21/3/20268 min readFR

Pengaruh Syiah dan Thariqah Tijani di Ghana: Peringatan Doktrinal dan Seruan untuk Kejelasan Keilmuan

Skiredj Library of Tijani Studies

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Sayyidina Muhammad, kepada keluarganya, dan kepada para sahabatnya.

Seorang saudara Tijani yang terpandang dari Ghana—seorang ahli fikih, ulama, imam, dan penceramah—mengirimkan sebuah peringatan serius tentang sebuah fenomena baru yang telah muncul di negerinya. Menurut laporannya, sebuah kelompok telah mulai mempromosikan apa yang mereka sebut “Chiti Aye,” yang bermakna “Syiah Tijani.” Jumlah mereka dikatakan telah bertambah secara signifikan, dan pesan mereka telah mulai beredar di sebagian kalangan Tijani di Ghana.

Persoalan ini layak mendapat perhatian yang cermat. Ia menyentuh akidah, transmisi, pendidikan agama, dan pemeliharaan fondasi keilmuan Sunni bagi thariqah Tijani. Ia juga mengangkat pertanyaan yang lebih luas: bagaimana seharusnya komunitas-komunitas Tijani merespons ketika pengaruh-pengaruh ideologis dari luar berusaha menautkan diri pada thariqah, sembari mengubah batas-batas doktrinalnya?

Mengapa Pertanyaan Ini Penting di Ghana

Ghana menempati posisi penting dalam sejarah Tijaniyyah di Afrika Barat. Thariqah ini berakar kuat di sana, dan bagian besar dari populasi Muslim berafiliasi dengannya. Sebagian perkiraan menempatkan jumlah penganut Tijani di Ghana mencapai jutaan. Karena itu, setiap gerakan yang berupaya membentuk ulang atau mengalihkan identitas Tijani di negeri itu bukanlah perkara pinggiran.

Kekhawatiran yang diungkapkan para ulama Ghana adalah bahwa sebagian individu—terutama di kalangan yang kurang terdidik atau tidak memiliki pengetahuan agama—telah mulai membela klaim-klaim teologis yang asing dengan memakai label Tijani.Menurut laporan-laporan ini, hujah-hujah semacam itu dipelajari melalui kunjungan para penceramah dan aktivis Syi‘ah yang memperkenalkannya lewat jaringan-jaringan pengajaran, persuasi, dan penyebaran ideologis.

Dalam konteks ini, persoalannya bukan semata-mata soal label. Ia adalah persoalan akidah, otoritas keagamaan, dan penjagaan identitas Sunni yang diwarisi oleh jalan Tijāni.

Konteks Keagamaan yang Lebih Luas

Kekhawatiran yang muncul di Ghana dipaparkan sebagai bagian dari kecenderungan yang lebih luas. Pengaruh keagamaan Syi‘ah, menurut peringatan-peringatan ini, telah meluas selama bertahun-tahun melalui sekolah-sekolah, institusi-institusi, dan upaya-upaya misioner di sejumlah wilayah Afrika Barat. Ghana disebut sebagai salah satu negara yang terdampak, namun bukan satu-satunya. Kekhawatiran serupa juga telah disuarakan terkait Nigeria, Guinea, Mali, Côte d’Ivoire, Burkina Faso, dan negara-negara lain di mana Tijāniyyah secara historis kuat.

Yang menjadikan kasus Ghana sangat sensitif ialah bahwa jalan Tijāni merupakan salah satu arus Muslim yang paling luas penyebarannya di negeri itu. Karena itu, ia menjadi sasaran yang wajar bagi siapa pun yang mencari pengaruh keagamaan yang luas di tengah masyarakat.

Sebuah Pertanyaan Doktrinal Kunci: Dapatkah Seorang Tijāni Mengadopsi Akidah Non-Sunni?

Persoalan pokoknya ialah apakah seorang murid Tijāni boleh tetap berada dalam jalan tersebut sambil mengadopsi akidah di luar kerangka doktrinal Ahl al-Sunna wa al-Jama‘a.

Dalam pemahaman tradisional Sunni-Tijāni yang tercermin dalam materi yang Anda berikan, jawabannya jelas. Seorang murid boleh mengikuti salah satu mazhab fikih Sunni yang diakui, seperti mazhab Maliki, Syafi‘i, Hanafi, atau Hanbali. Demikian pula, dalam teologi Sunni, kerangka-kerangka doktrinal yang diakui dari tradisi Asy‘ari dan Maturidi termasuk dalam ortodoksi yang diterima.

Namun di luar kerangka-kerangka Sunni yang diakui itu, teks tersebut menampilkan garis-garis merah yang tegas. Dalam pemahaman ini, jalan Tijāni tidak terbuka untuk mengadopsi doktrin-doktrin yang dipandang berada di luar akidah Ahl al-Sunna wa al-Jama‘a.

Posisi yang Diatribusikan kepada Sidi Mohamed Lahjouji

Satu argumen sentral dalam teks diambil dari ulama Sidi Mohamed Lahjouji, yang ditampilkan sebagai salah seorang sejarawan dan otoritas penting dalam jalan Tijāni.

Ia menanggapi pernyataan yang umum bahwa jalan Tijāni boleh diberikan kepada setiap Muslim yang memintanya, baik merdeka maupun budak, taat maupun pendosa, laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Menurut penafsiran Lahjouji, istilah “Muslim” dalam konteks itu tidaklah tanpa batas. Sebaliknya, ia harus dipahami dalam kerangka Islam Sunni yang sahih, bukan mencakup setiap afiliasi sektarian tanpa syarat.

Berdasarkan pembacaan itu, jalan Tijāni, dalam penafsiran ini, tidak untuk ditanamkan kepada mereka yang menganut doktrin-doktrin yang dipandang menyimpang dari ortodoksi Sunni. Argumen di sini bukanlah eksklusi sosial demi dirinya sendiri, melainkan konsistensi doktrinal: Tariqa ini berakar pada suatu akidah tertentu, dan akidah itu tidak dapat didefinisikan ulang dengan mengimpor premis-premis teologis yang bertentangan.

Persoalan tentang Para Sahabat Nabi

Salah satu tema terkuat dalam teks ialah kedudukan para Sahabat Nabi, shalawat dan salam tercurah kepadanya.

Argumennya adalah bahwa Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī menjadikan penghormatan kepada para Sahabat mulia sebagai prinsip doktrinal yang utama. Karena itu, setiap posisi yang melibatkan penyerangan, peremehan, atau penjelek-jelekan terhadap para Sahabat dipaparkan sebagai sesuatu yang pada dasarnya tidak sejalan dengan ruh dan ajaran jalan Tijāni.

Poin ini ditegaskan secara khusus karena teks tersebut mengaitkan doktrin-doktrin Syi‘ah dengan sikap-sikap negatif terhadap sejumlah Sahabat besar, termasuk Sayyidina Abu Bakr al-Siddiq, Sayyidina ‘Umar ibn al-Khattab, Sayyidina ‘Uthman ibn ‘Affan, Sayyida ‘A’isha, dan yang lain—semoga Allah meridai mereka semuanya.

Dalam perspektif Sunni-Tijāni yang tercermin di sini, sikap tidak hormat kepada para Sahabat bukanlah isu sekunder. Ia adalah garis merah. Jalan ini dibangun di atas cinta kepada Nabi, shalawat dan salam tercurah kepadanya, dan itu mencakup penghormatan kepada para Sahabat beliau.

Sebuah Riwayat tentang Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī Sendiri

Teks tersebut juga mengutip sebuah riwayat yang diatribusikan kepada ulama Sidi Ahmed ben Ayachi Skiredj. Dalam riwayat itu, seorang ulama dari Timur Tengah datang ke Fez pada masa hidup Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī dan meminta untuk menerima wird jalan tersebut.

Menurut kisah itu, sang Syekh berpaling darinya dan bahkan tidak menghadap kepadanya. Ketika sahabat beliau, Sidi al-Ghali Abu Talib, kemudian bertanya mengapa, sang Syekh dilaporkan menjelaskan bahwa orang itu meremehkan sebagian dari Sahabat mulia Nabi, shalawat dan salam tercurah kepadanya.

Kemudian sang Syekh dikutip mengatakan kalimat yang maknanya: bagaimana mungkin ia memberikan wird-nya kepada seseorang yang meremehkan salah seorang Sahabat mulia Nabi?

Dalam kerangka artikel tersebut, riwayat ini berfungsi sebagai bukti yang mendasar: persoalannya bukan polemik yang baru muncul, melainkan perkara yang terkait dengan integritas doktrinal jalan itu sebagaimana dipahami oleh para kibar al-‘ulama dan para perawi/penukilnya.

Kasus “Narjissa Anbariya”

Isu lain yang diangkat dalam teks ialah penggunaan doa/wirid yang dikenal sebagai Narjissa Anbariya.

Menurut kekhawatiran yang diungkapkan, sebagian orang telah berusaha menggunakan teks ini sebagai bukti bahwa jalan Tijāni selaras dengan doktrin-doktrin keagamaan Syi‘ah, terutama karena ia memuat bentuk-bentuk

invokasi yang terkait dengan sosok-sosok suci yang dimuliakan. Bahkan ada yang mengklaim bahwa teks itu berasal dari Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī sendiri dan ditransmisikan melalui Sidi Ibrahim Riyahi.

Artikel tersebut menolak klaim itu secara tegas.

Sebaliknya, ia menegaskan bahwa Narjissa Anbariya disusun oleh ulama besar Tunisia, Sidi Ibrahim Riyahi, sebelum beliau masuk ke dalam jalan Tijāni, ketika beliau masih berafiliasi dengan jalan Syadhili. Karena itu, ia tidak boleh diperlakukan sebagai litani Tijāni, maupun sebagai bukti keselarasan doktrinal Tijāni dengan ajaran-ajaran Syi‘ah.

Teks tersebut selanjutnya melaporkan bahwa ketika kumpulan Ahzab wa Awrad disusun, invokasi ini dimasukkan karena kekeliruan. Sebuah catatan pinggir tulisan tangan yang diatribusikan kepada Sidi Ahmed ben Ayachi Skiredj secara eksplisit mengoreksi penyertaan tersebut dan menyatakan bahwa bagian itu bukan berasal dari Syekh Sīdī Aḥmad al-Tijānī dan bukan pula dari para sahabat beliau, melainkan dari Sidi Ibrahim Riyahi sebelum afiliasi beliau dengan Tijāni.

Klarifikasi ini penting untuk menjaga ketelitian tekstual dan mencegah kebingungan doktrinal di kemudian hari.

Seruan bagi Tanggung Jawab Keilmuan

Salah satu ciri paling mencolok dari materi ini ialah ratapan yang diulang-ulang: di manakah para ulama yang bertanggung jawab dari jalan Tijāni, dan rencana konkret apa yang mereka bawa untuk merespons tantangan ini?

Pertanyaan itu tetap sangat relevan. Kebingungan doktrinal jarang menyebar di tempat pendidikan kuat, para ulama hadir, dan komunitas berakar pada pengajaran yang sahih. Ia menyebar di tempat buta huruf keagamaan meluas, di mana bahasa Arab dan keilmuan Islam lemah, dan di mana misinformasi dibiarkan beredar tanpa koreksi yang serius.

Karena itu, respons yang diajukan bukanlah kegaduhan, kemarahan, atau reaksi berbasis slogan. Melainkan: keilmuan. Jalan ini membutuhkan para fuqaha, para pengajar, para sejarawan, dan para pemikirnya. Ia membutuhkan mereka yang mampu menjelaskan akidahnya, memperjelas syarat-syaratnya, membela warisan tekstualnya, dan mendidik para murid dengan kebijaksanaan dan ketegasan.

Apa yang Harus Dipertahankan

Kekhawatiran sentral artikel ini ialah bahwa jalan Tijāni harus tetap seperti yang selalu diklaimnya: sebuah jalan Sunni yang berlandaskan ilmu, disiplin, penghormatan, kejernihan, dan pemurnian spiritual.

Dalam pandangan ini, menjaga jalan tersebut menuntut pemeliharaan beberapa pokok dasar:

kesetiaan kepada Ahl al-Sunna wa al-Jama‘a

penghormatan kepada para Sahabat Nabi

kejernihan tentang apa yang termasuk dalam jalan tersebut dan apa yang bukan

kewaspadaan terhadap doktrin-doktrin impor yang disodorkan dengan label-label yang menyesatkan

dan komitmen yang diperbarui terhadap pendidikan keagamaan yang serius

Karena itu, persoalannya lebih besar daripada satu negara.Ghana merupakan contoh yang mendesak, tetapi kekhawatiran yang lebih luas meluas ke bagian-bagian lain Afrika Barat dan seterusnya.

Kesimpulan

Perdebatan mengenai “Syiah Tijani” di Ghana bukanlah perselisihan internal yang kecil. Ia dipaparkan sebagai tantangan doktrinal yang menyentuh identitas, transmisi, dan integritas thariqah Tijani di salah satu benteng utamanya di Afrika Barat.

Posisi keilmuan tradisional yang tercermin dalam materi Anda adalah bahwa thariqah Tijani berakar pada akidah Sunni dan tidak dapat didefinisikan ulang melalui pengadopsian kerangka teologi non-Sunni. Posisi ini diteguhkan melalui rujukan kepada ulama seperti Sidi Mohamed Lahjouji dan Sidi Ahmed ben Ayachi Skiredj, melalui sentralitas penghormatan kepada para Sahabat, serta melalui penjelasan tekstual terkait karya-karya seperti Narjissa Anbariya.

Karena itu, respons yang tepat bukanlah diam. Melainkan kejelasan, keilmuan, pendidikan, dan bimbingan keagamaan yang terorganisasi. Jika Tijaniyya hendak tetap kuat, maka para ulama dan suara-suara yang bertanggung jawab harus terus mengajarkannya sebagai jalan yang berakidah lurus, bersanad yang lurus, dan berafiliasi yang lurus.

++++

Terjemahan ini mungkin mengandung ketidakakuratan. Versi rujukan bahasa Inggris dari artikel ini tersedia dengan judul Shi‘i Influence and the Tijani Path in Ghana: A Doctrinal Warning and a Call for Scholarly Clarity