia perintah itu, sebagaimana ditunjukkan dalam ayat: “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Bersujudlah kepada Yang Maha Pengasih’...”
Barangsiapa sungguh merealisasikan kehambaan ini, maka ia berdiri di atas ‘Arsy kosmos sesuai dengan makna ayat: “Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘Arsy.”
Diriwayatkan pula bahwa ketika Nabi, shalawat dan salam atas beliau, mencapai maqam-maqam tertinggi pada Perjalanan Malam, Allah mewahyukan kepadanya: “Wahai Muhammad, dengan apa Aku memuliakanmu?” Beliau menjawab: “Wahai Tuhanku, dengan menisbatkanku kepada-Mu melalui kehambaan.” Lalu Allah mewahyukan: “Mahasuci Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari...” Ini termasuk maqam-maqam terbesar dari karunia Ilahi.
Manisnya Ketaatan
Sidi Ahmad Skiredj mengatakan bahwa ia tidak mengira seorang pun dari para wali Allah menanggung kesukaran dalam menaati Allah tanpa menemukan kemanisan di dalamnya. Bagaimana mungkin seorang ‘arif billah melakukan ibadah, atau menjauhi apa yang Allah haramkan, tanpa merasakan kenikmatan dalam mematuhi perintah Tuhannya?
Ia menjelaskan lebih jauh bahwa seseorang bisa saja bersusah payah untuk bangun menunaikan shalat Subuh dan menanggung beratnya hal itu, dan ia memang akan diberi pahala karena bertahan atas kesukaran itu. Namun yang lain bisa bangun dengan penuh semangat dan gembira untuk shalat yang sama, dan ia pun diberi pahala. Skiredj memandang keadaan kedua itu lebih agung, karena terdapat perbedaan yang sangat besar antara orang yang taat dengan jiwa yang rela dan orang yang taat dalam keadaan tertindih oleh keberatan.
Allah berfirman: “Sesungguhnya itu berat kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
Ia memberi contoh seseorang yang lapar, lalu makan malam telah dihidangkan sementara waktu shalat telah masuk. Syariat membolehkan orang itu makan terlebih dahulu agar ia tidak berdiri di hadapan Allah sementara jiwanya terbebani dan tercerai-berai. Kaidahnya jelas: ketaatan tidak semestinya didekati dengan rasa kesal dan kekasaran batin.
Ia juga memperingatkan tentang penyakit ruhani yang halus pada sebagian murid: mereka bisa mengabaikan kesempurnaan shalat fardhu karena berhasrat menyelesaikannya dengan cepat lalu beralih kepada wirid atau ibadah tambahan yang mereka bebankan atas diri mereka sendiri. Kemudian, ketika mereka melakukan ibadah tambahan itu, mereka pun terpecah oleh pikiran tentang amalan sunnah lain lagi. Dengan cara ini, mereka menjadi berat terhadap amalan fardhu, lalu berat terhadap amalan yang mereka wajibkan atas diri sendiri, sementara mereka mengejar apa yang tidak diwajibkan. Ini, katanya, adalah tanda orang yang belum duduk bersama ahlullah dan karena itu belum diperlihatkan cacat-cacat tersembunyi dari jiwanya sendiri.
Untuk Diterimanya Shalawat atas Nabi
Di antara ajaran yang ditransmisikan dalam tradisi keulamaan Tijani adalah bahwa malaikat yang ditugaskan mengumpulkan shalawat atas Nabi, shalawat dan salam atas beliau, bernama Salsayil. Jika shalawat itu diterima, ia menyampaikannya kepada Nabi dan menyebutkan nama orang yang
mengirimkannya.XXXXX
Jika hal itu tidak diterima, ia menyampaikannya tanpa menyebut nama pengirimnya, seraya berkata saja: “Ini adalah shalawat yang dikirimkan kepada Anda pada waktu sekian dan sekian.”
Para ulama menyebutkan syarat-syarat penerimaan:
bahwa ia dibaca dalam keadaan suci dari hadas;
di tempat yang suci;
tanpa menyelanya dengan pembicaraan yang asing;
dan tidak dalam keadaan hati yang sepenuhnya lalai.
Mereka juga menjelaskan bahwa agar seseorang terhitung termasuk orang yang banyak bershalawat atas Nabi, shalawat itu mesti lahir dari ketaatan kepada perintah Allah, pengagungan kepada Nabi, kecintaan kepadanya, kesadaran akan sebagian sifat-sifat mulianya, serta gambaran batin tentang kehadiran beliau yang diberkahi seakan-akan seseorang berada di hadapannya. Lalu ia bershalawat atas beliau dengan hadirnya hati, kerendahan diri, dan adab. Jika sekalipun sekali sehari hal ini dilakukan dengan cara yang paling sempurna, orang itu terhitung termasuk orang yang banyak bershalawat atas beliau.
Juga diriwayatkan dari Sidi al-Damrawi bahwa siapa pun yang bershalawat atas Nabi sepuluh kali pada setiap dari lima waktu shalat, dan menambahkan sepuluh lagi di pertengahan malam secara terus-menerus, dianugerahi keselamatan dari murka Allah dan menjadi berhak atas syafaat.
Sifat-Sifat Para Faqih Sejati
Para faqih sejati ialah orang-orang yang memiliki bashirah (pandangan batin) dalam agama mereka. Mereka memandang kebenaran tanpa merendahkan orang lain. Mereka mengetahui dan mengakui bahwa mujtahid yang benar memperoleh dua pahala, sedangkan mujtahid yang keliru memperoleh pahala atas ijtihadnya sesuai niat dan tujuan tulusnya, selama tidak ada pemelintiran kata-kata dan tidak ada serangan terhadap agama.
Definisi ini menetapkan standar yang tinggi: keilmuan yang sejati bukanlah kesombongan, ejekan, atau kedengkian golongan, melainkan keadilan, keseimbangan, dan ketulusan.
Bacaan yang Dibaca Ketika Shalat dan Setelahnya
Diriwayatkan dari Sidi al-'Arabi ibn al-Sa'ih bahwa Tuan kami, yakni Sīdī Aḥmad al-Tijānī, biasa membaca pada sujud pertama dari shalat lima waktu: Subhan Allah wa al-hamdu li-Allah, dan pada sujud kedua: Salat al-Fatih لما أغلق.
Manfaat terkait disebutkan dalam catatan-catatan Sidi Muhammad Skiredj: siapa pun yang membaca setelah shalat Subuh, Subhan Allah wa bi-hamdihi, Subhan Allah al-'Azim, dan bertekun dalam hal itu sekurang-kurangnya empat puluh hari berturut-turut, dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk dan tanpa kerelaannya.
Menjaga Adab ketika Dzikir
Sīdī Aḥmad al-Tijānī sangat menekankan adab yang benar dalam dzikir. Beliau melarang pelantunan yang bernada, intonasi berlebihan, memanjangkan suara, mendengarkan musik, bergoyang, mempertontonkan ekstase, dan luapan yang tak terkendali. Sebaliknya, beliau mensyaratkan kerendahan hati, keterpecahan diri di hadapan Allah, dan ketundukan.
Jika orang-orang sedang mengingat Allah di sebuah rumah, suara mereka tidak boleh terdengar dari pintu masuk. Suara mereka hendaknya pelan, seperti dengung lebah, sebagai pengagungan terhadap rumah-rumah Allah, tempat suara tidak boleh ditinggikan, apalagi teriakan dan pekik.
Para ulama mengutip ayat: “Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suara mereka di hadapan Rasul Allah...” dan menjelaskan bahwa Nabi, para khalifah yang saleh, dan para teladan agung boleh jadi hadir secara ruhani pada haylala Jumat apabila ia bersih dari bid'ah, fitnah, sikap main-main, dan permainan. Jika tidak, mereka tidak hadir.
Nabi juga bersabda: “Jauhkanlah anak-anak kalian dari masjid-masjid kalian, dan jauhkan darinya suara-suara kalian yang ditinggikan, perselisihan, jual-beli.” Dan beliau bersabda: “Ucapan di masjid selain dzikir kepada Allah memakan amal-amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu kering.”
Mengenali Para Penipu dan Pendusta
Di antara tanda-tanda para pemalsu rohani dan para penyamar ialah sebagai berikut: apabila engkau melihat seseorang memberi perhatian besar kepada kisah-kisah karamah yang langka dan ganjil, wirid-wirid tambahan, rahasia-rahasia yang terdengar asing, dan khayalan-khayalan yang mencurigakan, seraya terus-menerus memuji keanehan-keanehan ini alih-alih memuji wird yang diwajibkan dan bentuk-bentuk dzikir yang diperlukan, maka ketahuilah tanpa ragu bahwa ia sesat dan menyesatkan orang lain.
Para ulama Tijani jelas dalam hal ini: keaslian rohani tidak diukur dengan klaim-klaim sensasional, melainkan dengan kesetiaan kepada kewajiban-kewajiban dan awrad yang telah mapan.
Apa yang Boleh Diucapkan pada Bulan Sya'ban
Sebuah faedah yang tercatat dalam catatan-catatan keilmuan menyatakan bahwa tertulis di dalam Taurat bahwa siapa pun yang mengucapkan pada bulan Sya'ban:
La ilaha illa Allah wa la na'budu illa iyyahu mukhlisina lahu al-din wa law kariha al-kafirun
Allah menuliskan baginya pahala seribu tahun ibadah, menghapus darinya dosa-dosa seribu tahun, dan membangkitkannya dari kuburnya dengan wajah laksana bulan purnama. Allah Maha Mengetahui.
Perlindungan dari Ghibah
Nabi, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam atas beliau, bersabda: jika engkau duduk dalam suatu majelis, ucapkan:
Bismillah al-Rahman al-Rahim, wa salla Allah 'ala Sayyidina Muhammad
Maka Allah menugaskan atasmu seorang malaikat yang mencegahmu dari menggunjing orang lain. Dan ketika engkau bangkit dari majelis itu, ucapkanlah formula yang sama, niscaya orang-orang tidak akan menggunjingmu, karena malaikat itu mencegah mereka melakukannya.
Ini adalah mutiara yang indah, sekaligus adab dan perlindungan: memulai dan menutup pertemuan-pertemuan sosial dengan Nama Allah dan shalawat atas Rasul-Nya.
Bagi Siapa pun yang Rindu Melihat Nabi dalam Mimpi
Para ulama memelihara beberapa amalan yang dinukilkan bagi orang yang dengan tulus ingin melihat Nabi, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam atas beliau, dalam mimpi.
Di antaranya:
mandi pada malam الجمعة, shalat dua rakaat, dan di dalamnya membaca Qul huwa Allahu ahad seribu kali;
atau shalat dua rakaat yang di dalamnya membaca al-Fatiha sekali, Ayat al-Kursi sekali, dan Qul huwa Allahu ahad lima belas kali pada setiap rakaat, kemudian setelah shalat bershalawat atas Nabi seribu kali;
atau mengucapkan tujuh puluh kali:Allahumma salli 'ala ruhi Muhammad fi al-arwah, Allahumma salli 'ala jasadi Muhammad fi al-ajsad, Allahumma salli 'ala qabri Muhammad fi al-qubur.
Amalan lain yang dinukilkan ialah shalat dua rakaat, membaca al-Fatiha sekali dan Qul huwa Allahu ahad seratus kali pada setiap rakaat, kemudian setelah shalat mengucapkan tiga kali:
Ya Muhsin, Ya Mujmil, Ya Mun'im, Ya Mutafaddil, arini wajha Nabiyyika صلى الله عليه وسلم
Doa lain yang lebih panjang juga dicatat untuk tujuan yang sama.
Sidi Ahmad Skiredj juga mencatat bahwa ayahnya mengabarkan kepadanya: siapa pun yang melantunkan shalawat berikut atas Nabi tujuh ratus kali dapat melihat beliau pada malam itu juga. Ia sendiri mengamalkannya, dan ketika membacanya rasa kantuk menguasainya lalu ia melihat Nabi:
Allahumma salli 'ala Sayyidina Muhammad salatan tunajjina biha min jami' al-ahwal wa al-afat, wa taqdi lana biha jami' al-hajat, wa تطهرنا بها من جميع السيئات، وترفعنا بها أعلى الدرجات، وتبلغنا بها أقصى الغايات، من جميع الخيرات في الحياة وبعد الممات.
Salah Satu Sarana Terkuat untuk Melihat BeliauPara para ulama juga mengajarkan bahwa di antara sarana terkuat untuk melihat Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah atas beliau, ialah membayangkan beliau dengan jelas ketika mendengarkan hadis-hadis beliau, perintah-perintah beliau, dan larangan-larangan beliau.
Seorang ‘arif dapat membayangkan beliau:
di Badr, ketika orang-orang beriman berlindung kepada beliau dan para malaikat turun untuk menolong beliau;
pada hari فتح, dikelilingi oleh kaum Anshar, sementara di antara mereka tidak tampak selain kilatan besi;
memasuki Madinah pada masa Hijrah, ketika para gadis dan anak-anak melantunkan, “Telah terbit bulan purnama atas kami...”;
di bawah Pohon Ridwan ketika para Sahabat berbaiat untuk mati di hadapan beliau;
bersujud di dekat ‘Arsy hingga dikatakan kepada beliau, “Angkatlah kepalamu, mintalah niscaya engkau diberi, berilah syafaat niscaya syafaatmu diterima”;
atau mengetuk pintu Surga sementara orang-orang beriman mengikuti di belakang beliau.
Para ulama mengatakan bahwa manusia berbeda-beda dalam seberapa dalam citra Nabi itu terpatri di hati mereka. Ada yang baru dapat menangkapnya setelah upaya dan perenungan. Ada yang melihatnya setiap kali mereka mengingat beliau dengan sangat kuat, terutama dalam khalwat. Ada pula yang sering melihat beliau setiap kali rasa kantuk menguasai mereka. Dan ada sebagian, para pemilik maqam tertinggi, yang menyaksikan beliau dengan mata bashirah baik dalam keadaan terjaga maupun tidur. Lebih tinggi lagi adalah mereka yang melihat beliau dengan mata lahir di alam inderawi. Semoga Allah menjadikan kita termasuk di antara mereka.
“Musafir yang Terus Bermusafir”
Seorang lelaki pernah bertanya kepada Rasulullah amal apakah yang paling baik. Beliau menjawab: “Engkau harus berpegang pada keadaan musafir yang terus bermusafir.” Ketika ditanya apa maknanya, beliau menjelaskan: yakni pendamping al-Qur’an yang memulai dari awalnya hingga mencapai akhirnya, lalu memulai lagi dari permulaan; setiap kali ia sampai, ia pun berangkat kembali.
Ini adalah sebuah mutiara tentang ketekunan: kehidupan ruhani bukanlah semangat sesaat, melainkan kembali secara terus-menerus.
Apa yang Diucapkan Saat Memakai Pakaian
Sebuah hadis meriwayatkan bahwa siapa pun yang mengenakan pakaian lalu mengucapkan:
Al-hamdu li-Allah alladhi كساني هذا ورزقنيه من غير حول مني ولا قوة
“Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan ini kepadaku dan mengaruniakannya kepadaku tanpa daya dan kekuatan dari diriku sendiri,”
niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan dalam sebagian riwayat, bahkan juga yang akan datang.
Apa yang Diucapkan Sebelum Tidur
Ketika Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah atas beliau, hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipi kanannya dan mengucapkan:
Bismika Rabbi wada'tu جنبي وبك أرفعه، اللهم إن أمسكت روحي فاغفر لها، وإن أرسلتها فاحفظها بما تحفظ به عبادك الصالحين
“Dengan Nama-Mu, wahai Tuhanku, aku membaringkan sisi tubuhku, dan dengan-Mu aku mengangkatnya. Ya Allah, jika Engkau menahan ruhku maka ampunilah ia, dan jika Engkau mengembalikannya maka peliharalah ia sebagaimana Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang saleh.”
Pentingnya Menyambungkan Basmalah dengan al-Fatihah
Sebuah transmisi yang mengagumkan yang dijaga oleh para ulama menyatakan bahwa siapa pun yang membaca Bismillah al-Rahman al-Rahim yang disambungkan langsung kepada al-Fatihah dalam satu tarikan napas, Allah berfirman: demi Keperkasaan-Ku, Keagungan-Ku, Kemurahan-Ku, dan Karunia-Ku, jadilah kalian saksi terhadap-Ku bahwa Aku telah mengampuninya, menerima amal-amal baiknya, mengabaikan dosa-dosanya, tidak akan membakar lidahnya di dalam Neraka, dan akan melindunginya dari azab kubur, azab Neraka, azab Hari Kiamat, dan kengerian terbesar.
Apa pun kedudukan tepat riwayat semacam ini, para ulama memeliharanya untuk menegaskan adab pengagungan terhadap Basmalah dan pembuka Kitab.
Apa yang Dibaca pada Hari ‘Arafah
Sebuah doa yang penuh berkah ditransmisikan untuk Hari ‘Arafah, untuk dibaca seratus kali:
Bismillah ma شاء الله لا قوة إلا بالله.Bismillah ma شاء الله لا يسوق الخير إلا الله.Bismillah ma شاء الله لا يكشف السوء إلا الله.Bismillah ma شاء الله كل نعمة من الله.Ma شاء الله الخير كله بيد الله.Ma شاء الله لا يصرف السوء إلا الله.
Ini adalah cara yang sederhana dan kuat untuk menegaskan ketergantungan total kepada Allah.
Tempat dan Saat untuk Bershalawat atas Nabi
Para ulama menyebutkan beberapa waktu ketika mengirim shalawat kepada Nabi memiliki keutamaan khusus.
Di antaranya adalah hari Sabtu, berdasarkan sebuah riwayat yang mengatakan: “Perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari Sabtu, karena orang-orang Yahudi memperbanyak aktivitas dagang mereka pada hari itu; siapa pun yang bershalawat kepadaku seratus kali pada hari itu, ia telah membebaskan dirinya dari Neraka dan telah berhak memperoleh syafaat.”
Mereka juga menyebutkan saat bersin. Sebuah riwayat menyatakan bahwa siapa pun yang bersin lalu mengucapkan:
Al-hamdu li-Allah Rabb al-'alamin 'ala kulli hal, wa salla Allah 'ala Sayyidina Muhammad wa ahli baytih
Allah menciptakan dari lubang hidung kirinya seekor burung yang lebih besar daripada lalat dan lebih kecil daripada belalang, yang mengepak di bawah ‘Arsy seraya berkata: “Ya Allah, ampunilah orang yang mengucapkannya.”
Untuk Meraih Kebahagiaan yang Kekal
Di antara doa-doa kenabian yang ringkas yang dijaga oleh para ulama adalah doa ini:
Allahumma aghnini bi-l-'ilm, wa zayyinni bi-l-hilm, wa akrimni bi-l-taqwa, wa jammilni bi-l-'afiya
“Ya Allah, kayakanlah aku dengan ilmu, hiasilah aku dengan kelembutan dan kelapangan hati, muliakanlah aku dengan takwa, dan indahkanlah aku dengan afiyah.”
Para ulama mengatakan bahwa siapa pun yang tekun dengan doa ini akan meraih apa yang ia harapkan, dengan karunia Allah.
Apa yang Diucapkan pada Hari ‘Ashura
Di antara faedah yang ditransmisikan ialah bahwa siapa pun yang membaca tujuh kali pada hari ‘Ashura:
Subhan Allah ملء الميزان ومنتهى العلم ومبلغ الرضا وعدد النعم وزنة العرش، لا ملجأ ولا منجى من الله إلا إليه، سبحان الله عدد الشفع والوتر وعدد كلمات الله التامة كلها، أسألك السلامة كلها برحمتك يا أرحم الراحمين، ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم، وهو حسبي ونعم الوكيل، نعم المولى ونعم النصير، وصلى الله على سيدنا محمد كلما ذكره الذاكرون وغفل عن ذكره الغافلون
ia tidak akan wafat pada tahun ia membacanya; dan jika ajal yang telah ditetapkan baginya telah mendekat, Allah tidak akan memberinya taufik untuk membacanya.
Catatan-catatan para ulama yang sama juga memelihara hadis-hadis masyhur:
“Siapa pun yang bermurah hati kepada keluarganya pada hari ‘Ashura, Allah akan bermurah hati kepadanya sepanjang sisa tahun.”
“Berpuasa pada hari ‘Ashura: aku berharap kepada Allah bahwa ia akan menghapus (dosa) tahun yang telah berlalu sebelumnya.”
Makna Shalawat Ibrahimiyah
Sang ‘arif Abu Muhammad al-Marjani menjelaskan mengapa Nabi mengajarkan kaum mukmin untuk mengucapkan dalam shalawat Ibrahimiyah, “sebagaimana Engkau bershalawat atas Ibrahim”, bukan “sebagaimana Engkau bershalawat atas Musa.”
Ia berkata bahwa Musa mengalami tajalli Ilahi dalam aspek keagungan (jalal), sehingga ia pun jatuh pingsan; sedangkan Ibrahim mengalami tajalli dalam aspek keindahan (jamal), karena cinta dan persahabatan yang intim termasuk di antara آثار dari tajalli keindahan. Maka kaum mukmin diajarkan untuk memohon agar keberkahan dilimpahkan atas Nabi dalam corak جمال yang dianugerahkan kepada Ibrahim.
Ini tidak berarti adanya kesetaraan derajat antara kedua nabi tersebut. Melainkan, ini berarti keserupaan dalam jenis tajalli, sementara masing-masing menerimanya sesuai maqamnya yang khas di hadapan Allah. Nabi tetap merupakan yang tertinggi derajatnya, sekalipun shalawat itu menyeru corak keindahan Ilahi yang bersifat Ibrahimiyah.
Rahim yang Terlupakan
Muhyi al-Din Ibn ‘Arabi menukil dalam al-Futuhat bahwa ia pernah melaksanakan Haji dan ‘Umrah—ia dan para sahabatnya—atas nama bapak kita Adam dan ibu kita Hawwa’. Ia melihat banyak malaikat menerima pahala amalan itu dengan suka cita, lalu berkata: “Itu adalah rahim yang terlupakan.”
Ungkapan singkat ini sarat kelembutan: ia mengingatkan kaum beriman agar tidak hanya mengenang orang-orang saleh dan para wali, tetapi bahkan kedua orang tua pertama umat manusia.
Berbagai Faedah
Para ulama meriwayatkan bahwa Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī biasa menganjurkan para sahabatnya untuk melaksanakan shalat dua rakaat setelah Maghrib sebelum berbicara.
Pada rakaat pertama dibaca al-Fatiha, lalu dari awal Surat al-Baqarah hingga “...mereka itulah orang-orang yang berbuat perbaikan”, kemudian “Dan Tuhan kalian adalah Tuhan Yang Esa...” hingga “...kaum yang memahami,” lalu Qul huwa Allahu ahad lima belas kali.
Pada rakaat kedua dibaca al-Fatiha, lalu Ayat al-Kursi hingga “...mereka akan kekal”, kemudian “Rasul beriman...” sampai akhir surah, lalu Qul huwa Allahu ahad lima belas kali.
Pahala yang diriwayatkan terkait shalat ini sangat besar, dengan penyebutan kota-kota, istana-istana, rumah-rumah, kamar-kamar, paviliun-paviliun, dan berbagai kenikmatan di dalam Surga, yang ukuran hakikinya hanya Allah yang mengetahuinya.
Untuk Terpenuhinya Hajat
Wali yang saleh, Sidi Ahmad ibn Muhammad ibn Nasir al-Dar‘i, menyebutkan bahwa siapa pun yang hendak menyampaikan suatu hajat dan menginginkan agar hajat itu dipenuhi hendaknya menulis Muhammad pada jari kelingking tangan kanan dan Dahṭa pada ibu jari, lalu menuju keperluannya; dan hajat itu akan dipenuhi dengan daya dan kekuatan Allah.
Ajaran lain yang terjaga dalam tradisi yang sama mengatakan: bila al-Fatiha sedang dibaca dan engkau mengetahui bahwa ia adalah Tujuh Ayat yang Diulang-ulang dan al-Qur’an yang Agung, maka bentuklah niat untuk hajatmu pada permulaan al-Fatiha; sebab satu al-Fatiha saja mencukupi bagi penduduk langit dan bumi.
Tebusan dari Api
Di antara faedah yang diriwayatkan adalah perkataan:
Barang siapa mengucapkan La ilaha illa Allah tujuh puluh ribu kali, ia telah menjadikannya sebagai tebusannya.
Para ulama juga menyebutkan bahwa barang siapa membaca Basmalah delapan ratus kali, seraya meyakini rububiyyah Allah, akan ditebus dari Api dan dimasukkan ke dalam Surga yang kekal.
Apa yang Dibaca ketika Melihat Jenazah atau Memasuki Pekuburan
Suatu faedah menyatakan: barang siapa melihat iring-iringan jenazah lalu mengucapkan tiga kali:
Hatha ma wa'adana Allah wa Rasuluh, wa sadaqa Allah wa Rasuluh, Allahumma zidna imanan wa taslima
“Ini adalah apa yang Allah dan Rasul-Nya janjikan kepada kami, dan Allah serta Rasul-Nya berkata benar. Ya Allah, tambahkanlah kepada kami iman dan kepasrahan,”
maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan hingga Hari Kiamat.
Riwayat lain menyebutkan bahwa barang siapa memasuki kuburan lalu mengucapkan:
Allahumma Rabb hadhihi al-ajsad al-baliya wa al-'izam al-nakhira التي خرجت من الدنيا وهي بك مؤمنة، أدخل عليها روحا منك وسلاما مني
akan memperoleh pahala sesuai jumlah orang beriman yang telah wafat sejak Allah menciptakan Adam.
Para ulama juga mencatat bahwa banyak anggota keluarga Skiredj berharap dimakamkan dekat para masyayikh Tijani yang saleh, seperti Sidi al-Tayyib al-Sufyani dan Sidi Ahmad al-‘Abdalawi, demi mencari keberkahan kedekatan dengan orang-orang bertakwa bahkan setelah wafat.
Untuk Orang yang Melihat Sesuatu yang Menakutkan dalam Mimpi
Barang siapa melihat dalam mimpi sesuatu yang tidak disukainya dan hal itu menakutkannya, hendaknya ia meludah ringan ke sebelah kirinya tiga kali dan mengucapkan:
A'udhu bi kalimat Allah al-tammati min kulli shaytan wa hammah wa min kulli 'ayn lammah
Maka Allah akan melindunginya dari apa yang menakutkannya.
Doa kenabian yang lain adalah:
A'udhu bi kalimat Allah al-tammati min ghadabihi wa 'iqabihi wa sharri 'ibadihi wa min sharri hamazat al-shayatin wa an yahdurun
‘Abd Allah ibn ‘Umar biasa mengajarkannya kepada orang-orang yang berada dalam tanggungannya yang telah mencapai kedewasaan, dan menuliskannya bagi mereka yang belum.
Keutamaan Agung Surat al-Ikhlas
Sidi Ahmad Skiredj mencatat sebuah riwayat tentang Sahabat Mu‘awiya ibn Mu‘awiya al-Muzani, yang wafat pada masa hidup Nabi. Jibril datang kepada Nabi dan berkata: “Wahai Muhammad, Mu‘awiya al-Muzani telah wafat. Maukah engkau menyalatkannya?” Nabi menjawab ya. Lalu Jibril menghentakkan bumi dengan sayapnya hingga tidak tersisa satu pun pohon atau bukit kecuali menunduk, dan usungan jenazah itu diangkat untuk Nabi hingga beliau melihatnya dan menyalatkannya. Di belakang beliau berdiri dua saf malaikat, tiap saf berisi tujuh puluh ribu malaikat.
Nabi bertanya: “Wahai Jibril, dengan apa ia meraih kedudukan ini di sisi Allah?” Ia menjawab: “Dengan kecintaannya kepada Qul huwa Allahu ahad dan dengan membacanya ketika pergi dan pulang, ketika berdiri dan duduk, dan dalam setiap keadaan.”
Ini termasuk kesaksian yang paling indah atas keagungan Surat al-Ikhlas.
Untuk PerlindunganDi antara doa-doa yang diijazahkan oleh para masyayikh adalah:
Allahumma sakin ṣadmat qahraman al-jabarut bi-altafika al-khafiyya al-warida min bab al-malakut, hatta natashabbath bi-adhyal lutfik wa na'tasim bika min inzal qudratik, ya dha al-qudra al-kamila wa al-rahma al-shamila, ya dha al-jalal wa al-ikram.
Doa penting lainnya untuk masa wabah dan musibah adalah:
Allahumma a'simni min jahd al-bala', wa dark al-shaqa', wa su' al-qada', wa mawt al-fuja'a...
Para ulama juga menjaga suatu perlindungan pagi dan petang yang tersusun dari:
A'udhu بالله السميع العليم من الشيطان الرجيم tujuh kali,
ayat-ayat dari Surat al-Tawbah,
dan Hasbiya Allah la ilaha illa Huwa, 'alayhi tawakkaltu wa Huwa Rabb al-'Arsh al-'Azim tujuh kali.
Dikatakan bahwa ini memberi manfaat bahkan bagi orang yang berdosa.
Sebuah riwayat dari Anas juga menyatakan: barangsiapa meminta perlindungan sepuluh kali dalam sehari, Allah menugaskan seorang malaikat untuk menolak setan darinya.
Bagi Orang yang Ingin Melihat dalam Mimpi Apa yang Menyangkut Dirinya
Sebuah faidah yang terpelihara dalam catatan-catatan menyebutkan: barangsiapa ingin melihat dalam mimpi sesuatu yang menyangkut dirinya hendaknya ia menyebut nama-nama Ilahi ini di atas pembaringannya hingga tidur menguasainya:
al-'Alim, al-Halim, al-Badi', al-Nur, al-Qabid, al-Basit, al-Awwal, al-Akhir, al-Zahir, al-Batin
Keagungan Surat Ya-Sin
Sidi Ahmad Skiredj meriwayatkan bahwa syekhnya menceritakan kepada mereka tentang seorang lelaki yang pernah mendengar bahwa membaca Ya-Sin melindungi pembacanya dari segala bahaya, terutama para pencuri. Maka ia pun senantiasa menjaganya dengan setia. Pada suatu hari para perampok menyerangnya—beserta sekelompok orang yang bersamanya—lalu mengambil seluruh harta benda mereka. Ia tetap melanjutkan bacaannya tanpa peduli. Kemudian mereka mendatanginya dan menanggalkan pula barang-barangnya sendiri, namun ia tetap membaca. Akhirnya mereka membentangkannya untuk menyembelihnya. Pada saat itu ia menghela napas dan berseru: “La ilaha illa Allah, apakah ini, wahai Ya-Sin?”
Ketika perampok yang hendak membunuhnya mendengar kata-kata “wahai Ya-Sin,” ia mundur dan berkata: “Orang ini mengenalku,” karena namanya adalah Yasin. Maka mereka pun mengembalikan harta bendanya dan harta benda para sahabatnya.
Skiredj berkomentar bahwa ini termasuk di antara kekhususan surah ini.
Untuk Memudahkan Pertanyaan di Alam Kubur dan Menghindari Siksaannya
Para ulama menyebutkan sebuah doa yang, apabila ditulis dengan cara tertentu, akan memudahkan pertanyaan dua malaikat dan melindungi dari siksa kubur:
Ya Karim al-'afw, ya dha al-'adl alladhi mala'a 'adluhu kulla shay'
Mereka juga mencatat rincian-rincian fikih tentang menulis ayat-ayat Al-Qur’an atau doa-doa Nabi pada kain kafan atau pada jimat yang dikuburkan bersama mayit. Kehati-hatian besar harus dijaga demi penghormatan terhadap nama-nama Ilahi dan teks Al-Qur’an, dan sebagian metode dinilai makruh kecuali bila benar-benar memelihara kesakralan itu.
Renungan Penutup
Mutiara-mutiara ini menunjukkan keluasan tradisi keilmuan Tijani. Ia tidak terbatas pada doktrin yang abstrak atau pengajaran yang formal. Ia merangkul:
dzikir dan cahaya batin,
penghambaan dan kerendahan hati,
kemanisan dalam ketaatan,
adab dalam dzikir,
cinta kepada Nabi,
doa-doa praktis untuk kehidupan sehari-hari,
perlindungan pada masa ketakutan,
dan penghormatan terhadap kematian, kubur, dan akhirat.
Inilah persisnya yang membuat warisan para ulama Tijani demikian kaya: mereka mengajarkan sekaligus puncak-puncak tahqiq rohani dan doa-doa konkret, rumus-rumus wirid, serta tata krama yang membentuk hari biasa seorang mukmin.
Pada bagian berikutnya, akan menyusul mutiara-mutiara lain dari warisan yang begitu besar ini, masing-masing menyimpan serpihan kecil namun kuat dari hikmah para masyayikh Tijani.
+++