21/3/20268 min readFR

Tijan al-Ghawani: Syarah Sidi Ahmed Skiredj yang Belum Selesai atas Jawahir al-Ma‘ani

Skiredj Library of Tijani Studies

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang. Semoga salawat dan salam Allah tercurah atas junjungan kita Muhammad, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.

Di antara karya-karya penting yang terkait dengan warisan keilmuan Sidi Ahmed ibn al-Hajj al-‘Ayyashi Skiredj al-Khazraji al-Ansari ialah sebuah buku yang bernilai khusus berjudul Tijan al-Ghawani fi Sharh Jawahir al-Ma‘ani. Walaupun karya ini tidak pernah diselesaikan dalam bentuk utuh sebagaimana yang dibayangkan pengarangnya, ia tetap menjadi salah satu teks paling berharga bagi siapa pun yang menaruh minat pada sejarah intelektual Tijaniyya, sentralitas Jawahir al-Ma‘ani, dan metode keilmuan khas Sidi Ahmed Skiredj.

Buku ini bukan semata proyek syarah yang ditinggalkan dalam keadaan belum rampung. Ia adalah jendela menuju hubungan Skiredj yang mendalam dengan Jawahir al-Ma‘ani, penghormatannya kepada pengarangnya Sidi al-Hajj ‘Ali Harazim Barrada, serta upayanya yang lebih luas untuk menjaga dan menjelaskan teks-teks dasar dari jalan Ahmadi-Tijani.

Apa itu Tijan al-Ghawani?

Tijan al-Ghawani fi Sharh Jawahir al-Ma‘ani dapat diterjemahkan sebagai “Mahkota-Mahkota Anugerah: Sebuah Syarah atas Jawahir al-Ma‘ani.” Judul itu ditulis oleh Sidi Ahmed Skiredj sendiri, dengan tangannya yang anggun, pada halaman pembuka manuskrip, dan ia mempertahankan judul ini tanpa perubahan hingga akhir hayatnya.

Karya ini dirancang sebagai syarah atas Jawahir al-Ma‘ani, salah satu kitab rujukan terpenting dalam tradisi Tijani. Karena Sidi Ahmed Skiredj dikenal karena kebiasaan membaca, mengajar, dan merenungkan Jawahir al-Ma‘ani secara terus-menerus, tidak mengherankan bila pada akhirnya ia bertekad menyusun sebuah karya khusus seputarnya.

Mengapa buku ini penting

Pentingnya Tijan al-Ghawani terletak pada beberapa hal sekaligus.XXXXX

Pertama, hal itu mencerminkan pengabdian seumur hidup Sidi Ahmed Skiredj kepada Jawahir al-Ma‘ani. Ia tidak mendekati teks itu sebagai pembaca sambil lalu. Ia mempelajarinya, mengajarkannya, merenungkannya, dan menghabiskan masa-masa panjang untuk mengekstraksi khazanah-khazanah halus dari makna-maknanya.

Kedua, ia mempertahankan sebuah kajian biografis yang panjang tentang Sidi al-Hajj ‘Ali Harazim Barrada, pengarang Jawahir al-Ma‘ani. Bagian itu saja sudah memberikan nilai besar bagi kitab ini.

Ketiga, ia menawarkan wawasan tentang metodologi yang dimaksud Skiredj untuk ditempuh dalam menjelaskan teks-teks dasar Tijani: bukan kerumitan yang berlebihan, melainkan penjernihan yang cermat, komentar singkat bila diperlukan, dan penyederhanaan bagian-bagian yang sulit bagi para pembaca yang serius.

Keempat, bahkan dalam bentuk yang belum selesai, ia memuat informasi langka yang tidak mudah ditemukan di tempat lain.

Keterlibatan mendalam Sidi Ahmed Skiredj dengan Jawahir al-Ma‘ani

Minat Sidi Ahmed Skiredj terhadap Jawahir al-Ma‘ani sangat kuat dan berkesinambungan. Ia dikenal karena pembacaan kitab itu secara rutin, mengajarkannya kepada orang lain, dan merenungkan isinya dengan mendalam. Ia mencurahkan rentang-rentang waktu yang panjang untuk menyingkap apa yang ia pandang sebagai makna-makna yang lebih halus dan subtilitas-subtilitas yang berharga.

Dalam salah satu suratnya kepada seorang murid, ia menyatakan bahwa ia mengerahkan segenap upayanya dalam menghimpun dan menyusun kitab ini. Ia menulis—dalam makna—bahwa jika ia berhasil, maka keberhasilan itu semata-mata dari Allah, dan jika ia tidak sampai, ia memohon ampunan Allah, seraya menegaskan bahwa ia tidak akan menyisakan sedikit pun daya upaya dalam penelitian dan penyusunan. Pernyataan ini menampakkan sekaligus kesungguhannya dan kerendahan hatinya.

Sebuah karya yang belum selesai namun sangat bernilai

Sudah maklum bahwa Tijan al-Ghawani termasuk dalam kategori karya-karya Skiredj yang tidak mencapai bentuk final yang sepenuhnya tuntas. Ia tidak menyelesaikan syarah luas yang telah ia rencanakan. Namun apa yang sempat ia selesaikan memiliki nilai yang besar.

Bagian pokok yang tersisa adalah sebuah paparan biografis yang luas dan kaya tentang Sidi al-Hajj ‘Ali Harazim Barrada, sang periwayat agung Jawahir al-Ma‘ani. Skiredj menutup bagian ini dengan mengutip teks-teks dari sebagian ijazah Harazim, sehingga kitab tersebut menjadi sangat bernilai dari sudut pandang informatif dan dokumenter.

Inilah sebabnya bagian yang tersisa itu kerap digambarkan sebagai memadai, memuaskan, dan sangat bermanfaat dengan sendirinya.

Metodologi yang dimaksud Skiredj untuk diikuti

Sebelumnya, para peneliti telah menemukan sebuah surat yang di dalamnya Sidi Ahmed Skiredj menjelaskan metode yang ia maksudkan untuk digunakan dalam menulis kitab ini. Ia menegaskan bahwa pendekatannya akan berfokus pada:

memberi komentar atas kata-kata tertentu yang memerlukan penjelasan

menjelaskan ungkapan-ungkapan yang mungkin dirasakan sulit oleh para pembaca

menyederhanakan sebagian formulasi dan konsep

membuat bagian-bagian yang samar menjadi lebih mudah dijangkau

Hal ini penting karena menunjukkan bahwa Tijan al-Ghawani tidak pernah dimaksudkan sebagai karya yang semata-mata ornamental atau terlalu teknis. Ia dimaksudkan untuk melayani para pembaca dengan menerangi tempat-tempat kunci dalam Jawahir al-Ma‘ani tanpa membebani mereka secara tidak perlu.

Kapan ia mulai menulisnya?

Sidi Ahmed Skiredj tidak menyatakan secara eksplisit tanggal penyelesaian kitab ini, karena ia memang tidak pernah menyelesaikannya. Namun bukti dokumenter yang terpelihara dalam salah satu buku catatannya menyingkap dua fakta penting.

Ia menjelaskan bahwa gagasan menulis kitab ini telah menyertainya sejak masa-masa studinya, yang menunjukkan bahwa proyek itu telah lama hidup dalam benaknya. Ia juga menyatakan bahwa ia mulai menuliskannya pada bulan Safar 1343 H.

Penanggalan ini penting karena membantu menempatkan karya tersebut dalam kronologi yang lebih luas dari produksi ilmiahnya pada masa kematangannya.

Judul kedua yang diusulkan oleh Sultan Moulay Abd al-Hafid

Ada pula satu rincian tekstual yang menarik terkait dengan sebuah naskah salinan. Skiredj pernah mengirim sebuah salinan, yang ditulis oleh muridnya dan juru tulis tepercaya al-Hajj Muhammad Zarwal, kepada sahabat sekaligus muridnya, mantan Sultan Moulay Abd al-Hafid, yang ketika itu tinggal di Paris.

Moulay Abd al-Hafid mengusulkan sebuah judul alternatif dan menuliskannya pada awal salinan tersebut. Judul alternatif itu adalah:

Tijan al-Ma‘ani fi Jam‘ ma fi al-Jami‘ wa Jawahir al-Ma‘ani mimma fada min Bahr al-Khatm al-Tijani saqana Allah min faydihi bi a‘zam al-awani

Ini menunjukkan penghargaan tinggi terhadap karya tersebut, namun tetap jelas bahwa judul yang dipertahankan oleh Skiredj sendiri sepanjang hidupnya adalah judul asli, Tijan al-Ghawani fi Sharh Jawahir al-Ma‘ani.

Apa yang dikandung kitab itu?

Isi yang tersisa dimulai dengan sebuah kajian panjang tentang Sidi al-Hajj ‘Ali Harazim Barrada al-Fasi, pengarang Jawahir al-Ma‘ani yang masyhur. Dalam paparan ini, Skiredj membahas:

tahap-tahap kehidupan Harazim

pertemuannya dengan Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī

kemuridannya di bawah bimbingan beliau

kuatnya cintanya kepada sang Syekh

ijazah-ijazah yang ia terima dalam jalan Tijani

ijazah yang terkait dengan Jawahir al-Ma‘ani

kedudukannya dan kedekatannya dengan sang Syekh

Skiredj juga membahas sebagian tulisan Harazim sendiri.

1. Al-Irshadat al-Rabbaniyya

Ia menyebut syarah Harazim atas Hamziyya karya al-Busiri, yang berjudul:

Al-Irshadat al-Rabbaniyya bi al-Futuhat al-Ilahiyya min Fayd al-Hadra al-Ahmadiyya al-Tijaniyya

Skiredj mencatat bahwa banyak bagian dari karya ini berasal dari dikte Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī sendiri.

2. Risalat al-Fadl wa al-Imtinan

Ia juga membahas risalah Harazim yang dikenal dengan nama:

Risalat al-Fadl wa al-Imtinan ila Kafati al-Ahbab wa al-Ikhwan

Harazim menyelesaikan karya ini pada tahun 1208 H, yakni jauh sebelum ia mulai menyusun Jawahir al-Ma‘ani. Skiredj kemudian mereproduksi risalah ini secara penuh dalam jilid keempat karya beliau sendiri, Raf‘ al-Niqab.

3. Al-Kanz al-Mutalsam

Skiredj kemudian beralih kepada karya Harazim yang menakjubkan:

Al-Kanz al-Mutalsam fi Haqiqat Sirr al-Ism al-A‘zam

Ia menggambarkannya sebagai sebuah kitab yang mengherankan dan luar biasa. Dalam bentuk syair, ia mengatakan—dalam makna—bahwa pendengarnya nyaris menjadi bingung karena takjub, dan bahwa kebingungan seperti itu bukanlah sesuatu yang mengherankan mengingat kebenaran-kebenaran langka yang dikandungnya.

4. Buku catatan tersembunyi dan tulisan-tulisan lainnya

Ia juga menyebut al-Kunnash al-Maktum, sebelum beralih kepada pembahasan Jawahir al-Ma‘ani itu sendiri dan tuduhan palsu yang dilontarkan oleh sebagian pencela, yang mengklaim bahwa kitab itu telah dipinjam dari karya lain, yakni al-Maqsad al-Ahmad fi al-Ta‘rif bi Ibn ‘Abd Allah Ahmad karya ulama Muhammad ibn ‘Abd al-Salam al-Qadiri.

Skiredj membantah keras klaim ini dengan argumen dan bukti, serta menguraikan persoalan itu secara panjang lebar.

Sebuah kitab yang membuka ke dunia Harazim Barrada

Salah satu keutamaan terbesar Tijan al-Ghawani adalah bahwa ia memberi pembaca akses kepada sebuah potret yang kaya tentang Sidi al-Hajj ‘Ali Harazim Barrada. Ia bukan sekadar kitab tentang sebuah teks. Ia juga

sebuah kitab tentang lelaki yang meriwayatkan teks itu dan tentang hubungannya dengan Sang Quthb yang tersembunyi dan Khatm kewalian Muhammadi, Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī.XXXXX

Dalam pengertian itu, Tijan al-Ghawani berfungsi sekaligus sebagai:

sebuah karya tentang Jawahir al-Ma‘ani

dan sebuah sumber utama tentang Harazim sendiri

Bagi banyak pembaca, hal itu saja sudah menjadikannya tak tergantikan.

Mengapa Skiredj secara unik cocok untuk menulisnya

Sidi Ahmed Skiredj memiliki kualifikasi yang sangat memadai untuk proyek ini. Keluasan ilmunya, bakat kesusastraannya, keterlibatannya yang panjang dalam tradisi tekstual Tijani, serta akses langsungnya kepada manuskrip, surat-surat, buku catatan, dan bahan-bahan keilmuan warisan, memberinya posisi yang sulit ditandingi oleh kebanyakan orang.

Ia tidak menulis dari kejauhan. Ia menulis dari dalam suatu warisan keilmuan yang hidup, dengan kesungguhan besar dan rasa tanggung jawab yang mendalam.

Itulah sebabnya bahkan sebuah karya yang belum selesai dari tangannya pun memikul bobot yang tidak biasa.

Buku ini telah disunting, dicetak, dan diterbitkan

Karya ini tidak tetap tersembunyi. Ia telah disunting, dicetak, dan diterbitkan lebih dari delapan tahun yang lalu, dan kini tersedia bagi para ikhwan dan pembaca yang berminat—segala puji bagi Allah.

Penerbitan itu penting karena telah membuat dapat diakses sebuah teks yang menerangi baik Jawahir al-Ma‘ani maupun salah seorang pelayan ilmiah terbesar bagi warisan Tijani.

Renungan penutup

Tijan al-Ghawani adalah sebuah kitab yang berharga bukan karena ia lengkap, melainkan karena apa yang dipeliharanya. Ia menyingkap kedalaman pengabdian Sidi Ahmed Skiredj kepada Jawahir al-Ma‘ani, penghormatannya yang tinggi kepada Sidi al-Hajj ‘Ali Harazim Barrada, serta metodenya dalam menjelaskan perkara-perkara yang sulit bagi para pembaca yang serius.

Siapa pun yang berminat pada:

Jawahir al-Ma‘ani

Sidi al-Hajj ‘Ali Harazim Barrada

Sidi Ahmed Skiredj

kesarjanaan tekstual Tijani

transmisi warisan Ahmadi-Tijani

akan mendapati dalam kitab ini sebuah sumber manfaat yang nyata.

Sekalipun belum selesai, ia tetap merupakan mahkota di antara karya-karya yang dipersembahkan bagi warisan tekstual jalan Tijani.

+++

Terjemahan ini mungkin mengandung ketidakakuratan. Versi rujukan bahasa Inggris dari artikel ini tersedia dengan judul Tijan al-Ghawani: Sidi Ahmed Skiredj’s Unfinished Commentary on Jawahir al-Ma‘ani