21/3/20267 min readFR

Cinta Kaum Tijani kepada Sayyida Fatima al-Zahra: Sebuah Teladan Hidup dalam Puisi Sidi Mohamed Erradi GuennounBagaimana kecintaan kepada putri Nabi terus hidup dalam tradisi Tijani

Skiredj Library of Tijani Studies

Dalam thariqah Tijani, cinta kepada Ahl al-Bayt, keluarga mulia Nabi Muhammad, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, bukanlah perasaan sampingan. Ia adalah bagian yang hidup dari kehidupan ruhani, pengabdian, dan adab. Di antara anggota keluarga Nabi, Sayyida Fatima al-Zahra, semoga Allah meridhainya, menempati kedudukan penghormatan yang amat dalam di hati para murid Tijani.

Cinta ini tidak semata-mata bersifat teoretis. Ia tampak dalam doa, dalam pengajaran ruhani, dalam penghormatan kepada keluarga kenabian, dan dalam karya-karya devosional. Salah satu contoh modern yang menonjol dari keterikatan ini dapat ditemukan dalam puisi sang ulama Sidi Mohamed Erradi Guennūn Al-Idrissi Al-Hassani, yang tulisan-tulisannya mengekspresikan cinta, pemuliaan, dan pengagungan yang mendalam kepada Sayyida Fatima.

Kumpulan puisinya yang dikenal sebagai Fatimiyyat memuat empat puluh puisi pujian bagi Sayyida Fatima al-Zahra, yang digubah beberapa dekade silam. Khazanah karya ini menghadirkan contoh yang kuat tentang bagaimana cinta kepada putri Nabi terus hidup di hati orang-orang Tijani.

Cinta kepada Sayyida Fatima dalam ruh Tijani

Tradisi Tijani berakar kuat pada cinta kepada Rasul Allah, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, dan hal itu secara alami meluas menjadi cinta kepada keluarganya yang disucikan. Dalam pandangan ini, pengabdian kepada Sayyida Fatima merupakan bagian dari etika ruhani yang lebih luas, yang dibangun di atas penghormatan, syukur, kesetiaan, dan pengakuan atas martabat suci.

Bagi kalangan Tijani, Sayyida Fatima tidak dikenang hanya sebagai sosok sejarah. Ia dimuliakan sebagai:

putri tercinta Nabi,

yang suci dari keluarga kenabian,

ibu al-Hasan dan al-Husayn,

dan salah satu perempuan dengan derajat ruhani dan kemuliaan yang paling tinggi.

Hal ini menjelaskan mengapa para ulama dan para pecinta thariqah Tijani kerap menyebutnya dengan kelembutan, rasa gentar, dan kerendahan hati.

Teladan Sidi Mohamed Erradi Guennūn

Di antara suara-suara kontemporer, Sidi Mohamed Erradi Guennūn tampil menonjol sebagai contoh hidup dari cinta ini. Dengan kata-katanya sendiri, Fatimiyyat-nya memuat empat puluh puisi yang dipersembahkan untuk memuji “bagian suci” dari Nabi, Sayyida Fatima al-Zahra, semoga Allah meridhainya. Ia

menjelaskan bahwa ia menggubah puisi-puisi ini hampir empat puluh tahun yang lalu, pada permulaan abad Hijriah sekarang.

Ini penting. Hal itu menunjukkan bahwa pujiannya kepada Sayyida Fatima bukanlah sesuatu yang sesekali atau sekadar simbolik. Ia berkesinambungan, disengaja, dan lahir dari hati. Menulis satu puisi dapat menjadi tindakan kekaguman. Menulis empat puluh puisi menyingkapkan pengabdian yang telah lama bersemi.

Melalui bait-bait ini, ia menampilkan Sayyida Fatima sebagai sosok kesucian, keagungan, kelembutan, kebenaran, dan kedekatan kepada Nabi. Bahasanya penuh takzim dan menjulang, namun sarat kehangatan dan kerinduan.

Puisi tentang penghormatan, keindahan, dan kedekatan

Salah satu tema yang berulang dalam puisi-puisi ini ialah gagasan bahwa Sayyida Fatima merupakan sumber cahaya ruhani dan ingatan mulia. Dalam satu puisi, ia menulis:

Wewangian pun merebak, dan kayu menjadi manis oleh harumnya:

inilah Fatima, maka biarlah jiwa bergembira.

Ini adalah citra yang ringkas namun kuat. Penyebutannya ditautkan dengan wewangian, kemanisan, dan kegembiraan jiwa. Dalam sensibilitas Tijani, ini bukan sekadar bahasa hiasan. Ia memantulkan budaya ruhani di mana mengingat keluarga Nabi menghadirkan kelembutan pada hati.

Dalam bagian lain, ia menulis:

Jiwaku merindu memuji Fatima,

karena di dalamnya ada karunia, mata air yang mengalir, dan seorang penyuguh minuman.

Terjemahan ini menyampaikan gagasan bahwa memuji Sayyida Fatima bukan sekadar devosi sastra. Ia merupakan sumber asupan ruhani. Pujian kepadanya menjadi sarana penyegaran batin, seakan-akan meminum dari mata air yang suci.

Sayyida Fatima sebagai putri Nabi dan pemimpin kemuliaan

Tema besar lain dalam puisi-puisi ini ialah kedudukannya yang unik sebagai putri Rasul Allah, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya. Sidi Guennūn berulang kali mengaitkan kemuliaannya dengan asal-usulnya yang luhur tanpa mereduksi keutamaannya pada nasab semata. Kesuciannya, kejujurannya, dan maqam ruhani-nya semuanya ditonjolkan.

Dalam satu bagian yang mencolok, ia berkata:

Putri sang pemberi syafaat yang terpilih, sebaik-baik dari mereka yang matanya meneteskan air mata

karena gentar kepada Pelindung Yang Kekal.

Dan dalam puisi lain:

Tak ada perempuan yang pernah ditinggikan di atasnya,

sebab Allah menyelimutinya dengan karunia penjagaan.

Bait-bait ini menampilkan Sayyida Fatima sebagai sosok tunggal dalam derajat. Nadanya bukan polemis, melainkan devosional. Ini adalah bahasa seseorang yang memandangnya sebagai salah satu cahaya tertinggi dari keluarga kenabian.

Cinta yang menyatu dengan kerendahan hati dan permohonan

Puisi-puisi ini tidak hanya bersifat deskriptif. Ia juga sarat kerendahan hati dan permohonan. Sang penyair tidak sekadar memuji Sayyida Fatima dari kejauhan. Ia berpaling menuju maqam-nya dengan kebutuhan, adab, dan harap kepada Allah.

Dalam satu bagian yang mengharukan, ia menulis:

Wahai putri dari dia yang karenanya bulan terbelah di malam hari,

haram sucimu yang unik telah cukup bagi siapa pun yang mencari perlindungan.

Dan di tempat lain:

Aku datang ke haram sucimu dengan hak Yang Esa

yang ditampakkan melalui rahasia-rahasia ‘Arsy Yang Maha Pengasih.

Bait-bait ini menunjukkan sesuatu yang penting tentang budaya devosional Tijani: cinta kepada Sayyida Fatima terhubung dengan kerendahan hati, ketergantungan kepada Allah, dan penyucian ruhani. Ia bukan kekaguman yang dingin. Ia adalah penghormatan penuh cinta yang dibentuk oleh iman.

Imaji al-Baqi‘ dan ingatan yang suci

Sejumlah puisi menghadirkan al-Baqi‘, pemakaman penuh berkah di Madinah yang dalam ingatan Muslim terhubung dengan Sayyida Fatima dan keluarga mulia. Geografi sakral ini memperdalam daya emosi dan daya ruhani puisi-puisi tersebut.

Dalam satu bagian yang indah, Sidi Guennūn menulis:

Menghadaplah ke kanan menuju al-Baqi‘, dan bawalah aku ke sana,

menuju sebuah مقام yang dimahkotai cahaya.

Dan lebih lanjut:

Itulah taman Sang Wanita Suci; maka perlihatkan adab—

tanggalkanlah sandalamu, sebab ia adalah tempat yang memancarkan cahaya.

Bahasa ini memantulkan sikap takzim, bukan ingatan yang santai. Tempat yang dikaitkan dengan Sayyida Fatima digambarkan sebagai bercahaya dan layak menerima adab. Itu sangat khas dari etos Tijani: cinta diungkapkan melalui tata krama, kerendahan hati, dan kesadaran akan kehadiran yang suci.

Sayyida Fatima dalam imajinasi moral kalangan Tijani

Cinta kalangan Tijani kepada Sayyida Fatima tidak hanya bersifat emosional. Ia juga bersifat etis. Dalam puisi-puisi itu, ia dikaitkan dengan keutamaan-keutamaan seperti wibawa, kesantunan, kelembutan, kesabaran, dan kesucian.

Salah satu puisi mengatakan:Pada dirinya, kemuliaan dan kelapangan dada berkuasa תמיד,bersama kelembutan, kesucian diri, dan rasa malu.

Yang lain berkata:

Ia berpaling dari perhiasan kehidupan duniawidan justru merindukan taman-taman yang dilingkupi kedermawanan Ilahi.

Bait-bait ini menunjukkan bahwa cinta kepada Sayyida Fatima juga merupakan cinta kepada apa yang ia wakili: keluhuran ruhani, pengendalian diri, kejujuran, dan kedekatan kepada Allah.

Mengapa hal ini penting dalam tradisi Tijani

Jalan Tijani menegaskan keterikatan kepada Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, serta menapaki jalan dengan adab, cinta, dan ketulusan. Cinta kepada Sayyida Fatima secara alamiah masuk ke dalam kerangka ini. Ia adalah bagian dari cahaya Nabi dalam ingatan umat, dan memuliakannya menjadi salah satu cara memuliakan beliau.

Teladan Sidi Mohamed Erradi Guennūn sangat bernilai, karena memperlihatkan bahwa pengabdian ini masih hidup pada zaman sekarang. Syair-syairnya bukan peninggalan masa silam yang jauh. Ia adalah bukti bahwa cinta kepada Sayyida Fatima terus mengilhami para lelaki yang berilmu, fasih, dan berakar dalam spiritualitas pada jalan Tijani.

Karyanya menunjukkan bahwa pujian kepada Sayyida Fatima masih dapat sekaligus serius secara intelektual, lembut secara ruhani, dan indah secara estetis.

Contoh terakhir dari syairnya

Salah satu ungkapan yang paling jelas tentang keterikatan batinnya tampak dalam bait-bait ini:

Puja-pujiku kepadanya adalah tujuanku dan batas harapanku,kehormatanku, wasilahku, dan penawarku.

Ini barangkali salah satu ringkasan terkuat atas seluruh ruh yang melatari syair-syair ini. Sayyida Fatima tidak diperlakukan sebagai simbol yang jauh. Ingatannya ditenun ke dalam kerinduan, harapan, kehormatan, dan penyembuhan.

Itulah tepatnya mengapa Sidi Guennūn menjadi teladan yang begitu bermakna tentang cinta Tijani kepada putri Nabi.

Kesimpulan

Cinta kaum Tijani kepada Sayyida Fatima al-Zahra, semoga Allah meridhainya, adalah kenyataan yang hidup, berakar dalam pengabdian kepada Nabi Muhammad, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, serta penghormatan kepada Ahlulbait beliau yang mulia. Ia diekspresikan melalui doa, adab ruhani, sastra, dan dzikir yang lahir dari hati.

Syair-syair Sidi Mohamed Erradi Guennūn menawarkan contoh kontemporer yang kuat tentang keterikatan ini. Melalui empat puluh qasidahnya dalam pujian kepada Sayyida Fatima, ia menunjukkan betapa dalamnya cinta ini dapat menjadi: penuh takzim, bercahaya, rendah hati, dan tulus.

Dalam bait-baitnya, Sayyida Fatima hadir sebagai kesucian, keharuman, cahaya, martabat, dan perlindungan. Dan melalui bait-bait itu, kita melihat sesuatu yang esensial tentang hati Tijani: cintanya kepada Nabi tidak terpisahkan dari cinta kepada keluarga beliau, dan terutama kepada putri beliau yang mulia, Sayyida Fatima al-Zahra.

++++

Terjemahan ini mungkin mengandung ketidakakuratan. Versi rujukan bahasa Inggris dari artikel ini tersedia dengan judul The Love of the Tijanis for Sayyida Fatima al-Zahra: A Living Example in the Poetry of Sidi Mohamed Erradi Guennūn