Skiredj Library of Tijani Studies
Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Semoga shalawat dan salam Allah tercurah kepada junjungan kita Muhammad, keluarga beliau, dan para sahabat beliau.
Di antara karya-karya yang mengagumkan dari ulama Tijani yang terkemuka, qadhi, sastrawan, dan ‘arif Sidi Ahmed ibn al-Hajj al-‘Ayyashi Skiredj al-Khazraji al-Ansari terdapat sebuah kitab perjalanan yang amat kaya dan berjangkauan luar biasa: Taj al-Ru’us bi al-Tafassuh fi Nawahi Sus. Ia lebih dari sekadar kisah perjalanan. Ia sekaligus merupakan catatan sejarah, komposisi sastra, survei geografis, buku catatan ilmiah, komentar sosial, dan potret Maroko selatan pada awal abad kedua puluh.
Bagi para pembaca yang tertarik pada sejarah intelektual Maroko, keilmuan Tijani, kebudayaan Sous, serta warisan sastra Sidi Ahmed Skiredj, buku ini layak mendapat perhatian khusus.
Apakah Taj al-Ru’us?
Judul yang dengannya karya ini dikenal dalam cetakan adalah Taj al-Ru’us bi al-Tafassuh fi Nawahi Sus, yang dapat diungkapkan dalam bahasa Inggris sebagai “The Crown of Heads: A Broad Excursion Through the Regions of Sous.” Ia dicetak di New Press di Fez pada masa hidup sang pengarang sendiri.
Sidi Ahmed Skiredj telah menyebut karya itu sebelumnya dalam kitabnya al-Ightibat, di mana ia merujuk kepadanya dengan judul yang sedikit berbeda, yang bermakna “Mahkota Kepala-Kepala dalam Perjalanan Melintasi Wilayah-Wilayah Sous.” Ini menunjukkan bahwa karya tersebut sudah termasuk dalam katalog pribadi tulisan-tulisannya sebelum bentuk cetaknya yang terakhir.
Menariknya, ulama terkemuka sekaligus sastrawan Sidi al-Tahir ibn Muhammad al-Tamnarti al-Ifrani lebih menyukai judul alternatif baginya: Tazyin al-Turus bi al-Tafassuh fi Nawahi Sus. Sebuah salinan buku yang pernah dimilikinya memuat judul yang diusulkannya ini, tertulis dengan tangannya sendiri pada sampul. Rincian itu saja menunjukkan betapa tinggi karya tersebut dihargai di kalangan terpelajar.
Mengapa buku ini penting
Buku ini penting karena menghimpun beberapa dunia dalam satu susunan. Ia adalah catatan perjalanan, tetapi bukan sekadar daftar rute. Ia merupakan dokumen ilmiah yang ditulis oleh seorang ulama besar yang bergerak melewati kota-kota, desa-desa, sekolah-sekolah, zawiyah-zawiyah, ribath-ribath, perpustakaan-perpustakaan, pasar-pasar, suku-suku, lembah-lembah, dan kawasan pegunungan dengan pandangan seorang faqih, ingatan seorang sejarawan, dan bahasa seorang penyair.
Ia juga termasuk dalam periode akhir kehidupan Sidi Ahmed Skiredj. Pada saat ia menyusun perjalanan ini, ia telah menjadi seorang ulama matang dengan jejaring intelektual yang luas dan rekam jejak panjang dalam penulisan. Itu memberi karya ini bobot yang istimewa. Ia merupakan kesaksian seorang guru yang berpengalaman, memandang tanah, manusia, keilmuan, agama, dan masyarakat dengan mata yang terlatih secara mendalam.
Latar belakang perjalanan
Gagasan untuk mengunjungi wilayah Sous tidak muncul secara mendadak. Ia telah terbentuk selama bertahun-tahun. Sekitar 1345 H / 1926 M, Sidi Ahmed Skiredj menyambut di rumahnya di El Jadida sekelompok ulama terkemuka dari wilayah Sous. Di antara mereka terdapat ulama dan sastrawan masyhur Sidi al-Tahir ibn Muhammad al-Tamnarti al-Ifrani al-Susi, yang sejak lama menikmati persahabatan yang kuat dengannya.
Tokoh penting lain dalam kisah ini adalah Sidi Ahmad ibn ‘Ali al-Kashti al-Tinani, yang memelihara korespondensi yang akrab dan penuh takzim dengan Skiredj. Dalam surat-suratnya, ia menyapanya dengan gelar-gelar seperti syekhkku, ayahku, penopangku, tiangku. Surat-surat itu berulang kali mengundang Skiredj untuk mengunjungi Sous, meninjau zawiyah-zawiyahnya, sekolah-sekolahnya, perpustakaan-perpustakaannya, ribath-ribathnya, serta penanda-penanda intelektualnya, dan bertemu para ulama serta para pelajarnya.
Salah satu undangan terbaru semacam itu, bertanggal Rabi‘ al-Awwal 1355 H / 1936 M, menunjukkan bahwa para ulama dan pelajar dari madrasah ilmiah Alma sangat menantikan kunjungannya. Karena itu, perjalanan yang menjadi Taj al-Ru’us bukanlah sesuatu yang kebetulan. Ia adalah jawaban atas hasrat ilmiah yang telah lama ada dari dunia keilmuan Sous.
Sebuah perjalanan darat dengan mobil dalam kondisi pra-modernSalah satu ciri yang mencolok dari riḥlah ini ialah bahwa ia ditempuh dengan mobil, bukan dengan sarana perjalanan tradisional yang lebih lazim pada rihlah-rihlah Maroko terdahulu. Skiredj telah membeli kendaraan ini bertahun-tahun sebelumnya, pada masa ia menjabat sebagai hakim di El Jadida. Ia bahkan menyebutkan harga belinya dalam salah satu suratnya kepada saudaranya, M’hammed Skiredj.
Hal ini penting karena menempatkan karya tersebut pada sebuah persimpangan sejarah yang menarik: sangat tradisional dalam keilmuan dan gaya, namun jelas modern dalam metode perjalanannya. Meski demikian, jalan-jalannya sama sekali tidak mudah. Total jarak yang ditempuh mobil itu melampaui 2.500 kilometer, angka yang mengesankan pada zamannya, terlebih mengingat kondisi jalan yang bercampur—sebagian beraspal dan banyak yang tidak—beserta keterbatasan kendaraan dan keadaan perjalanan.
Siapa yang menemaninya?
Tiga orang menemani Sidi Ahmed Skiredj dalam perjalanan ini:
Sidi Muhammad ibn ‘Ali al-Tazrawalti al-Susi, muqaddam zawiyah Tijaniyah di Bab al-Kabir, Casablanca
Sidi Muhammad al-Jaddani, sang pengemudi
Sidi ‘Abd al-Kabir al-Tukkani
Kehadiran mereka mencerminkan dimensi keilmuan, devosional, dan praktis dari perjalanan tersebut.
Bagaimana buku itu ditulis
Begitu perjalanan dimulai, Skiredj segera mulai mencatat peristiwa-peristiwanya dan kesan-kesannya. Ia membawa lembaran-lembaran kertas lepas khusus untuk tujuan itu. Lembar-lembar manuskrip yang tersimpan di perpustakaan Skiredj menunjukkan bahwa ia menulis dengan cepat, spontan, dan kerap tanpa tata letak formal. Ia menulis di mana pun ada ruang: di bagian atas halaman, di pinggir, di sisi, atau di mana saja tangan menemukan tempat.
Ini bukan sesuatu yang khas bagi Taj al-Ru’us. Itulah metode yang sama yang ia gunakan dalam perjalanan-perjalanan sebelumnya, seperti tulisan perjalanannya tentang Zidani, Wahrani, dan Hijazi. Namun sekalipun catatan-catatan pertama dibuat dengan cepat dan informal, karya finalnya kemudian direvisi, diatur, dan dipoles hingga mencapai bentuk halus yang dikenal sekarang.
Pada tahap kehidupan manakah ini ditulis?
Ketika Skiredj menempuh perjalanan ini, usianya enam puluh satu tahun. Ia termasuk dalam periode penutup kehidupannya dan merupakan salah satu perjalanan besarnya yang terakhir, selain perjalanannya yang singkat kemudian ke Aljazair. Ia hanya hidup sekitar delapan tahun lagi setelah perjalanan ini, dan wafat pada 1363 H / 1944 M.
Pada waktu itu, ia tengah bertugas sebagai hakim Settat dan daerah sekitarnya. Tahap matang dalam hidupnya ini menambah nilai buku tersebut. Ia adalah karya seorang lelaki pada puncak pengalaman, memadukan hukum, sastra, spiritualitas, dan pengamatan.
Sebuah puisi 1.100 bait
Ciri lain yang menonjol dari Taj al-Ru’us adalah bentuknya. Karya ini terdiri dari sekitar 1.100 bait, digubah dalam wazan Kamil. Ini bukan penggubahan syair yang serampangan. Ia adalah catatan perjalanan puitik yang tersusun cermat, digubah dengan ketelitian dan kendali yang nyata.
Itu saja sudah membuat karya ini menonjol. Ia merupakan capaian sastra yang serius, bukan sekadar buku harian berima. Skala, koherensi, dan kepadatan komposisinya mencerminkan penguasaan Skiredj atas bahasa dan bentuk.
Cakupan perjalanan
Skiredj dengan sengaja membentuk rute untuk memaksimalkan jangkauannya. Pada perjalanan pergi, ia menempuh kota-kota pesisir, sedangkan rute pulangnya melewati Marrakesh dan wilayah Hawz. Ini memungkinkannya memperluas perjalanan dan mengunjungi lebih banyak daerah, kabilah, ulama, dan sahabat.
Sepanjang jalan, ia menulis tentang kota-kota seperti:
Fez
Casablanca
El Jadida
Jorf Lasfar
Safi
Essaouira
Tamanar
Agadir
Inzegane
Tiznit
Taroudant
Marrakesh
Ia juga menggambarkan banyak desa, lembah, gunung, jalan, pasar, dan zona kabilah yang dijumpai selama perjalanan.
Dimensi geografis
Salah satu aspek terkuat buku ini adalah muatan geografisnya. Sejak tahap-tahap awal perjalanan, Skiredj menaruh perhatian dekat pada watak fisik dan sipil tempat-tempat.
Uraiannya tentang Casablanca sangat menonjol. Ia mendedikasikan lebih dari dua halaman untuk menggambarkan bangunan-bangunannya yang besar, pertumbuhan demografis yang cepat, perluasan perdagangan dan industri, serta pelabuhannya yang utama. Ini bernilai karena menangkap Casablanca pada masa transformasi, dilihat melalui mata seorang pengamat Maroko yang berilmu.
Sepanjang karya, ia menggambarkan wilayah-wilayah dengan rincian yang konkret: rute yang ditempuh, lanskap yang dilintasi, tempat-tempat yang dikunjungi, dan ciri-ciri penting tiap daerah.
Dimensi historis
Buku ini juga memiliki nilai historis yang tak terbantahkan. Skiredj tidak sekadar melintas di tempat-tempat; ia menempatkannya dalam konteks. Ia mengingat signifikansinya, mencatat masa lalunya, menyebut para ulama dan tokoh-tokohnya, serta merekam posisinya dalam kehidupan Maroko yang lebih luas.
Hal ini menjadikan karya tersebut berguna bukan hanya sebagai sastra, melainkan juga sebagai sumber bagi sejarah intelektual dan sosial Maroko, khususnya Maroko bagian selatan.
Dimensi keilmuan
Barangkali poros sentral buku ini adalah muatan keilmuannya. Tujuan sejati Skiredj bukanlah wisata dalam pengertian biasa. Ia ingin mengunjungi pusat-pusat pengetahuan, bertemu para ulama, meninjau perpustakaan-perpustakaan, dan menyambung kembali jaringan-jaringan keilmuan wilayah Sous.
Sebagaimana dalam banyak tulisannya, ia peka terhadap tingkatan dan biografi orang-orang yang ia temui. Ia memasukkan catatan singkat dan panjang tentang para ulama, sastrawan, bangsawan, tokoh-tokoh saleh, pemimpin, dan pejabat. Secara keseluruhan, ia menyebut lebih dari 140 orang, sebagian ditemui di Fez dan sebagian lain ditemui selama perjalanan itu sendiri.
Bahan biografis ini memberi karya tersebut nilai dokumenter yang luar biasa.
Dimensi sosial
Skiredj juga mengamati kehidupan sosial tempat-tempat yang ia kunjungi. Ia mencatat adat, kebiasaan, perilaku publik, dan perubahan-perubahan yang tampak dalam masyarakat. Ini memberi karya tersebut tekstur manusiawi yang melampaui rute perjalanan dan perjumpaan keilmuan.
Ia memperhatikan apa yang dikenakan orang, bagaimana mereka bertingkah, dan kebiasaan-kebiasaan baru apa yang sedang menyebar. Pengamatannya memungkinkan pembaca melihat Maroko yang sedang berada dalam masa peralihan.
Kecintaannya kepada Fez
Sebagaimana dalam banyak tulisannya, Skiredj memulai dengan memuji kampung halamannya yang ia cintai, Fez. Ia sangat terikat pada kota itu dan kerap menggunakan setiap kesempatan yang sesuai untuk merayakan keutamaannya, kedahuluannya, dan budaya keilmuannya.
Dalam salah satu baris perjalanan yang paling berkesan, ia berkata secara makna:
“Fez—apa yang dapat membuatmu mengerti apa itu Fez? Ia memiliki keistimewaan atas kota-kota di semua negeri. Ilmu memancar dari dada penduduknya sebagaimana airnya memancar dari dinding-dindingnya.”
Pembukaan ini khas Skiredj. Cintanya kepada Fez sekaligus bersifat intelektual, spiritual, emosional, dan peradaban.
Sebuah peringatan terhadap ekstremisme
Satu ciri buku ini yang sangat relevan ialah bahwa Skiredj tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara menentang ekstremisme dan kekasaran dalam beragama.Ia memandang fanatisme dan sikap keras yang berlebihan sebagai bahaya bagi agama dan masyarakat, dan ia menyerukan agar keduanya dilawan serta dicabut hingga ke akar-akarnya.
Ia menyebutkan sebuah kasus yang melibatkan salah seorang muridnya sendiri, Muhammad ibn al-Hajj Fatha al-Safriwi, yang pernah condong kepada sekelompok pemuda ekstremis di Fez. Menurut Skiredj, gerakan ini mengaku hendak mereformasi agama, menentang sebagian adat sosial, serta memerangi tarekat-tarekat Sufi, zawiyah-zawiyah, makam-makam keramat, dan praktik-praktik yang berkaitan dengannya. Pada akhirnya, fenomena itu ditumpas melalui upaya gabungan para ulama, pihak berwenang, dan orang-orang saleh, dan pemuda tersebut kembali kepada penilaian yang lurus berkat nasihat gurunya.
Hal ini menjadikan buku itu lebih daripada sekadar catatan perjalanan. Ia juga merupakan kesaksian atas ketegangan moral dan keagamaan pada zamannya.
Pembahasan fikih di dalam perjalanan
Sebagaimana dapat diduga dari seorang faqih sekelas Skiredj, buku ini memuat pembahasan-pembahasan yang berorientasi فقه. Ia tidak menangguhkan penyelidikan hukum selama bepergian. Bahkan sebaliknya, perjalanan itu menjadi ruang untuk merenung dan memberikan jawaban.
Di antara persoalan yang ia bahas ialah:
implikasi zakat atas minyak argan
pendapat-pendapat hukum terdahulu yang berkaitan dengan kacang tanah dan safflower
sebuah pertanyaan yang diajukan oleh Pasha Taroudant mengenai sodomi
cara yang tepat untuk melantunkan hizb Al-Qur’an yang rutin di sebuah makam keramat ketika dua kelompok terpisah mulai melantunkan pada waktu yang sama
Dalam persoalan terakhir itu, ia menasihatkan bahwa yang lebih layak dan lebih sesuai adab ialah kedua kelompok berkumpul dan melantunkan bersama di satu tempat, dengan menghindari kegaduhan, tumpang-tindih, dan kekacauan.
Bagian-bagian ini menampakkan Skiredj sebagaimana adanya, sebagai seorang ulama yang bekerja dan berpraktik, bukan semata-mata seorang pengelana.
Kritik sosial: kebiasaan baru dan zaman yang berubah
Skiredj juga mengomentari berbagai inovasi sosial dan kebiasaan yang mengusiknya. Ia menyebut praktik-praktik seperti:
mencukur janggut
memakai pakaian asing
terlalu lama duduk di kafe-kafe
merokok
meminum alkohol
Ketika ia kembali ke Fez setelah ketidakhadiran yang panjang, ia terutama terkejut oleh meluasnya kebiasaan mencukur janggut di kalangan anak-anak muda, bahkan para penuntut ilmu, sesuatu yang ia pandang sebagai perkembangan yang serius dan asing di kota itu.
Catatan-catatan ini memberi buku itu, pada beberapa bagian, nada reformis, yang berakar pada kepedulian moral, bukan sekadar deskripsi belaka.
Sebuah perjalanan yang dipuji banyak ulama
Nilai kesusastraan Taj al-Ru’us segera diakui. Menurut bukti yang tersedia, hampir lima puluh syair pujian digubah untuk menyanjung karya tersebut.
Di antara yang paling menonjol ialah karya:
Sidi al-Tahir ibn Muhammad al-Tamnarti al-Ifrani
Sidi Ahmad ibn ‘Ali al-Kashti al-Tinani
al-Faqih al-Hasan ibn ‘Ali ibn ‘Abd Allah al-Ilghi al-Susi
Sambutan yang luas ini menunjukkan bahwa buku itu tidak hanya dihargai sebagai memoar pribadi. Ia diterima sebagai sumbangan besar bagi dunia sastra dan keilmuan.
Mengapa Taj al-Ru’us masih penting hingga hari ini
Buku ini tetap bernilai karena beberapa alasan. Ia menawarkan:
potret yang hidup tentang Sous dan Maroko selatan
wawasan tentang jejaring keulamaan Maroko
sebuah contoh budaya sastra Tijani
catatan rinci tentang kota-kota, rute-rute, suku-suku, dan institusi-institusi
sebuah jendela menuju perdebatan keagamaan, hukum, dan sosial pada zamannya
sebuah peragaan keluasan Sidi Ahmed Skiredj sebagai penyair, faqih, sejarawan, dan pengamat
Sedikit karya yang memadukan seluruh dimensi ini dengan kepadatan semacam itu.
Sebuah buku yang sudah disunting dan diterbitkan
Karya ini tidak dibiarkan terkubur dalam bentuk manuskrip. Ia telah disunting, dicetak, dan diterbitkan, sehingga kembali dapat diakses oleh para pembaca dan peneliti yang tertarik pada warisan Skiredj dan, lebih luas lagi, pada sejarah intelektual Maroko.
Penerbitan itu sendiri merupakan jasa penting bagi dunia keilmuan, karena Taj al-Ru’us adalah salah satu karya yang menolong kita memahami bukan hanya sang pengarang, melainkan seluruh sebuah dunia kesarjanaan.
Renungan akhir
Taj al-Ru’us bi al-Tafassuh fi Nawahi Sus adalah salah satu buku yang memberi ganjaran kepada lebih dari satu jenis pembaca. Sejarawan akan menemukan dokumentasi. Pembaca sastra akan menemukan syair yang terasah dan ungkapan yang hidup. Pelajar tasawuf akan menemukan jejaring pembelajaran dan pengabdian. Peneliti tentang Maroko akan menemukan peta tempat, orang, dan keprihatinan dari satu momen penentu dalam sejarah modern negeri itu.
Di atas segalanya, buku ini mencerminkan kejeniusaan Sidi Ahmed Skiredj sendiri: seorang ulama yang mendahului zamannya, teliti dalam pengamatan, anggun dalam gaya, kaya dalam pengetahuan, dan terhubung secara mendalam dengan negeri-negeri dan manusia yang ia tulis.
Itulah sebabnya perjalanan ini tetap menjadi mahkota di antara tulisan-tulisan rihlahnya.
+++