Skiredj Library of Tijani Studies
Bagaimana pengabdian Tijani hidup melalui syair, dzikir, dan keterikatan yang sakral
Dalam jalan Tijani, pujian bukan semata ungkapan sastra. Ia adalah bahasa cinta, kesetiaan, takzim, dan syukur ruhani. Murid Tijani memuji Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya, karena ia melihat pada diri beliau seorang penunjuk menuju Allah, seorang pembaru Sunnah, dan seorang pemimpin jalan Muhammadi. Ia memuji zawiyah karena ia adalah tempat dzikir, transmisi, keberkahan, dan pertemuan. Ia memuji wird, Wadhifa, dan Jawharat al-Kamal karena semuanya tidak dipandang sebagai rumus-rumus kosong, melainkan sebagai amal-amal pengabdian yang bercahaya, yang membentuk kehidupan batin sang penempuh jalan.
Salah satu contoh modern yang paling jelas dari budaya pengabdian ini terdapat dalam syair-syair Profesor Sidi Mohamed Erradi Guennūn Al-Idrissi Al-Hassani. Dalam banyak qasidah, ia merayakan Syekh, tarekat ruhani Tijani, tempat-tempat sucinya, litani-litaninya, serta para sahabatnya, dengan bahasa yang sarat kewibawaan, kelembutan, dan keyakinan.
Syair-syairnya menunjukkan bahwa dalam tradisi Tijani, pujian adalah salah satu bentuk dzikir, dan dzikir adalah salah satu bentuk cinta.
Memuji Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī
Di pusat pengabdian Tijani berdiri Syekh Abu al-Abbas Sīdī Aḥmad al-Tijānī, semoga Allah meridhainya. Dalam syair-syair Sidi Guennūn, sang Syekh dipuji sebagai pembimbing, quthb, sumber sokongan ruhani, dan pewaris cahaya Muhammadi.
Dalam sebuah qasidah, ia menulis:
Kami datang memanggul beban kerinduan dan cintakepada Ahmad, Sang Penutup, al-Tijani ibn Salim.
Ini lugas, intim, dan bersifat devosional. Ziarah kepada sang Syekh digambarkan bukan sebagai wisata, melainkan sebagai perjalanan kerinduan.
Dalam petikan lain, ia berkata:
Dialah barzakh yang dikenal—maka takjublah engkaupada semilir harum yang tersembunyi di alamnya.
Dan di tempat lain:
Ahmad adalah cahaya kebenaran: siapa mengambil cahaya darinyamenjadi teguh berakar di jalan kebaikan yang melimpah.
Bait-bait ini sangat menyingkapkan. Sang Syekh tidak dipuji semata karena kesalehan pribadi, melainkan sebagai poros hidup bagi bimbingan, jembatan menuju perwujudan ruhani, dan sumber pencerahan bagi mereka yang mencari Allah.
Bait lain yang mencolok berbunyi:
Datanglah menuju lautan para arif, Abu al-Fayd,dan tinggalkan sungai serta aliran yang dangkal di belakang.
Di sini, penyair membandingkan air biasa dengan lautan yang luas. Ini adalah cara mengatakan bahwa Syekh al-Tijani bukan sekadar salah satu guru ruhani di antara yang lain, melainkan samudra ma’rifat dalam pandangan para pecintanya.
Cinta Tijani kepada makam Syekh di Fez
Bagi kaum Tijani, tempat peristirahatan Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī di Fez bukanlah tempat biasa. Ia terkait dengan takzim, ziarah, doa, ingatan, dan keterhubungan ruhani. Dalam syair-syair Sidi Guennūn, Fez tampil sebagai kota kerinduan karena di sanalah bersemayam kehadiran sang Syekh yang diberkahi.
Dalam sebuah qasidah yang disusun saat berziarah ke makam, ia menulis:
Jika engkau bertanya apa yang berada di balik pintu ini—itulah ilmu yang inti terdalamnya adalah hakikat yang murni.
Lalu ia menambahkan:
Dialah Quthb, sang pembela Sunnah yang sejati,sekalipun semua suara berdengung bangkit melawannya.
Dan lebih lanjut:
Wahai tuanku Sīdī Aḥmad al-Tijānī—betapa mulianya dia,samudra tanpa batas dalam limpahan karunia.Pintu makam keramat itu menjadi simbol. Ia bukan semata-mata pintu masuk ke sebuah bangunan, melainkan ambang pengetahuan, penghormatan, dan warisan ruhani.
Dalam sebuah syair lain yang ditujukan kepada seorang sahabat yang hendak mengunjungi makam itu, ia berkata:
Datanglah segera menuju mausoleum ini,dan bersukacitalah memandang Sang Qutb kemuliaan, cahaya, dan wajah yang bercahaya.
Lalu:
Berpegangteguhlah pada wird-nya dengan rendah hati dan kepasrahan,dan nikmatilah kehidupan dengan damai batin.
Ini penting: ziarah ke makam itu secara alami menuntun kepada keterikatan pada wird. Tempat dan amalan saling berjalin. Cinta kepada Sang Syekh disempurnakan oleh komitmen pada jalan beliau.
Zawiya sebagai tempat bimbingan dan berkah
Zawiya Tijani tidak dipandang semata sebagai sebuah bangunan. Ia dipahami sebagai ruang zikir, doa, pengajaran, jamuan, disiplin, dan pertemuan ruhani. Dalam syair-syair Sidi Guennūn, zawiya itu seakan berbicara dengan suaranya sendiri.
Dalam satu syair yang ditulis seolah-olah atas nama zawiya Tijani agung di Fez, ia berkata:
Seandainya bukan karena Abu al-Abbas,aku takkan pernah mengecap kehormatan atau anugerah yang bercahaya.
Seandainya bukan karena Abu al-Abbas,aku akan seperti reruntuhan, atau salah satu di antara bayang-bayang.
Ini adalah citra yang luar biasa. Keagungan zawiya itu berasal dari keterhubungannya dengan Sang Syekh. Tanpa beliau, ia hanyalah cangkang kosong; melalui beliau, ia menjadi tempat suci yang hidup.
Dalam syair lain, zawiya itu berkata:
Akulah yang namanya telah melintas ke Timur dan Barat,diagungkan di seluruh lembaran.
Akulah putri seorang tuan yang mulia lagi dermawan—maksudku al-Tijani, tempat segala kasih sayang dan cinta.
Dengan demikian, zawiya digambarkan sebagai anak Sang Syekh, yang membawa keharuman beliau, misi beliau, dan cahaya beliau. Bahasa personifikasi ini menunjukkan betapa dalamnya imajinasi Tijani mengaitkan arsitektur sakral dengan kehadiran ruhani.
Pujian bagi Wird Tijani
Wird Tijani menempati tempat yang sentral dalam kehidupan sehari-hari seorang murid. Ia tidak dipandang sebagai amalan sampingan, melainkan sebagai sumber disiplin, ketenteraman, zikir, dan pembukaan Ilahi. Sidi Guennūn mendedikasikan bait-bait yang jelas untuk memuji wird itu sendiri.
Dalam satu syair, ia menulis:
Sungguh, awrad adalah kehormatan dan kenikmatan,dan dari wird agung kita, panen itu telah masak.
Ini adalah metafora yang kuat. Wird itu bagaikan ladang yang buahnya masak melalui amalan yang teratur.
Ia melanjutkan:
Betapa mulianya sebuah wird yang perintahnya selaras dengan Syariat,tak tersentuh cacat, berlebih-lebihan, atau pertentangan.
Betapa mulianya sebuah wird yang penuh kebajikan,tiada cacat di dalamnya, tiada kekurangan, tiada retak.
Lalu:
Melalui wird-nya hati menjadi sehat dan lapang;di dalam lingkarannya, akar dan dahan dihimpunkan.
Melalui wird-nya urusan-urusan kami diringankan;oleh wird Imam Ahmad, kain yang terkoyak itu dijahit kembali.
Bahasa ini mengaitkan wird dengan kesembuhan, kelapangan batin, dan pemulihan. Citra menjahit kain yang robek menyiratkan bahwa wird memperbaiki apa yang rusak dalam kehidupan sang pencari.
Salah satu bait yang paling kuat berkata:
Melalui wird-nya datanglah kesalehan, takwa, kebaikan, dan petunjuk,dan Syariat itu sendiri menegaskannya.
Itulah klaim inti Tijani: wird itu dicintai bukan karena ia baru, melainkan karena ia berdiri selaras dengan al-Qur’an dan Sunnah.
Wadhifa dalam devosi Tijani
Wadhifa adalah salah satu wirid berjamaah yang tak tergantikan dalam tarekat Tijani, dan Sidi Guennūn memujinya dengan ungkapan yang sangat penuh kasih. Ia membicarakannya hampir seperti seorang wanita bangsawan: indah, anggun, dan berbuah secara ruhani.
Ia menulis:
Pikiranku disibukkan oleh seorang yang mulia dan suci,elok dalam keindahan, halus dan ringan.
Seandainya ia sudi tampak di hadapanku sekali saja,sebab ia, menurut fitrahnya, penuh kasih dan akrab.
Lalu ia menjelaskan:
Dialah yang merdeka lagi mulia, yang dimuliakan di antara manusia—sungguh, dialah Wadhifa.
Personifikasi puitis ini disengaja. Ia mengajarkan kecintaan kepada amalan itu sendiri. Wadhifa tidak diperlakukan sebagai beban, melainkan sebagai perbuatan zikir yang dicintai.
Ia melanjutkan:
Seandainya engkau melihat keutamaan dan kemuliaan yang menjadi miliknya,pemberian-pemberian yang luhur dan karunia-karunia yang agung;
seandainya engkau melihat keuntungan, pertambahan, dan rahmat yang menaungi di dalamnya,serta kebajikan besar yang ia bawa di setiap tempat...
Dan satu bait yang terutama penting berkata:
Tepat di dalamnya, Nabi Terpilih hadir,bersama para Sahabat yang mulia.
Baris ini mencerminkan penghormatan yang amat besar yang diberikan kepada Wadhifa dalam spiritualitas Tijani. Ia tidak dipandang sebagai bacaan biasa, melainkan sebagai amalan yang dikelilingi kehadiran sakral dan kedekatan kenabian.
Jawharat al-Kamal: permata pujian
Di antara teks-teks devosi Tijani, sedikit yang dipuji dengan kekaguman sebesar Salat Jawharat al-Kamal. Dalam syair Sidi Guennūn, ia diperlakukan sebagai permata kesempurnaan ruhani, doa yang penuh rahasia, pembukaan, dan keindahan.
Ia menulis:
Dengan demikian menjadi jelas bahwa ia, yang dianugerahi sifat-sifat mulia,adalah salat yang penuh karunia: Jawharat al-Kamal.
Sebuah salat laksana mata air yang mengalir,manis dan menyegarkan seperti air yang jernih.
Ia melanjutkan:
Sebuah salat yang penuh rahasia,dicari sebagai wasilah bagi anugerah dan pencapaian.
Sebuah salat yang menghimpun seluruh makna di dalamnya,dan karenanya menjadi salah satu tanda keagungan.
Dan kemudian datang salah satu bagian yang paling mencolok:Jika engkau menginginkan anugerah-anugerah ruhani, maka berpegangteguhlah padanya;berpeganglah padanya dengan kukuh.
Tetaplah tekun dalam mengingatnya tanpa terputus,tanpa jeda sepanjang malam-malam yang berlalu.
Engkau akan menyaksikan panji penyaksian—ini benar—secara terang, dalam keadaan terjaga, tanpa kekacauan.
Engkau sungguh akan menyaksikan Sang Pemandu, Rasul Allah,Imam bagi para ahli petunjuk, sebaik-baik manusia.
Bait-bait ini merangkum mengapa Jawharat al-Kamal begitu dicintai di kalangan Tijanis. Ia dipuji bukan hanya karena kefasihannya, melainkan karena daya yang dirasakan darinya: kehadiran, penyaksian, dan pendalaman cinta kepada Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya.
Sidi Guennūn kemudian menutup:
Sahabatnya adalah Abu al-‘Abbas,yang tiada dapat ditemukan bandingannya dalam ranah ini.
Maka, bahkan pujian terhadap Jawharat al-Kamal pun kembali kepada pujian terhadap Sang Syekh, sebab dalam jalan Tijani, wirid dan orang yang menurunkannya tidak terpisahkan dalam ingatan devosional.
Pujian atas para sahabat dan murid Sang Syekh
Tradisi Tijani juga memuliakan para sahabat, murid, dan pewaris ruhani Syekh al-Tijani. Dalam bahasa sang penyair, cinta kepada Sang Syekh dengan sendirinya meluas menjadi cinta kepada para pengikutnya, karena merekalah yang memanggul jalannya, menjaga ajarannya, dan menurunkan adabnya.
Ia menulis:
Wahai para murid mulia Sang Syekh, kalian adalah hasrat hatiku;melalui kalian datang pembelaanku, dan melalui kalian pula perolehanku yang ruhani.
Murid-murid Abu al-‘Abbas Ahmad, tuan kami—al-Tijani, sang ‘arif dan Quthb, keturunan martabat yang mulia.
Lalu ia berkata:
Kedekatan kalian denganku amatlah besar,dan jauhnya kalian menyakitkan, sulit, dan berat.
Kalian adalah harta besar kami dan perolehan yang kaya,keuntungan yang agung yang datang dari Hadirat penganugerahan Ilahi.
Dan lebih lanjut:
Petunjuk kalian menerangi jalan di setiap negeribagi orang yang telah kembali, mencari penyatuan dan kedekatan.
Bahasa ini menunjukkan bahwa pujian Tijani tidaklah terisolasi di puncak semata. Ia menjalar melalui seluruh mata-rantai hidup: persahabatan, pengajaran, dan pelayanan ruhani.
Cinta kepada Sang Syekh, jalan, dan amalan-amalannya sebagai satu kesatuan
Salah satu hal terpenting yang disingkap oleh syair-syair ini ialah bahwa pengabdian Tijani bersifat terpadu. Cinta kepada Sang Syekh, keterikatan kepada zawiya, pengamalan wird, pembacaan Wadhifa, penghormatan kepada Jawharat al-Kamal, dan pemuliaan para sahabat jalan—semuanya termasuk dalam satu dunia ruhani.
Dalam salah satu qasidah, Sidi Guennūn dengan indah menulis:
Dengan awrad-nya mata kami memperoleh ketenteramandalam meraih harapan, keselamatan, dan kemenangan.
Engkau bagi kami laksana mata air yang melimpah airnya;melalui engkau kami menyingkirkan panas kehinaan, kelemahan, dan ketidakmampuan.
Dan di tempat lain:
Cinta kami kepadanya melampauiapa yang dikatakan orang dalam setiap nada naik dan turun.
Kami dapati bersamanya apa yang menyukakan para pemilik pemahaman,maka kami pun condong menuju tamannya yang luhur.
Baris-baris ini merangkum logika devosional jalan Tijani. Sang Syekh dicintai karena ia menuntun kepada Allah. Amalan-amalan dicintai karena ia memelihara dzikir. Zawiya dicintai karena menghimpun para pecinta. Para sahabat dicintai karena mereka memanggul amanah.
Kesimpulan
Pujian yang terdapat dalam syair Tijani bukanlah kelebihan yang sekadar ornamental. Ia adalah jendela menuju suatu budaya ruhani yang hidup, dibangun di atas takzim, syukur, dzikir, dan keterikatan pada jalan Muhammadi. Melalui puisi Profesor Sidi Mohamed Erradi Guennūn, kita melihat bagaimana kaum Tijani memuji:
Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī sebagai pemandu, Quthb, dan sumber cahaya,
zawiya sebagai tempat suaka dzikir dan keberkahan,
wird sebagai jalan penyembuhan, petunjuk, dan pelapangan batin,
Wadhifa sebagai dzikir jama‘i yang dicintai dan mulia,
Jawharat al-Kamal sebagai doa rahasia-rahasia, penyaksian, dan keindahan,
serta para sahabat jalan sebagai pewaris petunjuk dan kemurahan ruhani.
Bait-baitnya menjadikan satu hal sangat jelas: dalam tradisi Tijani kami, pujian adalah perbuatan cinta, dan cinta adalah salah satu bahasa iman yang paling kuat.
++++